
Dimas tertawa lepas mendengar ucapan Rosa,bagaimana bisa Rosa berbicara demikian kepadanya,memangnya apa hubungan keluarganya yang mengontrak dengan dia yang menyukai Rosa,
"Hahaha,kamu lucu,apa hubungannya,dan yang menikah itu aku,bukan orang tuaku,jika mereka tidak memberi restu untuknya itu tidak masalah bagiku toh aku sudah punya rumah sendiri,lagian orang tuaku,bukan orang sombong yang menilai orang dari harta atau apa pun itu." Ucap Dimas,Rosa sedikit tertarik dengan kata-kata Dimas,tapi dia mengingat kembali pesan ibunya agar tidak mudah tergoda dengan pria walaupun sebenarnya dia sudah samanya menyukai Dimas.
"Mas,lebih baik kita jalani saja dulu,lebih baik kita saling mengenal lebih dalam jika memang cocok kita lanjut ke jenjang pernikahan mas." Ucap Rosa,dia tidak ingin terburu-buru yang membuatnya menyesal nantinya.
"Baiklah,terima kasih karena sudah memberikan aku waktu." Jawab Dimas,Rosa mengangguk,dia menatap wajah Dimas diam-diam,jujur saja dia sangat tergoda dengan pria itu.
****
Sementara itu di rumah Lilis,sudah tidak ada sedikit pun kedamaian disana,Lilis yang tiap hari marah-marah,kepada semua orang membuat Raka juga merasa tidak tenang.
"Mah,bisa tidak mama itu tenang sedikit kami juga stres ma memikirkan semua masalah ini,tadi calon suaminya amira menghubungiku,katanya hari ini dia akan datang,setidaknya ma bantulah amira untuk membersihkan diri,walaupun dia sudah tau keadaan Amira kita harus menunjukkan sedikit rasa iba kita kepada Amira." Ucap Raka yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.Sementara itu semenjak Adrian minggat dari rumahnya,Raisa juga tidak pernah kembali lagi ke rumah itu.
"Oohh,jadi sekarang pria itu datang,baiklah mama akan mengurus Amira,Maria, bantu mama untuk membersihkan rumah ini,aku tidak ingin pria itu menganggap remeh keluarga ini." Ucap Lilis.
"Baik ma." Maria langsung beranjak dari tempat duduknya,cuma Maria yang bisa bertahan dengan mertuanya yang begitu egois dan sombong itu karena Maria selalu menuruti kemauan ibu mertuanya sementara Raka begitu baik kepadanya.
__ADS_1
Setelah satu jam menunggu,akhirnya Stevan sampai di rumah,keluarga Adrian,dia Lilis menyambutnya dengan wajah berusaha ramah,dia cukup kaget melihat Steven karena ternyata pria itu datang dengan menaiki mobil,dan juga dia begitu tampan.
"Silahkan masuk nak steven maaf,kami tidak menyambut dengan baik karena kami baru tau jika nak steven bakal datang hari ini." Ucap Lilis,dia berusaha bersikap semanis mungkin di hadapan Steven.
"Tampan juga pria ini,dan penampilannya juga persis seperti anak orang berada,baiklah tidak sia-sia aku membayar mahal kamu,setidaknya orang-orang komplek ini tidak akan mencibir lagi kepadaku." batin Lilis,Maria datang membawa kopi lalu memberinya kepada Steven.
"Kalau boleh tau,kamu kerja dimana nak?
"Mama,kenapa langsung menanyakan hal itu,panggil saja Amira,lebih dulu dan jelaskan semuanya ." Ucap Raka menegur sikap ibunya yang sangat menyebalkan menurutnya.
"Sepertinya mama lupa kalau pria ini di bayar mahal untuk menikahi Amira,apa pun pekerjaannya tidak ada hubungannya dengan keluarga ini,belum tentu juga dia menyukai Amira untuk selamanya." Batin Raka,wajahnya terlihat sangat kesal.
Amira keluar dari dalam kamar,wajahnya yang pucat di tutupi oleh bedak agar terlihat lebih segar,tubuhnya sudah sangat kurus,dan dia terlihat sangat lemah,mungkin karena dia terlalu banyak beban pikiran.
"Amira duduk di hadapan Stevan,dia menundukkan wajahnya karena dia begitu malu dengan keadaanya,semenjak hamil Amira sangat banyak berubah,dia semakin pendiam,dan tidak banyak tingkah,bahkan dia sangat menyesal pernah berbuat jahat kepada Kaka iparnya Sovia.
"Nak steven ini anak kami Amira mungkin kamu sudah tau segalanya tentang anakku,tante harap kamu bisa menuntun dia menjadi wanita yang lebih baik dari sekarang." Ucap Lilis,Steven memandang ke arah Amira,ada sedikit rasa jijik kepada wanita itu,tapi demi uang lima puluh juta dia rela,melakukan itu menikahi wanita yang sudah kotor.
__ADS_1
"Baik tante,dan kapan kami akan di nikahkan tante sebaiknya lebih cepat lebih baik,tidak perlu di lama-lama kan lagi karena bulan depan aku akan melakukan perjalan bisnis ke Kalimantan." Ucap steven,mendengar ucapan Steven seketika mata Lilis berbinar,ternyata calon menantunya itu orang pebisnis juga
"Satu Minggu lagi, bisa nak,kami akan mempersiapkan segalanya Minggu ini," Jawab Lilis.Setelah mereka menyepakati semuanya steven meninggalkan rumah keluarga calon istrinya,dia kembali dengan wajah bahagia membayangkan uang yang dia dapatkan dari keluarga itu dengan berkorban sedikit saja.Steven berangkat menemui Raisa yang sudah menunggunya di sebuah cafe,Mereka sudah berjanji sebelumnya akan bertemu di tempat itu,mereka melakukan kerja sama yang menguntungkan itu.
"Bagaimana,kamu sudah bertemu dengan keluarga itu? bagaimana dengan Amira kamu sudah bertemu dengannya apakah dia cantik menurutmu?" Raisa langsung menodongnya dengan banyak pertanyaan,dia sudah tidak sabar ingin memiliki uang yang sudah di janjikan.
"Sudah...Apa untungnya dia cantik atau tidak,intinya dia seorang wanita yang sudah kotor,sebenarnya aku jijik untuk menikahi wanita itu tapi demi uang aku mau melakukannya,untung sekali keluarga itu tidak menyinggung Maslah keluargaku." Ucap steven bangga.
Raisa dan Stevan terlihat begitu bahagia,mereka mengobrol panjang lebar sesekali mereka tertawa lepas.Tampa sengaja,Raisa melihat adrian yang baru saja keluar dari mobilnya,Raisa langsung beranjak dari tempat duduknya menuju toilet lalu meninggalkan cafe setelah mengirim pesan kepada Steven.
Adrian memasuki cafe itu dan tampa sengaja dia bertemu dengan Stevan yang hendak keluar,dari sana.
"Kamu disini? sedang menunggu seseorang?" Tanya adrian penuh curiga,Stevan sedikit bahagia beruntung karena adrian tidak memergokinya bersama Raisa kalau tidak bisa gagal rencananya untuk dapat uang banyak.
"T_tidak,aku hannya kebetulan istrahat disini setelah bertemu dengan orang tuamu,dan bertemu dengan Amira,mungkin Sabtu besok acara pernikahanku dengan Amira,kenapa kamu tidak ada di sana tadi?"
*** bersambung***
__ADS_1