
Keesokan harinya,Adrian melunasi semua tagihan rumah sakit Sovia,setelah itu mereka segera meninggalkan rumah sakit,Adrian tidak banyak bicara begitu juga dengan Sovia,mereka terlihat sangat canggung.
"Maaf mas,aku belum bisa membayar uang tagihan rumah sakit ku hari ini,aku belum cukup uang nanti kalau aku sudah bisa kembali jualan aku akan membayarnya kepada mu." Ucap Sovia,tatapannya lurus ke depan,pikirannya sudah bulat untuk meninggalkan suaminya.Apa yang di pertahankan dari seorang suami seperti Adrian,pelit tidak menghargai suami bahkan Sovia curiga suaminya sudah berselingkuh dengan Raisa wanita yang selalu menemuinya kemana pun.
"Sudahlah Sovia kamu tidak perlu memikirkan itu,kamu pokus untuk kesehatanmu semoga Allah memberi kita rejeki lagi supaya kamu secepatnya hamil kembali." Jawab Adrian.Sovia tersenyum kecut,ingin sekali rasanya dia meludahi wajah pria yang sudah menikahinya satu tahun yang lalu,tapi dia tidak melakukan ini Karna saat ini dia ingin membalaskan dendam kepada keluarga suaminya terlebih kepada adik iparnya yang sudah membuatnya banyak menderita selama ini.
Akhirnya meteka sampai juga di rumah ibu mertuanya,tetapi berhubung hari sudah lumayan siang mereka tidak menemukan orang di rumah kecuali mertuanya yang sudah mulai sehat bahkan sudah bisa bicara walau belum sempurna seperti biasanya.
Sesampainya disana ibu mertuanya sudah menyambut mereka dengan tatapan yang sangat menjijikan bagi Sovia,tapi dia tidak peduli sedikit pun kepada wanita itu, yang sudah membuatnya menderita selama setahun mengabdi menjadi istri dari anaknya.
"Sovia,aku antar kamu ke kamar,karna aku harus berangkat kerja lagi,kamu tidak perlu membereskan itu semua,biarkan Amira dan juga Maria yang mengurusnya nanti." Ucap adrian,Sovia hannya diam dan tidak mau bicara,dia tidak mau lagi terpengaruh dengan sikap suaminya yang pandai berpura-pura.
"adlian enapa amu membiakkan dia tidul enjaan sudah anyak " Sovia mendengar ibunya protes saat Adrian mengijinkan Sovia untuk istrahat.
"Apaan sih ma,aku tidak mengerti ucapan mu,Sovia harus istrahat karna dia baru saja kehilangan bayinya." Jawab Adrian saat dia sudah keluar dari kamar istrinya.
Setelah Sovia mendengar mobil suaminya semakin menjauh Sovia mengambil kotak tempat dia menyimpan uang hasil dagangannya selama ini,dia menghitung uang ternyata masih ada sebanyak tiga juta Lima ratus rupiah,Sovia menghela napas berat karna dia harus menggunakan uang itu untuk mencari kontrakan dan juga ongkos dia pulang ke kampungnya untuk menjemput orang tuanya untuk tinggal di kota.
__ADS_1
"Mungkin aku harus menjual hape ini,lagian kalau aku dan keluargaku sudah tinggal bersama,aku tidak butuh ponsel lagi." Ucap Sovia,dia mengambil kotak ponselnya lalu memasukkan kedalam koper.Sovia sudah mulai menyusun semua baju-bajunya,hari ini dia memutuskan untuk mencari kontrakan,dia harus membawa semua barangnya termasuk peralatan jualannya.
Setelah Sovia selesai memasukkan seluruh bajunya ke dalam koper,dia membuka pintu kamar,lalu keluar untuk mencari keberadaan ibu mertuanya,dia tidak ingin mertuanya tau kalau dia kabur dari rumahnya.
Sovia keluar dari dalam kamar,melihat ruang tamu yang kosong akhirnya dia mengintip kamar mertuanya bersyukur wanita itu sudah tidur di dalam kamar.
Sovia lalu Kemabli ke kamar lalu mengangkat kopernya pelan-pelan lalu memasukkan kedalam laci gerobaknya,supaya tetangga tidak ada yang curiga lalu melaporkan kepada keluarganya nanti.
Sovia menghela napas lega,akhirnya dia bisa keluar dari gang rumah mertuanya tampa ada yang curiga sama sekali.Seperti biasa Sovia menitipkan gerobaknya di rumah,seseorang,dia sudah biasa menitip barang-barang kesana dengan biaya dua puluh ribu rupiah.
Setelah mencari beberapa jam,akhirnya Sovia menemukan kontarakan yang cocok,lumayan mahal tapi karna sedikit besar sovia tidak banyak komentar.
"Baik pak,aku membayar kontrakan untuk dua bulan ke depan,air sama listrik beres semua kan pak?" Ucap sovia.Dia langsung memasukkan kopernya kedalam kontrakan setelah dia membersihkan.
"Rumah sudah dapat,sekarang aku tinggal membawa gerobak kesini,setelah itu aku pulang kampung untuk menjemput ibuku,aku dan adikku akan jualan disini itu jauh lebih baik,dari pada hidup dikampung hannya kuli sawah orang kaya,ibumu sudah tua,dia sudah tidak kuat harus ke sawah setiap hari." Batin Sovia,dia terdiam menatap rumah kontrakan yang masih kosong tampa perabotan.
Setelah selesai membersihkan semua barang-barangnya, dan juga gerobaknya sudah di di halaman kontrakan,Sovia pergi naik angkot menuju terminal tujuan desanya.
__ADS_1
Sovia naik bus menuju kampung halamannya,dia menghabiskan waktu selama lima jam di dalam bus untuk sampai ke tempat tuannya,setelah sampai di terminal,dia harus naik angkot lagi kira- kira setengah jam menuju rumahnya.
Sovia sangat merindukan desanya ini,setelah menikah dan dia dibawa ke kota,Sovia tidak pernah pulang sekalipun,karna dia tidak punya uang dan Adrian tidak pernah mau kembali menemaninya pulang ke rumah ibunya.Dari kejauhan Sovia sudah melihat gubuk reok nya.Saat angkot yang di tumpangi nya berhenti di depan rumahnya,Sovia langsung bergegas keluar,tidak lupa mengambil oleh-oleh yang dibelinya tadi saat dia masih di kota.
"Ibu....ibu,kalian di mana?" Sovia mengetuk pintu,tapi sudah beberapa ketukan rumah belum terbuka sepertinya memang tidak ada orang di rumah itu.
"Sovia,iya kamu Sovia kan,wah kamu tambah cantik saja setelah kamu dinikahi orang kota,suami kamu dimana kamu pulang sendirian ya?" Tanya seorang tetangga yang kebetulan lewat.
"Dia tidak ada waktu bude,karna dia harus bekerja,ibuku dimana ya bude inikan sudah sore apa mungkin mereka masih di sawah." Tanya Sovia,dia berulang-ulang,mencarinya kebelakang rumah.
"Mungkin mereka masih di sawah,karna tadi lagi mereka menanam padi di ladang Bu RT." Ucap tetangga setelah basa-basi tetangga itu pulang,meninggalkan sovia di rumahnya.
Sovia menunggu orang tuanya di rumah,Karna tidak mungkin lagi dia pergi mencari ibunya ke sawah apalagi hari sudah lumayan gelap.
"Lama sekali mereka pulang,kalau begini terus lama-lama ibu akan sakit,aku tidak akan membiarkan ibu tinggal di desa ini lagi,lebih baik aku bawa mereka ke kota." Batin Sovia sambil duduk di kursi yang tersedia di teras rumah.Sovia melamun sendiri memikirkan rancangan masa depannya dan juga keluarganya.Tiba-tiba dia kaget saat ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk.
*** bersambung***
__ADS_1