
Nimah cemberut, tidak mau bicara sama Rui. Dia masih kesal, dengan lamaran tiba-tiba.
"Kenapa kamu ingin menikah dengan nona Yuci, apa kamu tidak melihat keluarganya bagaimana memandang dirimu." ucap Nimah, tersulut emosi.
"Maafin aku Bu, bukan maksudku untuk terburu-buru. Tapi..." Jawaban Rui terpotong, oleh sahutan Nimah.
"Tapi, karena kamu terlalu mencintai dia. Kamu mau memberikan jawaban yang sama, seperti nona Yuci di depan Papanya." ucap Nimah.
"Tidak Bu, tapi karena aku sudah cukup umur." Memberi jawaban melenceng.
"Terserah kamu saja, Ibu sebenarnya tidak setuju. Apalagi nona Yuci ini, yang sudah membuat keluarga kita kesusahan." ucap Nimah.
"Ibu salah besar, dia yang membiayai perawatan Ibu di rumah sakit." jelas Rui.
"Jadi, dia memaksa dinikahi karena hal ini." ucap Nimah, yang semakin marah berkobar.
"Bukan Bu, karena dia tulus mencintai aku." jawab Rui, beralasan lagi.
"Terserah kamu, bila memang sudah memikirkannya dengan matang." ujar Nimah.
"Iya Bu, percayalah dia tulus adanya." jawab Rui.
Beberapa hari kemudian, resepsi pernikahan digelar. mereka bersandiwara, seolah saling mencintai. Padahal ada surat kontrak, yang tertulis di kertas putih. Tidak semua orang tahu, akan pernikahan bohongan itu.
"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu.
"Sah." jawab semuanya.
__ADS_1
Setelah selesai ijab qobul, pembacaan doa diucapkan oleh penghulu. Mereka berdua sudah resmi menjadi suami istri. Yuci menyalami Rui, lalu mencium punggung tangannya.
"Selamat iya nona Yuci." ucap Hanxie.
"Iya, terimakasih sudah datang." jawab Yuci.
"Bagaimanapun juga, aku ini teman nona. Aku pasti senang, karena nona sudah menikah." Hanxie cengengesan.
"Makanya, cepat nyusul sana." jawab Yuci.
Para tamu undangan menikmati jamuan, dengan perasaan senang hati. Beberapa jam kemudian, acara telah selesai. Yuci dan Rui segera menggunakan mobil, yang sudah dihias dengan bunga-bunga. Mereka menuju sebuah apartemen pribadi, khusus milik Yuci.
"Rui, apa kamu mau mengajari aku bermain bola?" tanya Yuci.
"Iya, boleh." jawab Rui.
"Iya, tidak perlu sungkan." jawab Rui.
”Tentu saja tidak sungkan, kamu adalah milikku seutuhnya. Rasanya aku ingin terbang, sampai tidak bisa dihentikan lagi. Hahah... keinginan Yuci selalu terwujud, aku CEO cantik yang beruntung. Aku telah mendapatkan ragamu, tinggal berjuang untuk memenangkan jiwamu.” batin Yuci.
Pada malam harinya, Rui sibuk memeriksa tugas latihan siswa dan siswinya. Tiba-tiba Yuci muncul, sambil jalan berlenggak-lenggok. Dia sengaja menggunakan parfum paling menyengat, hingga Rui bersin-bersin berulang kali.
"Nona, kenapa mengenakan parfum menyengat?" tanya Rui.
"Karena aku sangat suka." jawab Yuci.
"Aku alergi terhadap parfum." ujar Rui.
__ADS_1
"Aneh sekali tabiat dirimu." jawab Yuci.
"Sudah dari kecil, aku tidak menyukai ini." ucap Rui.
"Oh gitu, aku baru tau." jawab Yuci.
Rui kembali fokus pada buku, sedangkan Yuci masih berusaha untuk menggodanya. Yuci melingkarkan tangannya, pada leher Rui.
"Nona, kita sudah sepakat untuk tidak seperti ini." ujar Rui.
"Iya Rui, aku tahu. Maka dari itu, aku sengaja pindah ke sini." jawab Yuci.
"Lalu kenapa nona melakukan ini?" tanya Rui.
"Karena aku tidak ingin, bila keluargaku tahu. Pernikahan sandiwara juga, perlu latihan dengan baik." jawab Yuci.
Yuci melepaskan tangan manjanya, karena mengingat perjanjian kontrak mereka. Yuci masuk ke dalam kamar, memikirkan cara lain untuk menggoda Rui.
Saat tengah malam tiba, Rui baru kembali ke kamar. Yuci menyipitkan matanya, melihat Rui yang baru saja mengambil bantal. Dia sengaja melemparkan selimut ke bawah, karena berniat untuk tidur di lantai dengan alas karpet.
”Dia bahkan tidak merebahkan tubuhnya, di atas ranjang tidur. Sia-sia aku berpura-pura sudah tidur, hanya demi melihat reaksinya. Aku kira, dia akan memujiku cantik. Ternyata malah cuek, tidak menganggap aku ada.” batin Yuci.
Mata Yuci terpejam pulas, begitupun dengan Rui. Akhirnya malam berlalu, dan pagi datang menyapa.
"Selamat pagi Rui!" sapa Yuci.
"Selamat pagi juga nona." jawab Rui.
__ADS_1
Yuci segera mengambil handuk, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Rui membereskan tempat tidur, beserta semua isi ruangan tersebut.