Memaksa Dinikahi

Memaksa Dinikahi
Wartawan Dadakan


__ADS_3

Yuci membuka pintu ruangannya, lalu melihat Yeye berdiri di depannya. Yeye masuk ke dalam, setelah dipersilahkan oleh Yuci. Yeye melirik bola yang ada di ruangan Yuci.


”Dia suka bermain bola sudah lama, atau karena Kak Rui iya.” batin Yuci.


"Ada apa kamu ke sini Yeye?" Yuci tersenyum.


"Ada hal yang ingin aku sampaikan." jawab Yeye.


"Hal apa itu?" tanya Yuci.


Yeye mengangkat sebelah kakinya, ke atas paha. Dia berdehem tiga kali, hingga Yuci mengerutkan dahinya.


"Kak Rui punya cinta pertama. Dia tidak mungkin betah, dengan kontrak pernikahan ini." jawab Yeye.


"Jadi maksudmu, dia ingin membatalkan kontrak?" tanya Yuci.


"Tentu saja tidak, namun dia akan kabur setelah kontrak pernikahan selesai." jawab Yeye memancingnya.


"Tentu saja, itu bukan urusanku." ucap Yuci.


"Meski bukan urusan Kakak ipar, apa Kakak yang cantik ini tidak sedikitpun cemburu." jawab Yeye.


"Yeye, kalau kedatangan kamu hanya untuk jadi wartawan, lebih baik kamu pulang saja." Yuci tersenyum masam.

__ADS_1


"Kak Yuci, mulai hari pernikahan aku adalah adikmu, bukan sekedar patung. Jadi aku berhak tahu, apa Kakak ipar suka pada Kakakku." jawab Yeye.


"Kamu tahu 'kan, bila janji adalah hutang. Aku ingin memberitahu satu hal. Tapi janji untuk tidak bilang ke siapapun juga, termasuk Kak Rui." ujar Yuci.


"Iya Kak, aku janji. Cepat katakan, ada rahasia apa." Yeye terlihat semringah.


"Sebenarnya, aku suka sama Kakakmu. Mana mungkin, aku mengungkapkan duluan. Kamu bayangkan saja, aku mendapat penolakan berapa kali. Sampai aku rela menggunakan cara ini, yaitu mengajaknya menikah kontrak. Meskipun aku sangat memalukan, memaksa dinikahi Pak Rui tampan." Yuci tersenyum penuh cinta, sambil menepuk-nepuk pipinya.


"Aku punya cara jitu, supaya Kakak bisa mendekati Kakakku." jawab Yeye.


"Bagaimana caranya?" tanya Yuci penasaran.


"Menjadi istri penggoda." bisik Yeye, sambil menahan tawa.


"Kenapa Kakak menunjukkan ekspresi seimut ini?" tanya Yeye.


"Kakak benar-benar suka, serta cinta dengan Kakakmu." Yuci memajukan bibir bawahnya.


Yeye menahan tawa. "Hentikan raut wajah jelek Kakak, bukankah seorang nona Yuci elegan."


"Oh iya, terima kasih telah mengingatkan." Yuci memasang raut wajah sediakala.


"Wajah juga tidak perlu seserius itu Kak, jadi mudah cepat tua nantinya. Bagaimana, Kakakku akan bisa jatuh cinta." canda Yeye.

__ADS_1


Yuci menimpuk kepala Yeye. "Kamu ini serba salah, membuat diriku bingung harus seperti apa."


"Kakak ipar yang baik, tidak boleh cemas iya. Yeye selalu punya solusi, gratis dan cuma-cuma." Yeye mengibarkan tangannya, di atas udara.


"Cepat katakan, apa yang harus aku lakukan." Yuci menggesa-gesa.


”Ternyata, Kakak ipar ini orang yang baik. Awalnya, aku mengira bahwa dia mungkin tak punya hati.” batin Yeye.


Yeye sengaja berbisik, agar Yuci dapat mendengarnya. Yuci mengganggukan kepalanya berulang kali, mencerna setiap kalimat yang keluar dari bibirnya.


Pada malam harinya, Yuci sengaja merias diri. Dia menghadap cermin, sambil melompat-lompat. Malam itu, dia akan menghampiri Rui. Setelah selesai, dia mulai mempraktikkan berjalan anggun. Yuci malah tertawa terbahak-bahak, karena akan menjadi penggoda suaminya.


"Hahhah.... ini benar-benar konyol. Kenapa tidak pria duluan, yang mendatangiku. Sudah tahu pisah kamar, masih saja mau menggoda. Muka tembok nomor satu di dunia." monolognya.


Yuci segera keluar dari kamar, lalu meletakkan telapak tangannya di depan pintu kamar Rui. Ingin mengetuk pintu, namun merasa ragu. Tiba-tiba saja pintu terbuka, dan Yuci tanpa sengaja terpeleset. Rui segera menangkapnya yang terjatuh.


"Yuci, kenapa kau mengenakan pakaian seperti ini?" tanya Rui.


Yuci tersenyum, melihat Yuci yang membuang wajah. "Kalau kamu tidak suka, aku akan melepasnya."


"Apa pentingnya aku harus suka. Lain kali, jangan mengenakan pakaian seperti ini." ujar Rui tegas.


"Apa kau takut khilaf." goda Yuci.

__ADS_1


Yuci segera beranjak dari posisinya, meski sebenarnya ingin memeluk Rui lebih lama lagi.


__ADS_2