Memaksa Dinikahi

Memaksa Dinikahi
Ungkapan Cinta


__ADS_3

Yuci bertambah sakit hati, melihat sikap acuh Rui. Dia bahkan tidak memiliki respon senang, saat Yuci mengungkapkan perasaannya.


"Apa harus aku belah dadaku, biar kamu percaya ada kamu dalam hatiku?" ucap Yuci.


"Aku tahu, kamu sangat ingin punya anak. Tapi, jangan membohongi dirimu sendiri. Kalau suka bilang suka, kalau tidak iya bilang tidak." jawab Rui.


"Rui, tujuanku menikah sama kamu itu karena cinta. Tapi, aku gengsi untuk mengungkapkannya." ujar Yuci, dengan jujur.


"Kalau memang kamu cinta, kamu tidak perlu mempersulitnya. Kamu tidak harus membuat surat kontrak, dan sejak awal kita tidak perlu saling menyakiti." jawab Rui.


"Kamu memang tidak akan pernah paham, kalau aku benar-benar cinta sama kamu. Wajar saja, karena kamu baru mengenal sikapku." Yuci meneteskan air mata.


"Yuci, aku sangat kenal kamu. Sebenarnya, aku adalah teman masa kecilmu. Orang yang kamu lihat di layar ponsel waktu itu, sebenarnya adalah aku sendiri." jawab Rui.


"Aku kecewa sama kamu Rui, bisa-bisanya kamu tidak jujur. Bahkan tidak memiliki rasa peka, terhadap orang di sekitarmu." Yuci segera keluar kamar, namun masih berharap Rui untuk mengejarnya.


Rui mengejarnya, lalu langsung memeluknya dari belakang. "Maafkan aku Yuci, aku telah menyakiti kamu."


"Lepaskan aku Rui." pinta Yuci.


"Tidak akan, aku ingin kamu dan aku tetap seperti ini." jawab Rui.


"Kenapa si Rui, setiap aku berubah sikap kamu malah luluh. Kalau aku ingin pergi, malah berusaha mencegah." ujar Yuci.


Rui melepaskan pelukannya, lalu membalikkan badan Yuci sampai menghadap ke arahnya. "Kamu tidak perlu memikirkan hal tersebut, aku ingin mengabulkan permintaan kamu. Jangan ngambek lagi, ayo kita buat anak sekarang."

__ADS_1


"Ayo, kita cetak baby." Yuci bersemangat.


Rui menggendongnya. "Iya Yuci."


Mereka masuk ke dalam kamar, lalu Rui mengunci pintu. Rui merebahkan tubuh Yuci, di atas ranjang tidur. Yuci tersenyum memandang wajah Rui, dengan perasaan bahagia.


"Rui, kamu benar-benar mau 'kan jadi suamiku selamanya?" tanya Yuci.


"Iya, aku bersedia Yuci. Kalau menjadi suami kontrak, aku tidak mau." jawab Rui.


"Sejak kapan kamu mengetahui, kalau aku Ratu Serigala?" tanya Yuci.


"Sejak aku mengantarmu pulang, saat mobilmu dihadang penjahat." jawab Rui.


"Oh, waktu kamu masuk ke kamar Hanry saat itu iya?" Yuci mengingatnya kembali.


"Raja Kadal, apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" tanya Yuci manja.


Rui menopang dagunya, dengan tangan kanannya. "Mengatakan apa iya, kok aku lupa."


"Huh, dari senyumnya terlihat sekali kalau bohong." ujar Yuci.


"Jangan ngambek gitu lah, aku akan mengatakannya sekarang." jawab Rui.


Rui hendak melepas kancing baju Yuci, namun perempuan itu tiba-tiba beranjak dari posisinya. Yuci tersenyum, sambil menahan tawa.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Rui.


"Sebaiknya, kita jangan melakukan sekarang." jawab Yuci.


"Kau ini memang pintar menuntut, namun pada kenyataannya akan menyerah mendadak." ucap Rui meledeknya.


"Sorry iya Rui, aku benar-benar takut dadakan." Yuci nyengir, menampilkan deretan giginya.


Rui mencium dahinya. "Aku mencintaimu Yuci."


"Aku juga mencintai kamu." jawab Yuci.


"Rui, pandang langit yang terlihat dekat. Padahal bila diteliti dengan baik, langit tidak terbatas." ungkap Yuci.


"Iya sayang, kamu benar." jawab Rui.


"Sejak kapan, kamu memanggilku dengan sebutan sayang hahah..." Yuci tertawa lepas.


"Sejak hari ini." jawab Rui.


Rui tersenyum licik, dengan ide di pikirannya. Dia segera mendorong Yuci, tanpa aba-aba lagi. Rui menindih tubuhnya secara paksa, namun tidak terlalu kasar. Hanya sekadarnya saja, untuk bergurau dengan istrinya.


"Rui, lepaskan aku!" Yuci takut, tapi mau.


"Rui, lepaskan aku." Rui mengikuti bicaranya, sambil menggoyangkan kepala.

__ADS_1


Rui dan Yuci melakukan ini dan itu, setelah sekian waktu tertahan. Hal yang harusnya dilakukan sejak awal pernikahan. Namun, hal tersebut baru terlaksana sekarang. Hak dan kewajiban, bagaikan dua hal saling terkait. Rui dan Yuci mengukir kenangan mesra, di atas ranjang tidur. Berencana akan melakukannya, hingga pagi mulai menyapa.


__ADS_2