Memaksa Dinikahi

Memaksa Dinikahi
Lamaran


__ADS_3

Yuci mengantar Rui pulang, karena mereka telah usai makan. Yuci merasa bahagia, karena sebentar lagi akan menikah.


"Pak Rui, aku merasa heran. Kenapa, tiba-tiba kamu setuju dengan persyaratannya." ucap Yuci.


"Karena tidak ada cara lain, aku tidak ingin berhutang padamu. Sudah ada masalah Yeye, ditambah masalah biaya Ibu. Itu semuanya berkaitan dengan dirimu." jelas Rui, panjang dan lebar.


"Tapi, aku merasa bukan itu alasannya." Yuci tersenyum genit.


"Tentu saja alasannya itu." jawab Rui mengelak.


Yuci berpamitan pulang ke rumahnya, setelah mengantar Rui. Tidak lupa melambaikan tangan terlebih dulu, sambil melempar senyuman mempesona.


”Rui, kamu baik sekali si. Love, love, satu kebun untukmu.” batin Yuci.


Yuci berjalan dengan setengah melompat, sambil melemparkan senyuman ke semua arah. Padahal juga tidak ada orang, namun sudah seperti menyapa warga sedunia.


"Yuci, kenapa kamu?" tanya Yuda.


"Biasalah Pa, aku 'kan habis jalan sama calon suami." jawab Yuci.


"Kak Yuci memang selalu bertingkah gila, bila didekat Pak Rui. Aku saja hampir gila, karena selalu bergidik ngeri. Lebih baik Papa nikahkan saja Kakak, daripada dia malah menyembelih monyet." sahut Hanry.


"Baiklah, tentukan saja kapan acaranya." jawab Yuda.


"Dasar Adik gak ada akhlak, sembarangan bicara blak-blakan." Yuci menjewer telinganya.


"Lepasin Kakak, aku bukan anak kecil lagi." jawab Hanry.

__ADS_1


Keesokan harinya, Yuci pergi ke KUA bersama Hanry. Sedangkan Rui pergi ke KUA, bersama dengan bibi Yaya.


"Bibi, perkenalkan ini Yuci." ujar Rui.


"Haduh Rui, Bibi sudah kenal. Kebetulan dia mengikuti latihan bela diri." jawab Yaya.


"Oh maaf Bi, aku tidak tahu." ucap Rui.


"Iya, tidak apa-apa." jawab Yaya.


Selesai urusan di KUA, Yuci mengajak Rui pergi. Dia ingin membelikan cincin, yang akan Rui bawa saat melamarnya nanti.


"Kenapa nona membeli cincin?" tanya Rui heran.


"Haduh Pak Rui, ternyata pikiranmu belum terhubung. Aku ingin, kamu memberikan cincin ini untukku. Kamu datang melamar ku, bersama Ibumu dan Bibi lucu mu." jawab Yuci.


"Tidak bisa, aku juga berhak membantumu yang kesulitan." Yuci bergelayut manja, pada tangan Rui.


"Tangan nona kenapa seperti itu, bukankah kita tidak perlu sandiwara di sini." ucap Rui, dengan tatapan heran.


Yuci tersenyum, sambil melepaskan tangannya." Kelak, kita harus terbiasa seperti ini."


"Apakah nona menyukaiku?" Rui memberanikan diri bertanya.


"Tidak." jawab Yuci.


"Kenapa ingin menikah, bila tidak menyukai?" tanya Rui penasaran.

__ADS_1


"Karena, keinginan Hanry penting untuk diwujudkan. Dia sangat menginginkan Pak Rui, menjadi Kakak iparnya." Yuci berhasil memberi alasan.


Keesokan harinya Rui pergi ke rumah sakit, ternyata Nimah sudah sadar. Yeye masih setia untuk menunggunya, bersama dengan Yaya juga.


"Ibu, apa kabarmu sekarang?" tanya Rui ramah.


"Sudah jauh lebih baik." jawab Nimah.


"Ibu sudah boleh pulang Rui." ucap Yaya.


"Kalau gitu, aku beritahu dokter yang merawatnya dulu." jawab Rui.


Rui keluar dari ruangan itu, untuk mencari dokter yang merawat ibu. Sedangkan Yaya dan Yeye membereskan ruangan pasien.


Keesokan harinya, Rui pergi ke rumah Yuci. Dia sengaja ingin melamarnya, dengan memberikan cincin. Tentu saja, bersama Nimah, Yeye, dan Yaya.


"Wah, ternyata kau bisa membelikan cincin mewah juga." ujar Yuda.


"Aku kira dengan penghasilan pas-pasan, calon suamimu akan memberikan paket standar." timpal Ghino.


"Kalian terlalu meremehkan, dia bukanlah orang yang tega. Dia sangat mencintaiku, pasti akan melakukan apapun." Yuci mencium telapak tangannya, lalu menempelkan pada pipi Rui.


"Baiklah, lamaranmu diterima. Meski awalnya, Papa berniat mendekatkan kamu dengan Hanxie." ucap Yuda.


"Apa bedanya dia dengan Rui, sama-sama bekerja secara sederhana. Cuma bedanya, Rui ku ini tampan." jawab Yuci.


”Nona, berhentilah memujiku seperti itu. Ini sungguh memalukan, karena aku sadar posisi. Sejak awal, kau dan aku sudah terlihat perbedaannya.” batin Rui.

__ADS_1


Setelah selesai, Yuci mengantar Rui dan keluarganya kembali ke rumah. Nimah terlihat tidak suka, dengan ucapan papa dan paman Yuci.


__ADS_2