Menantu Miskin

Menantu Miskin
bab 29 ~ penganiayaan ~


__ADS_3

Sudah hampir subuh Sovia belum juga bisa tidur,dia terus mencoba menghubungi nomor suaminya tapi sampai saat itu nomor suaminya belum juga aktif.Sovia sangat lelah dia yakin jika Adrian sudah mengkhianati pernikahannya mereka.


"Aku sudah tidak sanggup mempertahankan pernikahan ini,mungkin tujuannya mempertahankan aku bukan karna dia masih mencintaiku,tapi untuk menjadikan aku babu di rumah keluarganya ini saja."Batin Sovia,dia berjalan lemah menuju ranjang lalu mulai memejamkan matanya.


Mungkin karna kelelahan akhirnya Sovia tertidur hingga pada pagi harinya dia terbangun karna mendengar suara Amira yang memanggilnya dengan sangat kasar bahkan menggedor pintu kamarnya.Sovia turun dari ranjang kepalanya sangat pusing dan matanya masih sangat mengantuk.


"Sovia,ini sudah jam berapa kenapa kamu tidak bangun dan tidak menyiapkan sarapan untuk semua orang,kamu pikir kamu siapa,enak sekali kamu sampai jam segini kamu masih tidur." bentak Amira.Sovia acuh dengan kemarahan Amira lalu dia Kemabli masuk kedalam kamar dan naik ke atas ranjang dan tidur kembali.Melihat Sovia yang mengabaikannya kemarahan Amira semakin meninggi dia menendang pintu kamar Sovia,hingga membuat Sovia terbangun lalu menatap sinis ke arah Amira .


"Apaan sih,kalau kamu lapar silahkan makan sendiri,emang kamu pikir selama ini aku mendapat gaji jika aku jadi babu di rumah ini,tidak ya..Mulai hari ini aku tidak sudi menjadi babu di rumah mu ini." Ucap Sovia lalu kembali menarik selimut dan tidur.


Ucapan Sovia memancing emosi dari Amira,dengan kasar dia menarik selimut yang menutup tubuh Sovia,


"Hei kurang ajar,emang kamu pikir kamu itu sehebat apa,kamu mau sok melawan,ingat kamu tidak punya siapa-siapa di kota ini,ibumu yang miskin itu tidak akan tau jika kamu mati disini."Ucap sovia,dia langsung menaiki ranjang Sovia lalu menarik rambut Kaka iparnya dengan kasar hingga Sovia meringis kesakitan.


"Aaahhh sakit....Lepaskan rambutku." ucap Sovia dia berusaha melepaskan tangan Sovia dari rambutnya,tapi Amira sudah seperti kesetanan,dia tidak peduli tangisan Sovia bahkan dia menyeret Sovia dari atas ranjang hingga jatuh kelantai dan mengenai perutnya.


"Tolong lepaskan rambutku,perutku sakit ampuni aku." Sovia terus menjerit kencang hingga mamanya keluar dari kamar dan mencoba sangat keras berjalan menggunakan tongkatnya.Sebuha keajaiban datang mamanya bisa berjalan walau di bantu tongkat,lalu berjalan menuju ruang tamu,di sana dia cukup kaget melihat Amira yang sudah menganiaya Sovia bahkan sampai Sovia tidak sadarkan diri dengan darah berceceran kemana-mana.

__ADS_1


Saat Amira sudah puas menghajar Sovia,tiba-tiba pintu terbuka dan disana Adrian sudah berdiri dan sangat kaget melihat kejadian yang ada di hadapannya.Adrian berlari mendekati Amira lalu mendorong Amira hingga terjatuh kelantai dia sangat kaget melihat Sovia sudah tidak sadarkan diri di lantai.


"Amira apa yang kamu lakukan dasar bodoh,kamu bisa masuk penjara kalau begini,dasar bodoh kasar." Ucap adrian lalu mengangkat tubuh Sovia dan membawanya kedalam mobil dan melarikannya ke rumah sakit.


Sesampainya di sana Adrian sangat ketakutan,dia berulang kali membangunkan Sovia tapi dia tidak bergerak sama sekali dia sangat takut Sovia mati.


Setelah sampai di rumah sakit,beberapa perawat dan dokter langsung menanganinya karna kondisi Sovia yang sudah sangat memprihatikan wajahnya putih pucat seperti kertas.


Melihat kondisi Sovia,dan bayinya tidak tertolong akhirnya dokter memutuskan untuk segera melakukan kuret,Adrian benar-benar tidak menyangka kalau adiknya bisa melakukan hal sekejam itu kepada istrinya Sovia.


Adrian menunggu di luar sampai dokter selesai melakukan operasi kuret untuk istrinya dia sudah tidak sabar menunggu Para dokter itu keluar,karna biar bagaimana pun jahatnya dia selama ini kepada istrinya perasaan takut kehilangan itu tetap ada.


"Ada apa lagi sih,menggangu saja." Ucap adrian lalu menonaktifkan ponselnya dan kembali ke ruang tunggu,dia beberapa kali mengintip dari kaca untuk mengetahui keadaan istrinya.Setelah menunggu beberapa jam akhirnya seluruh dokter keluar,


"Bagaimana keadaan istriku dokter?" Tanya Adrian dengan wajah yang sangat cemas.Dokter menatapnya


"Istri anda sudah mulai sadar,dan dia butuh perawatan serta puding yang banyak,satu hal penting anak anda tidak bisa di tolong istri anda keguguran,sebentar lagi istri anda akan di pindahkan ke ruang perawatan." Ucap dokter lalu meninggalkan Adrian di tempatnya.

__ADS_1


"Sovia,maafkan aku,ini semua salahku seharusnya aku tidak meninggalkan mu semalaman." Ucap adrian,wajahnya terlihat sangat frustasi beberapa kali dia menghentakkan kakinya karna emosi.


Setelah beberapa lama beberapa perawat masuk keruang operasi,dan saat itu Adrian melihat mereka mendorong tubuh Sovia dan membawanya ke ruang perawatan.Setelah mengetahui kamar istrinya Adrian keluar dari rumah sakit lalu pergi menuju super market,dan belanja banyak sekali buah-buahan dan vitamin yang bagus untuk wanita yang baru saja keguguran.


Setelah selesai belanja Adrian bergegas keluar dari super market lalu kembali menemui istrinya,dia menenteng semua barang belanjaannya,dan masuk kedalam ruangan Sovia, beruntung saat itu Sovia hannya sendirian disana belum ada orang lain.


"Sovia,kamu sudah sadar,maafkan aku Sovia,aku tidak menyangka kamu akan mengalami hal seperti ini." Ucap adrian,dia mendekati Sovia yang sudah mulai sadar,tapi saat itu Sovia langsung kembali tidur dan menutup tubuhnya.


Sovia menangis mengetahui keadaannya,belum sempat dia bertemu calon bayinya tapi bayi itu sudah pergi,Sovia tidak bisa menahan diri hingga dia menagis sesenggukan di dalam selimut.Mendengar Sovia menagis adrian lalu membuka selimut yang menutup tubun Sovia,dan saat itu Sovia langsung marah dan menampar Adrian sangat kasar.


"Stop....Jangan ganggu aku bajingan keluar kamu dari sini,pergi..!!!!? kamu dan keluargamu bukan manusia,kalian iblis,aku akan membuat perhitungan kepada kalian semua brengsek...plak.." Sovia memekik dengan sangat keras hingga mengundang perhatian seorang dokter yang kebetulan sedang melewati ruangan Sovia di rawat.


"Ehem.....Tolong volume suaranya di pelan kan nona,karna menganggu pasien lain.Saat melihat Sovia sang dokter sangat kaget,


"Loh,apa kamu lakukan disini lagi? bukankah kamu baru saja keluar dari rumah sakit ini kemarin?" Tanya dokter itu,Sovia menoleh ke arah suara dokter.


"Iya dokter,sesuatu yang mengerikan terjadi kepadaku,huu......huu,seseorang menganiaya ku sampai aku kehilangan calon anakku,tolong aku dokter,

__ADS_1


"Sovia,kamu jangan bertingkah seperti anak kecil,ini sudah takdir dan mungkin juga ink belum rejeki kita kamu harus kuat." Adrian memotong ucapan sovia yang ingin mengadu kepada dokter yang ada di ruangan itu.


*** bersambung***


__ADS_2