
Keesokan harinya, Yuci baru kembali ke rumah. Rui membuatkan teh hangat, untuk diminum oleh istrinya.
"Apa kerjaan kantor sangat banyak, sehingga baru pulang sekarang?" tanya Rui.
"Iya Rui, ada masalah dengan departemen pemasaran." jawab Yuci.
"Hari ini, nona istirahat saja." ujar Rui.
"Rui, bisakah kamu untuk tidak memanggilku nona." pinta Yuci.
Rui menganggukkan kepalanya, pertanda dia menyetujui. Mungkin memanggil namanya juga, bisa seperti seorang teman.
"Rui, bermain bola yuk nanti siang. Aku hari ini, ingin libur sejenak." ujar Yuci.
"Iya, sekarang aku harus mengajar ke SMA 45 dulu." jawab Rui.
"Iya Rui, aku tunggu sampai kamu pulang." ucap Yuci.
"Oke, aku pergi dulu iya." jawab Rui.
Yuci meminum teh buatan Rui, sambil terus tersenyum. Rui segera melangkahkan kakinya, menuju keluar rumah. Dia menghidupkan mesin motornya, sedangkan Yuci melihat dari kaca jendela.
"Rui, kamu benar-benar terlihat tampan. Tampil mempesona, penuh percaya diri. Sangat ramah, membuat hati berdebar-debar. Terlihat dewasa ketika menggendong bayi, memang pantas untuk menjadi seorang Papa." monolog Yuci.
__ADS_1
Yeye menyusun buku di perpustakaan, karena itu jadwal piket nya. Yeye segera keluar ruangan, setelah tugasnya selesai. Saat melewati sebuah pintu, dia melihat Hanxie yang sedang berbincang. Yeye menempelkan telinganya pada pintu, untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Hanxie, kamu telah menggagalkan hasil karya Yeye. Maka sebagai gantinya, kamu harus membantu dia menyelesaikan tugasnya. Nilai praktik ini, sangat berarti untuk Yeye." ujar ibu dosen.
"Iya Bu, tapi aku tidak sengaja." jawab Hanxie.
"Jangan mentang-mentang tidak sengaja, jadi tidak punya rasa bersalah. Kamu harus tetap bertanggungjawab, tunjukkan bahwa kamu adalah pria sejati." ujarnya.
"Bu, itu semua murni kecelakaan." jawab Hanxie.
Ibu dosen tidak ingin mendengarkan penjelasannya lagi, tetap menunjuk arah pintu. Dengan berat hati Hanxie keluar, lalu mendapati Yeye di depan pintu.
"Kamu sengaja iya, menguping pembicaraan kami." Hanxie menunjuknya.
"Kamu jangan senang dulu iya, aku tidak akan minta maaf sama kamu." ucap Hanxie spontan.
"Eh hantu, aku tidak butuh minta maafmu. Aku cuma butuh tanggungjawab darimu." Yeye berkacak pinggang.
Pada malam harinya, Yuci merebahkan tubuhnya pada ranjang tidur. Dia melihat barang-barang Rui, yang sudah tidak ada di dalam. Dia benar-benar dilema, karena harus tidur sendiri. Yuci menendang kakinya di atas ranjang tidur, lalu meraba-raba tempat di sebelahnya.
"Rui, kamu tidak bisa mencampakkan aku. Malam ini juga, aku akan menggoda dirimu." monolog Yuci.
Yuci berjalan dengan santai, lalu menghadap cermin. Dia sengaja memoles make up natural, agar Rui terpesona melihat penampilan mempesonanya. Tidak lupa pula, Yuci mengganti pakaian. Yuci keluar kamar lalu mengetuk pintu kamar Rui. Tak berselang lama pintu terbuka, dan hanya mendapatkan reaksi dahi yang mengerut.
__ADS_1
"Ada apa Yuci?" tanya Rui.
"Lihat penampilanku malam ini." Yuci tersenyum lebar.
"Bagus." Rui mengucapkan satu kata saja.
"What? Kamu hanya bilang bagus." Yuci berteriak heboh.
"Lalu, aku harus bilang apalagi?" tanya Rui.
"Rui, tidak bisakah kamu bersikap umum." Yuci memberi kode.
Rui tidak mengerti dengan Yuci, padahal dia sendiri yang minta diberi penilaian. Tapi dia juga yang protes, seolah argumen orang lain salah.
"Yuci, kalau tidak ada keperluan lagi sudah iya. Aku sekarang mau cepat tidur, besok ada kegiatan upacara." ucap Rui.
Saat Rui membalikan badannya, Yuci langsung memeluk dari belakang. Yuci benar-benar tidak mau, bila Rui pergi meninggalkan dirinya.
"Rui, kamu tidak boleh seperti ini." Yuci mulai banyak menuntut.
"Kamu harus ingat, bahwa kita hanya menikah kontrak. Sekarang yang kamu lakukan, termasuk pelanggaran nona Yuci." jelas Rui.
Tangan Yuci perlahan melepaskan pelukannya, lalu pintu segera tertutup. Yuci segera berlari menuju ruangan atas, dia sengaja bermain bola untuk melampiaskan rasa kesal.
__ADS_1
”Tidak adakah aku di hatimu Rui, meski hanya sedikit saja. Aku benar-benar cinta sama kamu.” batinnya.