Menantu Miskin

Menantu Miskin
bab 10 ~ Kaka ipar ~


__ADS_3

Sovia kembali kerumah saat hari sudah sore,tapi saat itu dia belum melihat mobil suaminya di rumah itu artinya pria itu belum pulang dari kantor.Sesampainya di rumah dia melihat Maria dan suaminya sedang membongkar barang belanjaan mereka,mungkin mereka baru habis shoping.Maria adalah menantu yang tidak tau diri disaat ibunya sedang di rawat dia malah enak-enakan belanja,padahal dia tidak menjenguk ibu alasan karna bekerja tapi saat belanja dia masih punya waktu yang banyak.


"Mas bajunya sangat bagus,aku suka warnanya dan tasnya juga sangat bagus,pasti besok teman-temanku bakal iri samaku karna aku selalu terlihat modis.Eh..Sovia kamu sudah pulang,siapa yang jaga ibu disana,ini aku belikan satu baju untukmu,ini pantas untukmu,kamu kan jarang beli baju karna kamu nga punya uang."Ucap Maria,dia sengaja memamerkan semua barang belanjaannya.Dan Sovia yang akan lewat dari ruangan itu menghentikan langkahnya dan melihat barang-barang itu.


"Aku tidak butuh baju darimu pakai saja,"Ucap Sovia ketus,lalu meninggalkan mereka di ruangan itu.


"Dasar kampungan,aku membelinya kepadamu karna aku kasihan kamu tidak pernah beli baju,kamu kan nga kerja mana ada uang mu untuk beli baju."Sungut Maria,dia sangat kesal kepada Sovia yang menolak pemberiannya.Dan saat itu Sovia mendengar suara mobil Adrian yang sudah memasuki halaman rumah.


"Kamu kenapa pulang lama mas?" Tanya Sovia saat Adrian masuk kedalam kamar mereka.


"Aku ada rapat,kamu kenapa disini siapa yang menjaga mama dirumah sakit."Tanya Adrian,dia mengganti pakaiannya lalu merebahkan tubuhnya dia atas ranjang lalu bermain game.


"Amira mas,tapi katanya dia nga bisa jaga malam nanti mas,karna dia ada urusan penting aku nga mau mas kalau harus jaga malam karna aku juga perlu istrahat lagian aku sudah satu harian disana ,aku tidak ingin kelelahan tidak baik buat ibu hamil."Ucap Sovia,dia kesal melihat suaminya dan juga Kaka iparnya yang tidak peduli dengan mamanya.


"Terus maksud kamu siapa yang jaga malam ini,kamu ngapain pulang harusnya kamu disana bukankah aku sudah kasih kamu uang untuk biaya menjaganya disana mestinya kamu nga perlu kembali kerumah ini."Ucap Adrian,dengan wajah datar dan sepertinya dia tidak peduli dengan keadaan mamanya.

__ADS_1


"Mas,itukan mama kalian,kenapa nga kalian saja yang menjaga mama,jangan katakan alasan karna kerja samaku mas,kalian memang tidak peduli dengan keadaan mama kalian."Jawab Sovia lalu keluar dari kamar karna dia sangat kesal dengan suaminya yang acuh dengan mamanya yang di rawat di rumah sakit.


"Bodoh amatlah dengan orang tuanya,mereka saja tidak peduli apalagi aku."Ucap Sovia,lalu dia duduk di teras untuk menghirup udara,rasanya dia sangat kesal dan emosi melihat tingkah semua orang di rumah itu.


*****


Keesokan harinya mereka semua berkumpul di meja makan untuk sarapan,dan saat itu Raka sudah duduk terlebih dahulu sambil menunggu yang lain.


"Adrian kami sudah memutuskan membawa mama pulang,soalnya kita semua sepertinya sangat enggan menjaga mama di rumah sakit jadi lebih baik aku menjemputnya pulang dan dia di rawat oleh Sovia di rumah ini."Ucap Raka,mengambil keputusan sendiri.Seketika Sovia emosi mendengar penuturan Kaka iparnya.Rasanya sangat aneh mereka tidak terlalu peduli dengan keadaan mamanya di rumah sakit.


menghindari tatapan Abang dan istrinya dia langsung menghampiri Sovia yang sudah pergi kebelakang untuk menjemur pakaian.


"Sovia,kamu keterlaluan sekali ya,kamu mau mempermalukan suami mu ini di hadapan mereka,istri durhaka kamu tidak menghargai suami semua kebutuhanmu di rumah ini terpenuhi bahkan Minggu yang lalu aku sudah membeli baju untukmu,tapi kamu sangat tidak tau diri."Ucap Adrian dengan tatapan sinis,rasanya dia cukup malu kepada Abang dan istrinya saat Sovia mengucapkan kata-katanya itu.


"Kamu tidak salah ngomong mas,kebutuhanku yang mana kamu penuhi mas,kamu lupa semenjak aku menjadi istrimu sekalipun kamu belum pernah memberikan aku uang kecuali kemarin itupun karna kamu memberikan aku pekerjaan,mas jangan lupa kamu itu seorang suami sudah sewajarnya kamu bertanggung jawab."Ucap sovia santai,sesekali dia ingin memberikan suaminya pelajaran agar tidak lupa kalau dia sudah menikah.

__ADS_1


Suami macam apa yang tidak pernah memberi uang kepada istrinya,harusnya dia sadar saat dia berani melamar wanita itu artinya dia sudah bertanggung jawab lahir batin,bukan seperti Adrian dia menolak pisah dari orang tuanya karna alasan untuk menghemat biaya hidup mereka.Selama ini Sovia selalu sabar dan ikhlas karna dia yakin suaminya akan berubah seiring berjalannya waktu tapi semakin lama sikapnya semakin membuat Sovia lelah.


Bahkan setahun dia dinikahi oleh Adrian tidak ada perubahan apa pun dari dirinya bahkan bajunya saja baru bertambah beberapa potong itupun karna kemarin Sovia hampir kabur karna tidak tahan dengan ibu mertuanya.


Adrian terdiam mendengar penuturan istrinya,akhirnya dia meninggalkan Sovia yang masih sibuk dengan pekerjaannya.Dia takut gara-gara masalah sepele dia terlambat bekerja apalagi tugasnya sangat banyak dan nanti sore dia ada janji bertemu dengan Raisa.


"Semakin lama Sovia membuatku kesal,dia semakin sering membantah kepadaku,dulu aku menikahinya karena aku melihat dia sangat penurut dan pendiam dan tidak banyak tingkah,kenapa makin kesini sikapnya makin menyebalkan."Adrian beberapa kali mengusap kepalanya hingga dia terlihat berantakan.


Setelah sampai di kantor beberapa pegawai bank melihat wajah kusut Adrian,mereka sedikit merasa aneh karna tidak biasanya Adrian seperti itu.


"Kenapa Lu bro," Tanya salah satu kariawan,dia salah satu teman curhat Adrian di kantor.


"Biasalah,aku kesal kepada istriku,dia mempermalukan aku di hadapan abang ku,rasanya sangat kesal saat istri yang biasanya penurut kini mulai melawan."Jawab Adrian dia sudah duduk di kursinya.


"Bukannya lu bilang istrimu gadis desa yang sangat lugu dan polos,kenapa apakah dia sudah mulai tau tentang scancare,atau dia sudah mulai tau belanja online?" Tanya sahabatnya,Adrian menghela napas berat,dia malu mengakui jika dia pria yang tidak pernah memberikan uang kepada istrinya selama ini.

__ADS_1


****bersambung****


__ADS_2