Memaksa Dinikahi

Memaksa Dinikahi
Kebencian Yuci


__ADS_3

"Yuci, kenapa kamu usir dia?" tanya Rui.


"Aku gak mau, dia ada di sini." jawab Yuci.


"Dia 'kan perlu bantuan." ujar Rui.


"Biar dia urus sendiri saja." jawab Yuci.


Yuci segera pergi meninggalkan Rui menuju perusahaan ChidaaMall, sedangkan Rui juga bersiap-siap untuk ke sekolah SMA 45. Ternyata hari itu Yuda mengunjungi perusahaan. Melihat perkembangan pesat pada perusahaan, yang dipimpin oleh Yuci.


"Kamu memang anak Papa yang paling terbaik." puji Yuda.


"Iya Pa, meski kasar dan blak-blakan." Yuci tersenyum masam, sambil mengedipkan mata.


"Tapi, dari segi menentramkan hati, Papa lebih suka almarhum Mama kamu." ujar Yuda.


"Papa suka melihat Mama tiada lagi." Yuci menjadi malas untuk melihatnya.


"Yuci, kamu tidak boleh melihat yang telah berlalu. Kalau seperti ini terus, kamu tidak akan maju Nak." ucap Yuda.


"Apa Papa pikir dengan tidak mengatakannya, aku memang benar-benar lupa. Aku tidak bisa melupakan, bagaimana tragisnya kecelakaan tersebut." jawab Yuci.


"Bagus, kamu memang keras kepala." Yuda manggut-manggut.


"Terserah Papa, hidupku sekarang bukan aturanmu lagi." jawab Yuci.


Yuci mengerjakan laporan yang harus diselesaikan, lalu setelah itu menghubungi Joky. Yuda berjalan menuju ruangan Aldo, dimana sekretaris pribadi Yuci bekerja.

__ADS_1


"Halo Aldo!" sapa Yuda.


"Halo tuan, baru pulang iya." jawab Aldo.


"Iya, tinggal di negeri sendiri lebih nyaman." ucap Yuda.


"Apa iya seperti itu tuan besar?" tanya Aldo.


"Tentu saja, karena di sini penuh kenangan." jawab Yuda.


Yuda menepuk lengan Aldo. "Bekerjalah dengan benar, dan jangan lupa istirahat yang cukup."


"Terima kasih tuan besar." jawab Aldo.


Pukul 13.30 Rui sudah sampai ke rumah. Dia melihat Yeye yang baru melepas sepatunya. Tampaknya, Yeye juga baru pulang kuliah.


"Yeye, Kakak mau bicara sama kamu." ujar Rui.


"Bagaimana dengan nilai praktik kuliah kamu?" tanya Rui.


"Aku hanya disuruh mengulang lagi Kak." jawab Yeye.


"Apa kamu masih marah, dengan orang yang telah menggagalkan pesanan Kak Yuci?" tanya Rui, ingin memastikan.


Yeye tersenyum. "Kenapa Kakak tiba-tiba menanyakan soal ini. Memangnya kalau aku marah setiap hari, semua baju pesanan nona Yuci akan kembali."


"Iya Kakak tahu, memang tidak akan kembali. Namun perasaan dalam hati, tidak bisa dipungkiri begitu saja." ujar Rui.

__ADS_1


"Sebenarnya ada si niatan buat menuntut balas. Namun, orang seperti diriku akan kalah duluan. Aku bertarung dengan orang, yang memiliki tempat spesial buat Kak Yuci." Yeye malah keceplosan.


"Maksud kamu tempat spesial apa?" tanya Rui.


"Hmmm... aduh Kak, tidak seharusnya aku mengatakan ini." jawab Yeye.


"Tidak apa-apa, Kakak tidak akan cemburu. Kamu tahu sendiri 'kan, hubungan Kakak dengannya. Kami menikah hanyalah sebatas kerjasama." ucap Rui jujur.


"Aku tahu Kak, aku hanya pernah melihat mereka berpelukan." jawab Yeye jujur.


"Papa Yuda memang sudah menganggapnya, seperti anak sendiri. Sampai-sampai, panggilan Hanxie pada Yuda adalah Papa." ucap Rui, sambil tertunduk lesu.


Yeye berniat menggoda kakaknya. "Kak Rui, apa Kakak cemburu padanya."


"Mana mungkin, kau ini kalau bicara sudah ngelantur." ujar Rui.


"Oke, daripada ngelantur aku memilih memasak saja." jawab Yeye.


Yeye segera masuk ke kamarnya, lalu mengirimkan pesan pada Yuci. Tak berselang lama mendapatkan balasan. Yeye merasa puas, karena direspon cepat oleh kakak iparnya.


”Aku harus memastikan, apa Kak Yuci benar-benar suka sama Kak Rui. Aku gak mau, kalau di antara mereka hanya cinta sepihak. Mereka harus saling mencintai, tanpa ada pernikahan kontrak. Dengan begitu, Bibi tua tidak akan mengetahui. Pernikahan sandiwara ini harus segera berakhir, dengan hadirnya malaikat kecil berwajah mungil.” batin Yeye bergumam senang.


Yeye melangkahkan kakinya ke dapur, mengiris sayur yang akan dimasak. Tiba-tiba saja, Nimah sudah pulang. Dia pergi bersama dengan bibi Yaya.


"Eh Bibi tua dan Bibi kecil kemana tadi?" tanya Yeye.


"Kami pergi ke pasar." jawab Yaya.

__ADS_1


"Apa ada ikan asin Padang?" tanya Yeye.


"Tentu saja, yang kamu suka sudah dalam kantung belanjaan." jawab Yaya.


__ADS_2