
Keesokan harinya, Yuci dan Rui pergi jalan-jalan lagi. Yuci melihat anak-anak, yang langsung berhamburan berlari ke arah Rui. Mereka bagaikan ditarik oleh magnet, sehingga lengket dengan sendirinya.
"Sayang, sepertinya di sini wilayah kamu banget. Lihatlah, anak-anak itu patuh padamu." ujar Yuci.
"Sebenarnya mereka bukan patuh padaku, cuma lebih berkesan menghargai. Cara mereka memberikan ucapan terima kasih, dengan menunjukkan sikap baik." jawab Rui.
"Memangnya apa yang telah kamu perbuat pada mereka?" tanya Yuci penasaran.
"Aku hanya membangun beberapa tempat, yang dijadikan sarana khusus pembelajaran. Aku kira, banyak orang yang bisa berbuat lebih dari itu." jelas Rui.
"Itu namanya ketulusan. Wajar saja, bila dirimu diperlakukan seperti raja." ucap Yuci.
"Ini namanya bukan ketulusan, tapi lebih kepada saling tolong menolong." jawab Rui.
Anak-anak itu menarik tangan Rui, supaya berjalan mengikuti mereka. Rui dan Yuci sudah sampai disebuah gedung, yang tidak begitu besar.
"Ini sekolah TK bagus banget." puji Yuci.
"Iya, TK ini dibangun oleh Kak Rui." jawab mereka, secara kompakan.
"Suamiku ini memang pangeran berkuda putih, yang lupa membawa mahkota." Yuci membenarkan rambut Rui, lalu memeluknya dengan kemanjaan.
"Kamu ini, tidak peduli situasi seperti apa. Biar banyak anak-anak kecil, kamu tetap akan mesra." Rui melihat anak-anak, yang mengembangkan senyum secara kompakan.
"Cie! Cie!"
Terdengar suara sorakan dari mereka, yang membuat Yuci tersenyum. Rui pun juga mengembangkan senyuman, meskipun tidak membuka mulut lebar.
Yuci berbisik. "Biar semua orang tahu, hanya aku milikmu seorang."
__ADS_1
Rui tersenyum, sambil manggut-manggut. "Anak kecil ini tidak penting tahu, cukup orang yang ingin tahu saja."
Rui dan Yuci mengajari mereka berhitung, dan mereka menganggukkan kepala. Sesekali bertanya, sesekali terdiam, sesekali bercanda, dan sesekali bertepuk tangan. Rui dan Yuci melanjutkan perjalanan, setelah puas bermain dengan anak-anak. Bahkan kali ini, Rui mengajak Yuci ke rumah pemintal benang.
"Bu, perkenalkan ini istriku namanya Yuci." ujar Rui.
"Ini nona Yuci, yang memimpin perusahaan ChidaaMall." Perempuan paruh baya itu tersenyum.
"Benar Bu, orang yang mencari pemintal benang juga." ujar Yuci.
"Rekanku banyak, maka akan diusahakan untuk siap secepatnya." jawabnya.
"Bolehkah aku melihat prosesnya?" tanya Yuci.
"Boleh, boleh, ayo masuk ke dalam." jawabnya.
Berkat Rui yang langsung memesankan, jadi sudah banyak dibuatkan. Yuci tersenyum, saat bisa melihat proses berlangsungnya.
"Tentu saja sayang, itu 'kan sudah melalui proses pemintalan." jawab Rui.
Mata Yuci benar-benar jeli, memperhatikan detail benang. Kini sudah menjadi serat yang halus, cocok untuk menjadi bahan baju berkualitas.
"Sayang, mungkin ini hikmah di balik ujian." ujar Yuci.
"Benar, hidup tidak akan selalu berjalan mulus. Namun jalan terjal terkadang mempertemukan kita, dengan hal baik tak terduga." jawab Rui.
"Rui, kamu nanti malam ke rumah Bu Ajeng gak?" tanya perempuan paruh baya tersebut.
"Memangnya Bu Ajeng ada acara apa." jawab Rui.
__ADS_1
"Bu Ajeng baru melahirkan anak keduanya." ujarnya.
"Pasti aku melihat, sangat rindu dengan tradisi desa." jawab Rui.
"Memangnya tradisi desa apaan?" tanya Yuci penasaran.
"Tradisi desa yaitu menggendong bayi baru lahir." jawab Rui.
"Yuci, kamu pasti belum tahu namaku. Biar aku perkenalkan, namaku adalah Bu Ratmi." ujarnya.
Yuci tersenyum. "Iya Bu, salam kenal."
Malam hari akhirnya tiba, Yuci dan Rui datang ke tempat acara. Sebuah rumah yang tidak begitu besar, beserta dengan lampu penerangan seadanya. Warga desa di sana, kebanyakan jarang menyalurkan listrik.
"Eh Rui, apa kabar?" tanya Kajoel.
"Baik, kau sendiri?" jawab Rui.
"Syukurlah, keadaanku seperti yang kau lihat." ujarnya.
"Sepertinya kau bahagia." canda Rui.
"Hidup senang, selalu dimasakin istri. Kamu datang ke sini sama siapa?" tanya Kajoel.
"Sama istriku." Rui menggenggam tangan Yuci.
"Pantaslah, sekarang kau terlihat makmur. Padahal bila tidak ada istri, aku ingin mengajakmu bertemu teman lama. Perempuan ini selalu menanyakan dirimu." ujar Kajoel.
"Tidak disangka, upik abu sepertiku pun ada yang menanyakan." Rui geleng-geleng kepala.
__ADS_1
”Hih bukannya banggain istri, malah senang dicari perempuan lain. Awas kamu pulang nanti Rui!” batin Yuci.