
Adrian berjalan disekitaran rumah,sampai kebelakang dia mencari semuanya tapi dia belum juga melihat istrinya.
"Kemana sih Sovia!" Ucap adrian,dia berjalan keluar dari gang,mencarinya kejalan umum,walaupun dia tau sebenarnya istrinya kurang suka keluar rumah apalagi sudah malam.
Sementara itu Sovia duduk di halaman mini market,kebetulan disana tersedia kursi dan meja,dia duduk sambil menikmati beberapa macam cemilan,pikirannya sangat frustasi melihat suaminya lebih mengutamakan wanita lain dan mengabaikan dirinya yang sedang hamil muda.
Sovia menatap sekeliling,perasaanya sangat sedih saat suaminya Adrian lebih memilih pergi bersama wanita lain.Tidak terasa air matanya menetes,pengorbanan selama ini kepada suaminya terasa sia-sia,bahkan di saat mereka semua tidak mau mengurus ibunya dia sebagai menantu melakukannya dengan ikhlas,padahal semua yang dia lakukan semata-mata bukan karna dia orang baik tapi karna dia sangat mencintai suaminya.
Sovia mengelus perut ratanya,dia tidak tau bagaimana masa depannya nantinya,padahal dia sudah berjanji kepada ibunya di kampung,dia tidak akan berpisah dengan Adrian apa pun yang terjadi tapi melihat Adrian lebih memilih mengantar Raisa daripada mendengar omongannya rasanya semuanya sia-sia.
"Dek,apa yang kamu lakukan disini?" Tiba-tiba Adrian sudah berdiri di belakangnya,dia langsung menghapus air matanya dia tidak ingin Adrian melihatnya menangis.
"Maafkan aku dek,ayo kita pulang."Ucap Adrian,dia menarik pergelangan tangan Sovia tapi dengan kasar Sovia menghentakkan tangannya.
"Jangan sentuh tanganku,untuk apa kamu kemari,mulai sekarang lebih baik kita jalani hidup kita masing-masing."Ucap Sovia lantang,beberapa orang yang ada ditempat itu menatap kearah mereka,Adrian cukup malu tapi dia tidak berani marah kepada Sovia.
"Sudahlah dek ayo kita pulang,lihat orang-orang ini sudah menatap kita,kamu tidak malu,kalau pun kamu ingin marah,silahkan marah kepadaku,tapi jangan disini."Ucap Adrian,lalu dia Kemabli menarik tangan Sovia dan membawanya kembali kerumah orang tuanya.
__ADS_1
*****
Adrian menarik tangan Sovia dengan kasar dan membawanya kembali kerumah itu,Sovia berusaha melepaskan tangan suaminya tapi tenaganya kalah dengan tenaga suaminya.
"Untuk apa kamu membawa wanita ini kembali kerumah ini Bang,dia itu orang tidak tau diri,harusnya dia ngaca sebelum bertingkah seperti itu."Ucap Amira,dia menyilang kan tangannya sambil menatap sinis kepada Sovia,tapi Sovia tidak gentar sama sekali,dia menatap tatapan Amira,dia tidak peduli lagi siapa pun dirumah ini.
"Amira,jaga bicaramu,kamu itu anak gadis suatu saat kamu juga menikah,kamu tidak boleh seperti itu."Bentak Adrian,dia kesal melihat adiknya yang selalu terlihat mengompori hubungan mereka berdua.
Adrian menarik tangan Sovia lalu masuk kedalam kamar,dia tidak ingin terjadi keributan yang lebih besar dirumah itu karna dia tau Amira tidak akan tinggal diam dengan mereka.Adrian melepaskan pegangannya,lalu dia mengunci kamar dan mengambil kuncinya,setelah itu dia berjalan ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Sovia berjalan ke sudut kamar lalu duduk disana,dia menagis sesenggukan,rasanya dia sudah tidak mampu untuk bertahan kepada pria yang tidak menghargainya sama sekali.Bagaiama bisa suaminya itu tega pergi bersama wanita lain saat dia berada di tempat itu.
Adrian menuruni ranjang,lalu berjalan mendekati Sovia dan dia jongkok,menghadap istrinya,
"Sayang maafkan aku,jangan katakan seperti itu,mulai hari ini aku berjanji tidak akan ada hubungan dengan Raisa,aku janji.Memangnya kamu mau melahirkan tampa suami apa kata orang desa nanti disaat kamu pulang kampung dan kamu tidak punya suami."Ucap Adrian,Sovia menegakkan kepalanya lalu menatap adrian suaminya.
"Mas,aku tidak peduli lagi dengan omongan orang,aku sudah tidak mampu hidup seperti ini terus,aku tidak tau kamu itu suami macam apa,kamu menikahi wanita tapi sedikit pun kamu tidak punya tanggung jawab,bahkan kamu tega melukai perasaanku."Ucap Sovia,dia menepis tangan suaminya yang menggenggam tangannya,setelah itu dia berdiri dan naik keatas ranjang.
__ADS_1
Adrian menghela napas panjang,"Apa pun yang terjadi aku tidak akan menceraikan mu,"Ucap Adrian,dia melihat Sovia yang sudah menutup seluruh tubuhnya dengan selimut,akhirnya dia pergi keluar dari dalam kamar.
Adrian keluar dari dalam kamar,lalu berjalan ke teras rumah disana dia duduk dengan tatapan kosong sesekali dia menarik napas panjang dan membuangnya ke udara.
"Ada apa? Kamu terlihat sangat frustasi apa ini karna istrimu,kenapa kamu tidak menceraikan dia saja,bukankah Raisa jauh lebih baik darinya?" Tanya Raka,tiba-tiba dia sudah duduk di samping adiknya.
"Aku tidak tau bang,aku pusing,jujur saja aku tidak tega melakukan ini kepada Sovia,dia sangat baik dan juga penurut semua ucapan ku,sementara Raisa aku belum mengenali pribadinya secara matang." ucap adrian,dia menyulut rokoknya dalam-dalam lalu membuangnya ke udara.
"Apa cintamu sedalam itu kepada wanita itu,hah,lucu bagaimana bisa seorang gadis desa mengalahkan pesona wanita kota pekerjaan mapan dan anak tunggal."Ucap Raka,dia tertawa mengejek kepada Adrian yang terlalu menjaga istrinya.
"Bagaimana kalau kamu menikahi Raisa secara siri,kamu bisa memanfaatkan wanita itu untuk membantumu membayar cicilan mobilmu,sepertinya dia sangat mencintaimu,beberapa kali aku melihat dia menghubungi Kaka mu untuk menanyakan mu."Ucap Raka,Adrian menatap abangnya dia sangat tidak menyangka jika abangnya Raka tega mengucapkan kata-katanya itu.
"Sudahlah bang,aku tidak kepikiran untuk menceraikannya,apalagi saat ini dia sedang hamil anakku,bagaimana nanti nasib anakku."Ucap Adrian dia kesal dengan abang nya akhirnya dia masuk kedalam kamar dan melihat istrinya sudah tertidur dengan pulas.
"Sovia,maafkan aku,aku sadar jika semua keluarga ku benar-benar tidak menginginkan kehadiranmu,tapi kamu sebagai istri sangat berbakti,harusnya aku sebagai suami tidak melakukan ini kepada mu."Batin Adrian,dia mendekati ranjang lalu membelai wajah lelah istrinya ada rasa bersalah yang sangat dalam di hatinya saat melihat Sovia menangis di hadapannya.
Sadar atau tidak Sovia mendengus saat dia menyentuh wajahnya,karna tidak ingin Sovia memergokinya akhirnya dia buru-buru berjalan menjauh dari istrinya
__ADS_1
*** bersambung ***