Memaksa Dinikahi

Memaksa Dinikahi
Teman Masa Kecil


__ADS_3

Yuci sudah sampai di rumahnya, dan Rui membantu Yuci melepaskan helem. Sebenarnya merasa enggan namun terpaksa melakukannya, karena Yuci terlihat kesusahan melepaskan helem.


"Pak Rui, masuk ke dalam rumah dulu." tawar Yuci.


"Aku mau melihat Ibuku di rumah sakit." jawab Rui.


"Hanry butuh bimbingan belajar, dia akan sangat malas." Yuci mencari alasan.


"Maaf, aku buru-buru." jawab Rui.


Yuci memegangi kepalanya. "Haduh, kok tiba-tiba sakit si. Pasti karena preman tadi, yang menarik paksa tas ini. Sepertinya, aku tidak sanggup untuk berjalan masuk rumah.


"Iya sudah, biar aku bantuin." jawabnya.


Rui terpaksa memapahnya, sampai masuk ke rumah. Yuci tersenyum-senyum sendiri, dan Hanry membuka pintunya. Dia melihat aksi modal dusta sang kakak, dari balik jendela kaca.


"Pak Rui, Kakak sering sakit iya." ujar Hanry.


"Tidak tahu." jawab Rui.


"Bapak 'kan dekat sama Kakakku." ucap Hanry.


"Bukan seperti yang terlihat, kami tidak sengaja berjumpa di jalan." jawab Rui.


"Pak Rui, ajarin dong adikku yang nakal." Yuci tersenyum jahat, ke arah Hanry.


"Baiklah, ayo sekarang belajar bersama." Rui menarik baju Hanry.


Hanry mengajaknya masuk ke dalam kamar. Mereka belajar berdua, dengan semangat berkobar. Kedua bola mata Rui tertuju pada bingkai foto, yang terpajang di atas nakas.

__ADS_1


"Hanry, anak kecil perempuan itu siapa?" tanya Rui.


"Itu Kak Yuci Pak Rui." jawab Hanry.


"Oh gitu, aku kira siapa." ucap Rui.


"Cantik 'kan Kakakku Pak Rui." Hanry tersenyum.


Rui hanya mengganggukan kepalanya, sambil tersenyum dengan tulus. Awalnya dia merasa ilfeel, namun sekarang sudah tidak lagi.


”Akhirnya kita bertemu kembali, aku sudah lama mencari kamu. Dasar ratu serigala, masih sama buasnya seperti dulu.” batin Rui.


#Nostalgia Dimulai


Pada saat berusia 6 tahun, Rui menangis karena uangnya dipalak temannya. Yuci membantunya sambil tersenyum, dan mengatakan semua akan baik-baik saja. Sejak itu Rui semangat kembali, untuk mengejar impiannya.


"Terimakasih iya, aku pasti akan mengumpulkan banyak uang. Berjuang untuk menjadi guru, hingga diangkat menjadi pegawai negeri. Biarlah, walau dari honorer dulu." jawab Rui.


Yuci tertawa kecil. "Bagus, ayo semangat raja kadal."


"Iya ratu serigala." Rui tertawa juga.


"Beli es krim yuk!" ajak Yuci.


"Ayo, aku tahu tempat paling enak." jawab Rui.


#Nostalgia Berakhir


Hanry melambaikan tangannya, pada wajah Rui. Dia dari tadi senyum terus, tanpa jelas penyebabnya.

__ADS_1


"Pak Rui kenapa?" tanya Hanry.


"Tidak apa-apa, Kakak hanya teringat dengan Yeye." jawab Rui beralasan.


Setelah selesai belajar dengan Hanry, Rui kembali ke rumah sakit. Ternyata ada bibi kecilnya, yang duduk di samping ibunya.


"Bibi, kenapa baru datang sekarang?" tanya Rui.


"Maafkan Bibi iya Rui, baru bisa menemui kalian sekarang. Urusan Bibi ribet sekali, dengan Paman kalian itu." jawabnya.


"Iya Bi, tidak apa-apa." ujar Rui.


"Besok, mungkin Bibi sudah pergi mengajar." jawab Yaya.


"Iya Bi, santai saja. Jangan cemas iya, Ibu adalah orang yang kuat." Rui berusaha menenangkan bibinya, padahal dirinya sendiri cemas.


Yaya dan Yeye saling berpelukan, mereka sama-sama merindukan Nimah sadar kembali. Namun hasilnya nihil, karena dia sekarang koma.


Keesokan harinya, Rui pergi mengajar kembali. Yaya juga ikut pergi ke sekolah Rui. Dia akan mengajar ekstrakurikuler bela diri di sana.


"Bi Yaya semangat iya, kepala sekolah adalah orang bijaksana." puji Rui.


"Iya Rui, Bibi pasti semangat." jawab Yaya.


"Oh iya, Bibi mau mengajar latihan bela diri di luar sekolah juga 'kan?" tanya Rui.


"Iya Rui, biar lebih berganda penghasilannya. Lumayan 'kan, daripada Bibi gak kerja." jawab Yaya.


Yuci pergi ke perusahaan seperti biasanya, sibuk dengan urusan laporan kantor. Belum lagi, departemen perencanaan yang kacau. Kepala Yuci semakin pusing, dia benar-benar butuh seseorang. Karena mau mandiri bagaimana pun juga, wanita tetap butuh bimbingan.

__ADS_1


__ADS_2