
Adrian memasukkan mobilnya ke bagasi saat dia sudah sampai dirumah ibunya,tempat dimana dia dan istrinya menumpang hidup.Saat dia sudah memarkirkan mobilnya secara sempurna dia keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumahnya,saat itu matanya langsung tertuju kepada istrinya yang sedang merawat ibunya yang menderita sakit struk.Sesaat Adrian terpana melihat istrinya,dia cukup kagum dengan sikap baik istrinya dimana dia masih bisa memperlakukan ibunya dengan baik padahal selama ini dia dengan jelas melihat ibunya yang tidak pernah menyukai Sovia.
Adrian langsung masuk kedalam rumah dan mengabaikan Abang dan Kaka iparnya yang sedang menonton santai padahal istrinya sedang sibuk mengurusi ibu yang sedang sakit.Terkadang Adrian tidak menyukai sikap maria yang memanfaatkan kebaikan istrinya,tapi dia tidak berani menegur wanita itu karna dia merasa segan dengan abangnya yang sangat mencintai Maria.Adrian masuk kedalam kamar lalu meletakkan tas bawaan ya lalu berjalan menuju dapur dan mengambil air untuk diminum,dia tidak mau lagi menyuruh istrinya karna dia merasa sedikit tidak tega.
"Mas,kenapa pulang sampai larut begini apa kamu rapat lagi? Tanya Sovia sarkas,seketika Adrian menoleh kepadanya,
"Kenapa semua hal harus ku beritahu kepadamu, kenapa sih setiap aku datang kerumah kamu selalu saja cari masalah kepadaku,baru saja aku merasa simpati kepadamu karna kebaikanmu merawat ibuku tapi sikapmu barusan membuatku sangat kesal."Ucap Adrian lalu pergi ke dalam kamar dan membanting pintu dengan kasar.Setelah selesai mengurus ibu mertuanya Sovia mendorong kursi roda milik mertuanya kedalam kamar lalu membantunya untuk tidur di atas ranjang.
Walaupun ibu mertuanya sedang tidak sehat,bahkan sekarang ini dia dalam tahap pengurusan menantunya itu,tapi wajah mertuanya tidak sedikit pun bisa lembut kepada Sovia bahkan terkadang sikapnya sangat mengesalkan Sovia,tapi karna tidak ingin berdosa karan melawan orang tua Sovia hannya bisa mengelus dada.Sovia berharap mertuanya cepat sembuh agar dia bisa mencari kerja dan mulai mengumpulkan uang untuk biaya dia untuk melahirkan beberapa bulan lagi.
Setelah selesai mengurus ibunya Sovia meninggalkan kamar mertuanya,lalu menemui Adrian suaminya di dalam kamar mereka.
"Mas,sepertinya akhir-akhir ini kamu semakin sering pulang malam,bukan kah seharusnya jam lima sore kamu sudah pulang? apa yang kamu lakukan diluar sana,ingat ya mas aku tidak mentolerir jika ada penghianatan di antara kita,aku akan meninggalkan mu disaat kamu berani mengkhianati ku,aku masih bisa memaafkan saat kamu tidak bertanggung jawab untuk biaya hidupku,tapi tidak dengan penghianatan."Ucap sovia.Mendengar keributan di kamar mereka Maria hannya bisa tersenyum merendahkan.
__ADS_1
"Setiap hari berantem,ini rumah tangga atau apaan aku tidak mengerti."Sindir Maria.Sovia dan Adrian saling menatap,Karna merasa malu Adrian keluar dari kamar meninggalkan Sovia istrinya.
"Aarrggghhhh.....Setiap hari ribut,kenapa Sovia semakin hari semakin cepat emosi dan curiga,siapa juga yang selingkuh,aku tidak berniat selingkuh aku hannya bermain-main dengan Raisa,sepertinya wanita itu menyukaiku dan dia sangat mudah untuk di rayu."Batin Adrian,saat itu ponselnya berbunyi dan nomor yang sudah dia kenali menghubungiya.Adrian sengaja tidak menyimpan nomor Raisa,agar Sovia tidak curiga kepadanya.
Adrian berbicara dengan nada yang sangat rendah,bahkan Surabaya nyaris tidak terdengar,dia terlalu asik cerita hingga dia tidak menyadari Sovia sudah berada di belakanganya.
"Mas...." Seketika Adrian mematikan ponselnya lalu memasukkan ponselnya kedalam sakunya,wajahnya tiba-tiba terlihat pucat dan dia salah tingkah di hadapan Sovia,
Sovia selalu mempercayai suaminya,bahkan beberapa bulan yang lalu ibunya menjodohkan Adrian dengan seorang bidan tapi dia masih honor,tapi dengan tegas Adrian menolak,karna alasan dia sudah menikah dan punya istri,dan hal itu membuat mertuanya semakin membencinya,sementara Sovia sangat bahagia karna suaminya seorang pria yang sangat setia.
"Kamu tadi mau merundingkan apa denganku?" tanya Adrian saat perasaanya sudah mulai lega karna Sovia tidak mendengar pembicaranya dengan Raisa,gadis yang menurutnya jatuh hati kepadanya.
"Mas,aku harus kerja,tidak bisakah kita semua gantian mengurus ibu dirumah ini,atau tidak Amira biarlah dia pulang pergi kuliah dari rumah biar bisa mengurus ibu,aku butuh uang mas,padahal lima bulan lagi aku sudah melahirkan mas."Ucap Sovia,dia sangat berharap suaminya memberinya ijin untuk dia bekerja.
__ADS_1
"Kamu jangan mempermalukan aku kenapa sih dek,apa kata orang kalau sempat kamu bekerja kayak begituan,sementara pekerjaanku sangat bagus,aku malu dek aku tau aku belum bisa memberimu apa-apa tapi tolong jangan mempermalukan aku."Ucap Adrian,dia merasa frustasi karna dia merasa semakin sulit untuk mengendalikan istrinya.
"Terus bagaimana nanti jika aku mau melahirkan mas,biayanya cari mana,tidak sedikit Lo mas biaya mau melahirkan butuh uang jutaan belum lagi kalau aku operasi,aku sih berharap bisa lahiran secara normal,tapi kita kan tidak tau kedepannya seperti apa mas."Jawab Sovia,rasanya sangat tidak nyaman saat dia mengatakan semua yang ada di hatinya,tapi mau gimana lagi dia harus mengatakan yang sebenarnya agar suaminya tidak lepas dari tanggung jawabnya.
"Entahlah,aku juga pening,tapi apa pun yang terjadi aku tidak mau kamu kerja menjadi pelayan di warung Bu RT,lagian kamu tau suaminya itu pria yang tidak baik,kamu tidak takut jika dia menggoda mu,dia itu sering menggoda para pelayannya."Ucap Adrian menakut-nakuti istrinya,padahal dia tidak tau sama sekali.
Sovia menghela napas berat,rasanya sangat sulit menerima kenyataan saat suaminya tidak memberinya ijin untuk bekerja,padahal dia melakukan itu agar bisa membantu bebannya,tapi begitulah keluarga suaminya mereka terkadang lebih menjaga gengsi dan harga diri,mereka terlihat sangat malu saat para tetangga tau jika ada bagian dari keluarganya bekerja tidak sesuai dengan kwalitas mereka.
Sovia akhirnya memutuskan meninggalkan suaminya diluar dan berjalan masuk kedalam kamar,sekarang dia mulai pusing memikirkan biayanya nanti untuk melahirkan sementara meskipun dia mati-matian mengurus mertuanya Kaka iparnya sedikit pun tidak pengertian kepadanya,
"Bagaimana kalau aku minta Kaka ipar saja yang memberiku gaji bukankah dia banyak uang,lagian mereka belum punya anak,dan sepertinya mereka jarang membayar jatah bulanan kepada mama." Pikir Sovia.
**** bersambung ***"
__ADS_1