Memaksa Dinikahi

Memaksa Dinikahi
Sakit Kepala


__ADS_3

Pagi buta saat Rui terbangun, Yuci sudah tidak ada. Rui menepuk-nepuk ranjang tidur, sambil mengedipkan mata berkali-kali.


"Kenapa kamu tidak dapat menyelesaikan masalah sekretaris Aldo?" tanya Yuci.


"Karena masalah kali ini rumit, titik masalah perusahaan begitu berat. Pabrik milik supplier yang mengelola bahan baju terbakar. Ditambah lagi, perusahaan saingan mengadakan diskon besar-besaran." jawab Aldo.


"Aldo, tolong kamu cari supplier baru lagi. Kalau tidak, persediaan barang tidak akan ada." ujar Yuci.


"Iya nona, aku akan melaksanakan tugas." jawab Aldo.


"Bagus. Segera laporkan padaku, bila sudah mendapatkannya." ucap Yuci.


"Iya nona, setiap perkembangannya akan aku laporkan." jawab Aldo.


Saat matahari menyingsing Rui telah berada di sekolah. Ibu Aya menghampirinya, sambil memberikan kertas brosur.


"Pak Rui, ada pengetesan untuk menjadi Professor loh. Bukankah Pak Rui pintar, dan ingin sekali menjadi pendidik tingkat tinggi." ujar Aya.


Rui menerima brosur. "Aku coba baca dulu deh, siapa tahu tertarik."


"Pak Rui harus mengikuti wawancara online, saat dihubungi oleh Professor Dangg." ujar Aya.


"Iya Bu." jawab Rui, seraya mengangguk.

__ADS_1


"Oke Pak, semoga sukses." ujar Aya.


"Aamiin, terima kasih." jawab Rui.


Matahari terus berjalan pada peredarannya, menggulir awan cerah menjadi gelap. Rui menunggu Yuci, yang belum pulang juga. Sistem pencernaannya terasa berisik, karena cacing-cacing tengah berdemo. Mereka lapar, namun Rui belum ingin mengisinya. Dia masih menunggu, sampai Yuci kembali.


Tok! Tok!


Yuci mengetuk pintu, sambil memanggil nama suaminya. Suara mendayu-dayu tersebut, berharap cepat dibukakan pintu. Rui meraih gagang pintu, lalu menariknya. Seketika Yuci langsung terjatuh, ke dalam pelukan dirinya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Rui.


"Hanya sakit kepala." jawab Yuci.


"Iya suamiku, terima kasih." Yuci berjalan sendiri, meski dengan gontai.


Rui segera ke ruang makan, lalu mengambil nasi dan lauk pauk. Dia membawanya ke kamar, lalu menghampiri Yuci.


"Kalau kamu punya masalah yang tidak dapat diselesaikan, segeralah untuk cerita Yuci sayang." ucap Rui.


"Aku hanya sakit kepala ringan, sebentar lagi juga sembuh." jawab Yuci.


Rui menyuapi makanan ke mulut Yuci, sampai istrinya mengunyah dengan lama. Setelah makanan sedikit lembut, barulah ia menelannya. Rui juga menyendok kan air minum, agar Yuci lebih mudah meneguknya.

__ADS_1


Tiba-tiba Yuci mendengar, suara dari perut Rui. "Loh... kok perut kamu bunyi sayang? Kamu pasti lapar iya?"


"Tidak apa-apa, kamu dulu saja yang makan." jawab Rui.


"Tidak bisa seperti itu, kita bersama-sama saja." ucap Yuci.


"Tidak mau sayang, harus perhatikan kondisimu dulu." jawab Rui.


Rui melanjutkan menyuapi Yuci, sampai dia merasa kenyang. Rui menyudahinya, dengan membawa peralatan makan ke dapur. Rui segera mencuci piring, saat dirinya juga usai makan.


Keesokan harinya, Rui membuka kedua kelopak matanya. Meski sebenarnya terasa berat, kini dia sudah beranjak. Namun membiarkan Yuci tetap tertidur, ada rasa kasihan ketika ingin membangunkannya. Rasa tidak tega juga, tengah menyelimuti segenap jiwanya.


Rui meninggalkan sepucuk surat, pada meja kamar. Dia segera pergi ke SMA 45, pada pukul 07.10 pagi. Dia mengisi nilai raport, karena hari itu merupakan hari terima raport. Tentu saja kenaikan kelas 10 dan 11. Namun akan menjadi hari kelulusan, untuk kelas 12.


"Hanry, kamu sedang apa?" tanya Celiv.


"Aku sedang memikirkan hari perpisahan." jawab Hanry.


"Bukankah, kita memang sudah berpisah?" tanya Celiv.


"Iya benar, namun aku ingin membuat kenangan bersamamu. Sebentar lagi, adalah momen berkurangnya usiamu. Itu artinya, usia kamu masuk delapan belas tahun." jawab Hanry.


Yuci terbangun dari tidurnya, dan melihat Rui sudah tidak ada. Dia tahu, suaminya sudah pergi ke sekolah. Yuci mengambil kertas surat, yang ada di atas meja.

__ADS_1


"Istriku sayang, aku pergi dulu iya. Kalau kamu mau makan, aku sudah masak. Kamu tinggal buka saja tudung saji, lalu makanlah ikan pindang spesial." Yuci membacanya, sambil tersenyum.


__ADS_2