Menantu Miskin

Menantu Miskin
bab 26 ~ Curiga ~


__ADS_3

Amira berlari mendekati abangnya yang sedang berjalan mesra,bersama Raisa mereka juga sudah menenteng banyak belanjaan sepertinya mereka juga habis belanja.


"Bang..," Adrian mencari suara yang memanggilnya,dan dia sudah melihat adiknya Amira berjalan mendekati mereka.


"Ngapain kamu disini? tanya Adrian,dia sedikit menjauh dari Raisa karna merasa sedikit segan kepada adik perempuannya.


"Sudahlah kak tidak usah segan,aku tidak akan mengadu kepada istri jelek mu itu,lagian untuk apa Abang bertahan dengan wanita seperti itu,sementara ada wanita cantik dan mapan yang menyukai abang."Ucap Amira,Raisa langsung merasa besar kepala saat mendengar ucapan adik pacarnya.


Setelah mengobrol sekian lama akhirnya mereka memutuskan untuk mampir disebuah restoran cepat saji,Amira pamit sebentar untuk menemui pacarnya lalu membatalkan semua janji mereka karna takut abangnya melihat mereka nantinya.Setelah pacarnya pulang Amira kembali menemui kedua abangnya.


"Bang kalian terlihat sangat cocok kenapa,Abang tidak menikahi Kaka Raisa saja,aku sangat yakin mama pasti sangat bahagia jika dia punya menantu yang hebat seperti kak Raisa,kalau sama kakak Maria dari dulu mama juga sudah bahagia." Ucap Amira.Adrian menunduk malu,dia belum kepikiran sampai kesana,yang terpenting sekarang ini dia merasa nyaman bersama Raisa.


"Memangnya tadi kamu tidak kuliah dek makanya kamu bisa disini,kamu sama siapa tadi kesini?" Adrian berusaha mengalihkan pembicaraan Amira karna dia tidak ingin membahas lebih jauh hubungannya dengan Raisa.


sementara itu di rumah,Sovia sudah sibuk mengurus mertuanya,setelah selesai dia meninggalkan mertuanya di kamar,lalu dia berjalan ke dapur dan memasak untuk makan malam mereka.


Sudah beberapa Minggu ini adrian sangat malas bicara kepadanya,bahkan saat dia menegur Adrian jawabannya sangat singkat dan jutek.Sovia terkadang merasa lelah,dan merasa tidak berarti di rumah itu.Sore berganti malam,Sovia mengintip jalanan tapi satu orang pun belum ada yang muncul dirumah itu membuatnya semakin kesepian.

__ADS_1


"Kemana mas Adrian,kenapa sudah larut begini dia belum juga pulang?" Sovia sangat gelisah di rumah bahkan dia sudah mengirim pesan sampai puluhan menanyakan posisi suaminya,tapi sayang pesan darinya tidak berarti di hati Adrian hingga dia tidak membalas satu pun pesan yang dikirim oleh Sovia.


"Siapa sih Kaka dari tadi mengirim pesan kepada mu,Kaka Raisa padahal barusan kalian jumpa tapi dia sudah rindu lagi sama Kaka." Ucap Amira,Adrian mengabaikan ucapan adiknya dia tidak mau memberitahu kalau itu Sovia,karna dia sudah tau Amira akan mencemooh Sovia kembali.


[ Mas ini sudah malam kamu dimana,aku takut terjadi sesuatu kepadamu diluar sana.] Adrian kembali membaca pesan yang dikirim istrinya yang kini ditambah emoticon sedih,dan adrian lagi-lagi mengabaikan pesan yang dikirim istrinya.


"Bang lebih baik pokus menyetir,nanti saja baca pesan-pesan dari kakak itu,sepertinya dia benar-benar sangat mencintai Kaka." ucap Amira,sementara Adrian yang mendengar ucapan adiknya hanya bisa diam.


Sovia keluar dari kamar saat mendengar suara mobil suaminya sudah sampai di halaman dan tidak lama mobil Kaka iparnya juga menyusul,Sovia mengerutkan keningnya saat melihat Amira keluar dari mobil suaminya,entah kenapa tiba-tiba dia merasa tidak enak apa lagi saat Amira menerobos masuk dengan tatapan sinis.


"Mas,kamu dari mana kenapa kamu sampai pulang larut malam begini? kenapa kalian semua bisa pulang bareng." Ucap Sovia yang mengikuti langkah suaminya,


Sovia mengikuti langkah suaminya masuk kedalam kamar mereka,Sovia merasa Adrian benar-benar berubah,rasanya tidak mungkin hannya karna Sovia tiada meminjamkan uang kepadanya Adrian sampai se marah itu kepadanya.


"Mas,kamu kenapa apa yang salah hingga kamu terus mengabaikan aku,katakan mas aku sudah lelah kamu mengabaikan aku." Ucap Sovia,Dia sudah tidak tahan menahannya lagi hingga tidak terasa air mata sudah di tahannya dari tadi akhirnya jatuh juga.


"Mas...Aku lelah,huu..Jika apa kenapa sih mas kamu menikahi aku jika kamu tidak bisa membahagiakan aku,bahkan disaat aku hamil seperti ini sedikit pun kamu tidak memberikan perhatian kepadaku,kamu sadar tidak mas jika anak ini adalah anakmu juga huu." Sovia terus menagis sesenggukan di dalam kamarnya,rasanya dia sudah sangat lelah menahan beban pikirannya yang sudah dua minggu ini di tahannya.

__ADS_1


"Jawab mas,kenapa kamu diam,jika memang kamu tidak punya perasan kepadaku kenapa kamu menikahi aku,bahkan aku rela melawan ibuku demi menikah denganmu,terus kenapa kamu tidak bisa membahagiakan aku mas...Huuuhu..." Sovia melampiaskan seluruh emosinya kepada Adrian,Tapi sayang Adrian tidak tersentuh sedikit pun dengan ucapan Sovia istrinya,dia malah keluar dari kamar menuju teras rumah menikmati semilir angin malam yang begitu menusuk pori-pori.


Melihat suaminya acuh bahkan tidak peduli ke padanya,tiba-tiba perasaan Sovia sangat sakit,dia syok dengan sikap suaminya,mungkin karna kaget dan depresi,Sovia merasa perutnya sangat sakit bahkan sakit sekali seperti di tusuk-tusuk jarum.


Sovia mencengkram perutnya,rasanya dia sudah tidak tahan lagi,menahan rasa sakit yang ada,tapi dia tidak mau minta tolong kepada suaminya karna dia takut pria itu menganggapnya cari perhatian.


Bulir-bulir keringat jatuh di wajah Sovia,dia merasa semakin sakit hingga dia sudah tidak kuat dan kakinya gemetaran menahan bobot tubuhnya yang semakin lemah hingga dia ambruk ke atas ranjang mereka.


Sementara itu,malam semakin larut,adrian merasa semakin dingin apalagi dia hannya memakai kaus tipis,akhirnya dia memutuskan masuk kedalam kamar,karna dia yakin sovia sudah berhenti menagis.


Saat memasuki kamar Adrian merasa aneh dengan posisi Sovia tidur,tapi karna dia masih marah kepada Sovia dia enggan membangunkannya,hingga beberapa saat dia disana Sovia tidak bergerak sedikit pun.


"Apa mungkin dia tidur,tidak biasanya dia tidur dengan posisi seperti itu,apa mungkin dia cari perhatian kepadaku?" Batin Adrian,karna penasaran adrian menyentuh Sovia dengan kakinya,karna tidak bergerak akhirnya Adrian menggoyang tubuh tubuhnya istrinya dengan kuat.


"Sovia,bangun jangan cari perhatian kepadaku,kamu pikir aku peduli padamu,cepat bangun."Ucap adrian sambil terus menggoyang tubuh istrinya.Melihat tubun sovia yang tidak bergerak akhirnya adrian membalikkan Tubun Sovia lalu menepuk- wajah Sovia.


"Sovia...Bangun kamu Sovia."

__ADS_1


*** bersambung****


__ADS_2