
Rui sudah sampai ke sekolah SMA 45, lalu melihat Yaya yang sedang latihan beladiri. Rui menghampiri Yaya, untuk sekadar basa-basi.
"Rui, Bibi tua rindu sama kamu." ujar Yaya.
"Iya Bibi kecil, belum sempat pulang." jawab Rui.
"Kamu sangat sibuk iya, untuk menyiapkan ujian Professor." ucap Yaya.
"Iya Bibi." Rui nyengir, seraya menyunggingkan senyuman.
"Iya sudah, belajar yang benar. Aku lihat ada iklan, akan mengadakan pengetesan supaya dapat gelar Professor." ujar Yaya.
"Kita lihat saja nanti Bibi. Cinta dan cita-cita itu, terkadang terasa berdampingan. Keduanya sangat penting, dan tidak bisa ditinggalkan salah satunya." jawab Rui.
”Aku melewatkannya untuk kedua kali, karena tidak ingin Yuci sendiri. Aku lihat dia sangat tertekan, belum lagi sekarang ada demo.” batin Rui.
Hanxie baru kembali dengan tangan luka, karena sempat digigit hewan dalam air. Yeye sangat khawatir, sehingga menemaninya sampai pagi. Yeye mengantarnya ke rumah sakit, lalu memberitahu Rui keadaan Hanxie.
"Katakan, kamu di rumah sakit mana?" tanya Rui.
"Aku di rumah sakit Angkasa Kak." jawab Yeye.
"Hanxie digigit hewan apa?" tanya Rui.
"Melihat dari bekas di tangannya, dokter bilang kemungkinan digigit oleh kalajengking. Terus ada juga lipan, dan semut ular." jawab Yeye.
__ADS_1
Plak!
Yuci menampar Hanxie, tanpa belas kasih sama sekali. Di dalam hatinya kini, hanya ada rasa benci.
"Apa tujuanmu datang ke perusahaan ChidaaMall? Jangan berpura-pura lagi, aku benci dengan drama." Yuci menatap tajam ke arah Hanxie, dengan tatapan membunuhnya.
"Kak Yuci tidak punya hati iya, bisa-bisanya menuduh Hanxie. Apa Kakak tidak melihat, betapa sengsara dia semalaman dalam air." Yeye tidak terima.
"Adik sepupu ipar, tolong kamu jangan buta karena cinta." ujar Yuci.
"Kakak yang buta hati, sebelum ada kejelasan dari bukti." jawab Yeye.
Hanxie berusaha melerai pertengkaran, dengan menahan sakit di tangannya. "Sudahlah Yeye, jangan bertengkar lagi."
"Berhenti berpura-pura, aku benci dengan caramu." Yuci meninju-ninju lengan Hanxie.
”Aku begitu percaya padamu Hanxie, aku bahkan ingin menaikkan jabatan mu. Supaya kita dekat terus, dan merestui hubunganmu dengan Yeye.” batin Yuci.
"Kak Yuci sebaiknya tunggu bukti detail." Yeye memberikan saran.
"Aku telah mendapatkan bukti, karena Aldo sudah mewawancarai sopir mobil Kijang. Dia mengakui bahwa disuruh oleh Hanxie." Yuci memutar menu mainkan, pada video dalam ponselnya.
"Tidak, tidak mungkin, pasti sopir itu berbohong. Aku saja tidak mengenalnya, pasti aku sengaja dijebak." jawab Hanxie.
Aldo mengusap punggung Hanxie pelan. "Sabar iya, kamu cari saja bukti yang kuat."
__ADS_1
"Aku yakin, sopir ini hanya mencari alasan. Dia ingin lari dari tanggungjawabnya." jelas Hanxie.
"Siapa sebenarnya yang salah?" Yuci mengacak rambutnya frustasi.
"Yang salah di sini tidak ada. Mungkin saja, orang yang tidak Kakak curigai." jawab Yeye.
Yuci berusaha mencari-cari orang dalam perusahaan. Namun semua bukti, seolah mengarah ke Hanxie. Dari awal dia masuk ke perusahaan, terjadi insiden kecelakaan bersama Yeye. Belum lagi jam tangan, yang ada di pabrik supplier. Terus sekarang, sopir mengatakan dia disuruh Hanxie.
"Kak Rui mana?" tanya Yeye.
"Dia sedang sibuk, banyak kerjaan di sekolah." jawab Yuci.
"Lebih baik, Kakak minta saran dari dia saja. Biasanya, dia bisa membuat keputusan bijak." ujar Yeye.
"Baiklah, nanti aku akan berdiskusi dengannya." jawab Yuci.
Rui singgah ke rumah Nimah, sambil membawakan beberapa tangkai kangkung. Tidak lupa juga, membawa daging ayam.
"Rui, mengapa kamu datang sendirian? Mana menantu kesayangan Ibu?" Nimah menyambut kedatangannya, dengan semringah.
"Yuci sibuk Bu, makanya aku datang sendirian." jawab Rui.
"Pasti banyak kerjaan kantor 'kan?" tanya Nimah.
"Iya, seperti itulah Bu." jawab Rui.
__ADS_1
Yaya mengeluarkan nasi goreng yang masih hangat. Dia ingin Rui mencicipi, bagaimana rasa masakannya. Yaya baru saja mengikuti petunjuk resep, yang dia lihat di aplikasi YouTube.