
Kehamilan Sovia memasuki usia dua,semenjak kehamilannya Adrian benar-benar berubah kepadanya,pria itu semakin cuek dan tidak mau tau tentangnya membuat dia semakin menderita di rumah mertuanya.
"Mas,kenapa semenjak kehamilanku rasanya kamu sangat jauh berubah,apa kamu tidak menginginkan ana ini?" Tanya Sovia suatu malam saat semuanya sudah mulai istrahat.
"Itu perasaan mu saja,lebih baik kamu istrahat bukan kah besok kamu akan bangun pagi untuk melayani semua orang yang ada di rumah ini,ya maklum lah cuma itu yang bisa kamu lakukan."Ucap Adrian,ketus,Sovia menghela napas panjang,dia pikir setelah dia hamil mertua dan suaminya akan semakin menerimanya tapi kenyataan semuanya jauh dari harapannya.
Melihat Sovia naik keatas ranjang,Adrian langsung pergi meninggalkan istrinya di dalam kamar entah kenapa dia sangat tidak menyukai kehamilan istrinya dia belum siap untuk menjadi seorang ayah,bahkan abangnya saja belum punya anak karna mereka masih ingin menikmati kebahagian bersama istrinya Maria.
Adrian duduk di teras sambil menikmati secangkir kopi,dia menyulut rokoknya dalam-dalam,rasanya kepalanya mau pecah memikirkan semua masalahnya.
"Ada apa denganmu?" Tanya abangnya Leon,yang sudah duduk juga di samping Adrian.
"Nga taulah bang pusing kali aku mikirin biaya hidup setiap bulannya,apalagi sebentar lagi Sovia akan melahirkan makin pusing saja aku nantinya."Ucap Adrian,dia sudah sanggup menahan beban di kepalanya akhirnya dia curhat kepada abangnya.
"Itulah sebabnya kita harus mencari istri yang bisa cari duit juga,bukankah dulu mama melarang kamu menikahi orang kolot seperti istrimu? tapi kamu ngotot memaksakan keinginanmu,sekarang kamu rasakan akibatnya."Jawab Leon,abangnya.Mendengar itu Adrian terdiam,
"Ceraikan saja istrimu,aku bisa kenalkan kamu dengan seorang wanita yang punya pekerjaan mapan,terus dia juga cantik dan modis,bayangkan dia seorang PNS,gajinya sudah besar dan masa depan kalian terjamin lagian dia masih anak gadis,kamu kan ganteng aku yakin dia mau sama kamu."Ucap Leon,Adrian menoleh kesamping memandang abangnya,jujur saja dia sangat tertarik dengan tawaran abangnya Leon.
"Tapi Sovia sedang hamil bang,"Ucap Adrian,bingung.
"Gampang,jalani saja dulu bukan kah istrimu masih lama melahirkan saat dia melahirkan ceraikan dia dan suruh dia pergi membawa anaknya,nanti kalau kamu menikah pastinya kamu bakal dapat anak lagi."Ucap Leon,memberikan solusi yang sangat tidak pantas,dan bodohnya Adrian menerima tawaran sesat abangnya.
__ADS_1
Keesokan harinya Maria dan suaminya pulang begitu cepat dari kantor,mereka pulang bersama wanita yang sangat cantik,dan tidak lupa dia memakai baju dinas pegawai negri nya,
"Wah ada tamu,siapa ini?" Tanya ibu mertuanya dengan sikap yang sudah di atur semanis mungkin.
"Sovia,buatkan teh untuk tamu."Mama mertuanya berteriak dari depan,Sovia dengan langkah malas mulai membuatkan teh untuk keempat orang yang sedang terlihat serius membahas sesuatu.
Sovia berjalan menuju ruang tamu dengan membawa empat gelas teh,mereka mengabaikan kehadiran Sovia,setelah dia memberikan minuman itu Sovia langsung meninggalkan ruang tamu.
Sovia tidak pernah menyangka jika wanita yang menjadi tamu hari ini adalah wanita yang dijodohkan Leon kepada suaminya,bahkan sejak pandangan pertama,mertuanya langsung menyukai Raisa yang datang dengan memakai dinas PNS nya.
"Jadi kamu sudah PNS Raisa,bagus benget,kau sangat yakin anakku pasti jatuh cinta kepadamu nanti,lihat saja penampilan istrinya pria mana yang mau bertahan dengan wanita kumal sepertinya Tante sudah memberikan dia uang untuk membeli baju serta scancare nya tapi dia masih saja tidak mau malah uangnya habis entah kemana."Ucap Lilis menjelekan Sovia di hadapan Raisa wanita yang sangat disukai lilis.
Sovia yang berada di belakang,tidak bisa mendengar pembicaraan mereka,tapi sesekali mereka terdengar tertawa.Hal seperti itu sudah sering terjadi dirumah ini dimana kehadiran Sovia tidak di hargai sama sekali.
"Sovia ngapain kamu menjemput suami mu segala banyak gaya kamu,sekarang kamu kebelakang memasak Raisa sudah lapar ingin makan."Ucap Lilis mama mertuanya.Sovia menatap ke arah suaminya berharap suaminya membela nya di hadapan semua orang tapi kenyataannya dia kembali kecewa karna suaminya malah mendukung ibunya.
"Kamu tidak dengar kata ibu,kamu pergi memasak,kalau tidak kamu pergi ke cafe depan beli saja lauk dari sana."Ucap Adrian suaminya lalu menyerahkan uang ratusan sebanyak dua lembar.
Sovia keluar dari rumah dengan perasaan tidak enak,dia sedikit merasa aneh dengan kepulangan suaminya,dia pulang tidak waktunya dan dia menyerahkan uang banyak untuk membeli makanan untuk wanita yang katanya tamu.
Sepanjang jalan Sovia berusaha untuk berfikiran positif dia tidak ingin membebani pikirannya dengan hal-hal yang tidak baik,dia tidak ingin calon bayinya menderita karna dia terlalu banyak beban pikiran.
__ADS_1
Sovia pulang dengan membawa pesanan suaminya setelah,dia memasuki rumah mertuanya dengan perasan campur aduk,
"Kamu sudah pulang,lama banget kamu beli itu saja,sekarang kamu siapkan di meja makan." Ucap mertuanya,
"Maaf ma,aku mau istrahat,aku sangat kelelahan."Ucap sovia lalu meletakkan bungkusan makanan di meja,semua orang tercengang melihat sikap tidak sopan Sovia.Mertuanya yang sudah emosi berusaha menjaga emosinya dia tidak ingin wanita yang datang kerumahnya melihat sikap aslinya.
"Sudah nga papa,mama yang siapkan kita kebelakang saja."Ucap Lilis.
Mereka menikmati makanan dengan sangat lahap,Raisa terlihat malu-malu apalagi dia duduk persis di samping Adrian.
"Lihat Adrian mencari wanita itu yang kayak Raisa dong,setidaknya mama mama bangga membawanya kemana-mana bukan kayak si benalu itu."Ucap Lilis,dengan senyum semanis mungkin.
Jantung Sovia terus gemetaran,dia tidak tau entah kenapa hatinya mengatakan jika wanita itu memiliki maksud lain ke rumah itu.
"Jika sampai Adrian berani selingkuh atau bermain di belakangku,aku tidak akan memaafkan kalian semua.Selama ini aku cukup sabar tinggal bersama kalian semata-mata bukan karna aku bodoh,tapi aku ingin menunjukkan kepada ibuku jika aku tidak salah pilih."Batin Sovia.Dia terus gelisah di dalam kamar,sesekali dia menyentuh perutnya yang masih terlihat rata.
Sovia mengintip dari jendela saat Adrian mengantar wanita itu pulang,seketika darah sovia mendidih melihat pemandangan menyedihkan itu,Sovia yang menjadi istrinya sudah hampir satu tahun sekali pun Adrian tidak pernah mengijinkannya masuk kedalam mobilnya alasannya karena takut mobilnya kotor,sementara ini baru saja mereka kenal dia sudah mengijinkan wanita itu masuk kedalam mobilnya.
"Sovia keluar dari kamarnya,dia mengabaikan tatapan sinis mertuanya,
"Apa maksud kamu tadi sovia."
__ADS_1
***bersambung****