
Sovia hannya bisa menggeleng saat melihat tumpukan pakaian kotor di kamar mandi, dan semua piring kotor,mungkin dari kemarin Maria membiarkan semuanya.Melihat semua ini Sovia hannya bisa menghela napas panjang ingin sekali rasanya dia membiarkan semua pekerjaan itu tampa peduli,tapi dia termasuk wanita yang menyukai kebersihan,dia sangat tidak mampu melihat semua berantakan apalagi kamar mandi dan dapurnya.
Sangat berbeda dengan maria wanita yang tidak peduli dengan kebersihan,dan hannya peduli kepada dirinya sendiri.Tampa pikir panjang Sovia mulai membereskan semuanya,dia tidak peduli lagi dengan sikap Kaka iparnya yang penting dia mengerjakan apa yang bisa dia lakukan.
Saat hari sudah mulai siang akhirnya semua pekerjaannya sudah beres,piring-piring sudah rapi dan saat itu juga dia mendengar mobil milik Kaka iparnya sudah memasuki halaman rumah.
Karna malas menyambut kedatangan mertuanya Sovia berjalan memasuki kamarnya karna dia sudah sangat lelah dengan pekerjaan yang sangat menumpuk,dia akhirnya merebahkan tubuhnya dia atas ranjang dan mulai beristirahat.
Saat matanya mulai terlelap tiba-tiba sovia mendengar Amira adik iparnya memanggilnya rasanya dia sangat enggan untuk keluar karna dia masih sangat lelah tapi karna amira tidak mau diam akhirnya Sovia keluar dari dalam kamarnya.
"Apaan sih!kalian nga bisa ya melihatku istrahat walau hannya sejenak,kenapa dari tadi memanggilku?" Ucap Sovia kesal,Amira cukup tercengang melihat keberanian Sovia untuk melawannya,padahal biasanya Sovia tidak akan berani melawan.
"Kakak gila ya,mama baru pulang dari rumah sakit tapi Kaka tidak peduli sama sekali malah Kaka enak-enakan tidur di dalam kamar,awas saja aku akan mengadukan sikap buruk mu ini sama kak Adrian." Ucap Amira,Sovia tidak peduli dengan ancaman adik iparnya karna baginya berbuat baik pun kepada keluarga suaminya tidak akan ada gunanya karna dia tetap akan tetap tidak di hargai.
"Adukan saja aku tidak peduli,sekalian bilang sama Abang mu itu agar dia menceraikan aku," Ucap Sovia lantang hingga membuat Amira membelalakkan matanya.Baru beberapa bulan tidak pulang kerumah ini Sovia sudah mempertontonkan sesuatu yang cukup membuat Amira kaget.
"Sovia!!Semakin hari sikap mu semakin keterlaluan,kamu pikir kamu siapa,kamu nga sadar kamu hannya wanita miskin,bahkan orang tua mu juga miskin,kenapa kamu tidak bisa menjaga sikap di rumah ini?" Abang iparnya tiba-tiba menyela pembicaraan mereka,dia sangat emosi melihat sovia semakin berani melawan mereka.
Sovia terdiam saat mendengar Abang iparnya marah kepadanya,akhirnya dia berjalan mendekati mama mertuanya lalu mendorong kursi rodanya dan membawanya kedalam kamar.
__ADS_1
"Sovia kamu harus masak bubur untuk mama,karna dia belum sarapan."Amira berteriak dari ruang tamu,mendengar itu emosi Sovia kembali naik,dia tidak bisa berkata-kata saat ketiga anak mertuanya tidak ada yang peduli kepada mertuanya.
Sovia membantu ibunya turun dari kursi roda lalu merebahkannya di atas ranjang.Mengingat semua perbuatan buruk mertuanya ingin sekali rasanya dia mengabaikan mertuanya itu, tapi dia sangat tidak tega apalagi saat melihat wajah memelas mertuanya.
Melihat ibu mertuanya yang sudah berbaring lemah di atas ranjang akhirnya Sovia keluar dari kamar menuju dapur untuk memasak bubur untuk mertuanya,saat dia melewati ruang tamu dia melihat Amira yang sedang bermain ponsel dengan kaki di atas meja.
"Dasar wanita tidak punya etika dan sopan santun,bagaimana bisa dia lebih mengutamakan bermain ponsel dari pada mengurus mamanya yang sakit keras!" Sungut Sovia sambil berlalu meninggalkan wanita itu,sementara Abang iparnya sudah kembali ke kantornya.
*****
Adrian terlihat memasuki restoran bersama Raisa,mereka terlihat sangat dekat dan terlihat jelas kebahagian di wajah mereka masing-masing.
Raisa seorang gadis yang sangat cantik dan mapan,dia bekerja di kantor pemerintahan dan sudah memiliki jabatan yang lumayan.Adrian sangat bangga saat bisa mengajaknya makan di restoran karna semua orang melihat kecocokan mereka berdua.
"Sudahlah kita tidak usah membahasnya,kepalaku pening mengingatnya,aku juga tidak tau kenapa dulu aku bisa melamar wanita seperti itu,benar kata mamaku dulu aku buta tidak bisa melihat mana yang pantas untukku."Ucap Adrian seakan mengatakan kalau dia menyesal menikah dengan istrinya Sovia.
"Ah...kamu bisa saja mas,bukan kah itu pilihan hidupmu."Ucap Raisa sok manja,jujur saja raisa dari pertemuan pertama sudah sangat tertarik dengan Adrian pemuda yang sangat tampan dan juga pekerjaannya sudah mapan.
Mereka terlihat menikmati makanan yang tersaji dimeja,sesekali mereka tertawa riang,Adrian sangat suka kepribadian Raisa yang humoris dan tidak banyak maunya.
__ADS_1
Setelah selesai makan mereka,keluar dari restoran,karna hari masih terang Adrian membawa Raisa keliling kota,mereka menikmati suasana sore di dalam mobil sambil menikmati pemandangan orang-orang yang akan kembali kerumah masing-masing.Walaupun cara sederhana tapi Adrian bisa membuat Raisa terlihat bahagia.
"Raisa kamu sudah punya pacar atau calon suami mungkin?" Tanya Adrian basa-basi,untuk memecah keheningan yang ada di antara mereka.Raisa terlihat senyum menanggapi pertanyaan Adrian tunggu,Adrian sangat menyukai senyum Raisa bahkan lesung Pipit yang menghiasi wajah putihnya.
"Harus kuakui Raisa memang sangat jauh berbeda,dengan Sovia,Raisa wanita karier dan orang tuanya orang kaya,sementara Sovia hannya wanita desa yang tidak punya apa-apa.Dan wajar saja orang tuanya sangat tidak menyukai Sovia.
"Hei...Adrian kok kamu malah melamun sih,mikirin apa sih?" Tanya Raisa malu-malu,Adrian tersenyum saat Raisa mengagetkannya.
"Nga papa,aku cuma merasa senang saja,aku bisa jalan-jalan bersama wanita secantik kamu."Ucap adrian.Raisa terlihat malu-malu membuat Adrian semakin gemas,entah karena Adrian sudah lama tidak menyentuh istrinya entah kenapa tiba-tiba pikirannya melayang apa lagi saat itu sengaja atau tidak Raisa menyingkap roknya naik keatas hingga menampakkan paha mulusnya.Adrian menepikan mobilnya lalu menatap kearah Raisa,
"Raisa,kamu sangat menggoda."Ucap Adrian lalu,dia mendekati wajah raisa dan mendaratkan ciuman di bibir raisa.Lama mereka terbuai,hingga pada saat itu mobil lewat membunyikan klakson yang sangat kuat hingga keduanya kaget dan melepaskan ciuman mereka.
"Ma_maafkan aku Raisa,aku khilaf."Ucap Adrian,raisa yang malu-malu menunduk dan tidak tau harus ngapain.
"Mas kita pulang yuk!" Akhirnya Adrian mengantar Raisa sampai ke depan rumahnya,saat itu karna hari sudah mulai sore Adrian langsung pamit pulang.
Sepanjang perjalanan Adrian memikirkan yang terjadi barusan,sejujurnya dia sangat takut jika suatu saat istrinya mengetahui perbuatannya.
*** bersambung***
__ADS_1