
Sovia sibuk membereskan semua pekerjaan yang sudah menumpuk di belakang,dia mengabaikan Amira terus mengoceh kepadanya,sampai akhirnya dia mendengar suara kedua Kaka iparnya yang sudah pulang dari tempat kerjanya.
"Kenapa dengan wajahmu Amira?Tanya Maria yang sudah duduk santai di sopa,Maria selalu sengaja pulang sore untuk menghindari semua pekerjaan di rumah,padahal dia sudah pulang sekolah dari siang tetapi dia pergi kerumah teman-temannya.
"Kesal aku bang,sama kak Sovia,coba Abang pikirkan dia di rumah mengabaikan ibu,dia tidak merawat ibu dengan baik,masak aku pulang tadi dia tidak di rumah,bahkan ibu sampai jatuh dari atas ranjang,dia tidak sadar diri benget,dia dirumah ini makan enak tidur nyaman itu semua karna bang Adrian suaminya punya kerjaan." Amira terlihat masih sangat emosi mengadu kepada abangnya Raka.
Raka menghela napas panjang,baru saja sampai di rumah,dan badannya masih sangat lelah tapi dia sudah harus mendengar ocehan adiknya.Sebenarnya dia tidak bisa terlalu memojokkan Sovia,karna memang hannya dia yang bisa merawat ibunya dengan baik.Sovia mendengar semua yang dikatakan Amira kepada Kaka iparnya,dia hannya bisa pasrah jika memang Abang iparnya itu harus marah kepadanya.
"Dengar itu mas,Sovia itu hannya pura-pura baik saja saat kita ada di rumah,coba kita nga ada di rumah,dia juga kelayapan entah kemana bahkan mengabaikan mama di rumah sendirian."Ucap Maria,dia terlihat mengompori suaminya agar dia meminta uang yang sudah diberikan suaminya kepada Sovia.
"Terus mau kalian apa?" Tanya Raka dan saat itu terdengar suara seakan-akan ada yang memanggil dan semakin lama suara itu semakin terdengar jelas dan ternyata itu suara ibunya yang memanggil mereka.Amira kembali kedalam kamar lalu menghampiri ibunya,dan saat itu dia mencium bau yang sangat menyengat bahkan dia hampir muntah lalu dia mencari asal bau itu ternyata ibunya buang air besar di celananya.Amira sudah tidak tahan mencium bau yang sangat menyengat akhirnya dia berlari kedalam kamar mandi lalu memuntahkan seluruh isi perutnya.
Setelah merasa baikan Amira keluar dari dalam kamar mandi lalu menghampiri abangnya yang masih duduk di ruang tamu,dia sudah bisa menebak apa yang terjadi di dalam kamar,
__ADS_1
"Apa yang terjadi,apa kamu sudah membersihkan kotoran ibu? Tanya Raka,dia ingin melibat bagaimana Amira membantu ibunya,
"Kenapa harus aku bang,suruh Sovia lah,bukankah dia yang harus merawat ibu,dia kan sudah biasa,itu sudah sudah tanggung jawabnya sebagai menantu yang tidak bisa membantu mertuanya dalam bentuk uang,dia hannya bisa melayani ibu dengan ikhlas."Jawab Amira santai,setelah itu dia berlalu ke dapur memanggil Amira yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Kak,lihat itu mama buang air besar,Kaka bersihkan kotorannya."Ucap Amira santai,dia mengambil satu bakwan yang sudah tersaji di atas meja.
"Kamu tidak melihat aku sedang sibuk,bukankah kalian juga tidak ada kegiatan kalian lah yang membersihkan,jangan cuma mengharapkan aku."Ucap sovia,tampa menoleh sedikit pun kepada Amira,dia sudah menduga dari tadi jika mereka pasti tidak akan ada yang mau untuk membersihkan kotoran ibunya.
"Sudahkah kak,tidak usah banyak alasan,cepat Kaka bereskan itu,kamu sebagai menantu harus tau diri,ingat jika kamu sudah menikah dengan Kakaku,ibuku adalah tanggung jawab mu,harusnya kamu bersyukur keluarga ini tidak mengharapkan materi dari mu,jadi itu artinya kamu harus merawat ibuku baik-baik." Ucap Amira,lalu pergi meninggalkan Sovia yang masih sibuk dengan kegiatannya.
"Bodo amat,ya jelaslah aku mencari pria mapan dan tentunya sudah punya rumah,agar aku tidak menderita sepertimu,lagian mana mungkin aku menderita karan aku punya pendidikan,itu artinya nanti aku bisa bekerja dan aku akan membayar pembantu di rumahku."Jawab Amira.
Sovia menghentikan pekerjaannya di dapur lalu menemui ibu mertuanya di kamar,dengan sabar dia membersihkan semua kotoran ibu mertuanya tampa rasa jijik sedikit pun,dia memperlakukan ibu mertuanya sama dengan ibunya di kampung,walaupun mertuanya sangat jahat kepadanya dulu.
__ADS_1
"Bu,semoga ibu semakin menyadari semua sikap buruk mu itu dulu kepadaku,ingat anak kandung mu saja tidak sudi membersikan kotoran mu,tapi aku bisa melakukanya dengan baik bahkan aku ikhlas."Ucap sovia. mendengar ucapan menantinya Lilis sebagai mertua tidak suka mendengar ucapan Sovia,itu terlihat sangat jelas dari wajahnya bahkan dia menarik kakinya hingga Sovia hampir jatuh.
"Hmm,sepertinya ibu sedang marah kepadaku,baiklah Bu aku keluar aku sudah selesai membersihkan nya aku mau melanjutkan pekerjaanku."Ucap sovia lalu keluar dari kamar dan kembali ke dapur.
Saat Sovia kembali melanjutkan pekerjaannya,dia mendengar suara tertawa bahagia dari dalam ruangan sana,dia berjalan lalu mengintip ternyata adik ipar dan Kaka iparnya sedang disana
"Tunggu siapa tamu yang sedang duduk disana,Sovia semakin mengintip dan memperjelas pandangannya ternyata Raisa sudah duduk disana bersama Adrian suaminya.
"Ada ada dengan mas Adrian,kenapa dia bisa duduk bersebelahan dengan wanita itu,apa hubungan kedua manusia itu."Sovia merasa curiga perasaanya sudah tidak enak melihat kedekatan antara Raisa dengan suaminya,bahkan mereka terlihat sangat dekat hampir tidak ada jarak di antara mereka.
Sovia menghentikan pekerjaannya lalu berjalan masuk kedalam ruangan,rasanya dia sangat penasaran dengan hubungan antara Raisa dan suaminya,sebenarnya dia tidak akan curiga jika saja dia tidak melihat senyum yang sangat lebat di wajah suaminya,pada saat mereka bersama.
Sovia masih berdiri di depan pintu,mereka belum melihatnya karna tubuhnya yang kecil masih tertutup oleh gorden,rasanya berat sekali hatinya masuk ke dalam sana karna akan ada banyak sindiran yang dia terimanya nanti dari Kaka dan adik iparnya yang sangat tidak menyukainya.
__ADS_1
""Apa yang Kaka lakukan disini? Kaka menguping pembicaraan kami,atau Kaka merasa cemburu karna bang adrian membawa wanita lain ke rumah ini,secara Raisa dan Kaka sangat jauh berbeda bagai langit dan bumi,dia sudah PNS,dan orang tuanya juga kaya,berbeda dengan Kaka udah miskin,bodoh jelek lagi."Ucap Amira Tampa memikirkan sedikit pun perasaanya,Sovia mengepal jari tangannya ingin sekali dia menghajar mulut adik iparnya itu,tapi dia tidak ingin terpancing sedikit pun.
**** Bersambung****