
Amira tetap memilih diam dan merahasiakan siapa pemilik janin yang ada di rahimnya sehingga ibunya terus marah-marah sepanjang waktu di rumah.
Sudah satu bulan setelah pernikahan adrian dengan Raisa,dan Adrian tetap memilih tinggal di rumah ibunya karena dia tidak ingin tinggal serumah dengan kedua mertua nya yang kurang menyukainya.Sejak menikah dengan Raisa adrian sangat berubah menjadi pendiam,bahkan dia sangat jarang menyentuh Raisa,dia hannya menyentuh Raisa jika Raisa memintanya hal itu membuat Raisa kesal kepadanya.
Pada suatu malam mereka berdua berantem karena adrian yang mengabaikan Raisa dari pagi hingga malam,
"Mas kamu kenapa selalu bersikap seperti itu kepadaku? Kamu belum siap menerima kehadiranku? apa sampai hari ini kamu belum bisa meluapkan mantan istri sialan mu itu? Ucap Raisa dengan nada tinggi,dia sudah tidak sabar dengan sikap adrian selama mereka menikah.
Adrian memilih diam,semakin hari dia semakin jijik melihat sikap Raisa yang selalu menuntut banyak hal kepadanya.
"Mas,hari ini sudah gajian mana gaji mu kenapa sampai malam begini kamu belum juga memberikan gaji mu kepadaku,apa kamu tidak akan menunjukkan tanggung jawab mu kepadaku?" Tanya Raisa dia mulai merendahkan nada bicaranya karena dia takut Adrian tidak memberinya jatah bulanan.
Adrian membalikan badannya,lalu menatap sinis kepada Raisa rasanya dia sangat kesal kepada wanita yang ada di hadapannya ingin sekali dia memakinya.
"Apa yang kamu katakan gaji,kamu itu tidak tau diri banget ya,kamu kan ada gaji untuk apa kamu mengharapkan uang dariku," Ucap Adrian dia langsung duduk di atas ranjang,karena sudah tidak mood untuk tidur.
__ADS_1
"Mas tidak bisa begitu dong,terus kamu tidak memberikan aku gaji karena aku juga ada penghasilan enak banget kamu jadi pria,kamu pikir menikah denganku hannya untuk apa,untuk melayani mu dan menemanimu tidur begitu maksudmu." Ucap Raisa dia mulai tersulut emosi,melihat sikap adrian yang seenaknya.Akhirnya keributan tidak bisa di hindarkan sehingga Lilis dengan emosi menendang pintu kamar mereka.
"dasar orang tidak tau tata krama ini sudah malam kalian masih saja ribut,entah apa yang kalian ributkan." Ucap mama Lilis,Adrian dan juga Raisa sangat kaget,melihat ibunya yang sudah berdiri di depan pintu.
"Maaf ma,kalau kami sudah membuat Keributan malam-malam begini,aku sangat kesal kepada Adrian ma,dia tidak memberikan gajinya kepadaku,bukankah aku ini istrinya aku yang berhak atas gajinya ma." Ucap Raisa,mamanya langsung membelalakkan matanya.
"Raisa kamu jangan marah ya,mama kok merasa kamu keterlaluan sekali ya,kamu kan ada gaji untuk apa kamu meminta gaji dari suamimu lagi bahkan gaji mu,jauh lebih besar dari pada gaji suami mu,kamu bahkan kamu tau kalau mobil suami mu masih menyicil seharusnya kamu membantu suamimu malah menuntut seperti ini." Ucap Lilis dengan nada sinis dia sangat kesal kepada Raisa yang sedang berdiri di pinggiran ranjang.
Raisa langsung marah, dia mengambil kunci mobilnya,dan keluar dari rumah mertuanya. Dia sangat kesal kepada ibu mertuanya dan juga suaminya yang sama-sama tidak bertanggung jawab.
Sementara itu Adrian sama sekali tidak peduli saat Raisa memilih pergi malah dia merasa senang akhirnya dia bebas dari sangat menyebalkan itu.Adrian keluar dari kamarnya karena dia tidak bisa tidur dia berjalan menuju sopa lalu menonton acara televisi yang sangat membosankan baginya.Andaikan dia tau dimana alamat Sovia mungkin dia sudah menemui istrinya itu karena dia sangat merindukannya.Walaupun mereka sudah lama tidak bertemu sedikit pun Adrian tidak merasa kalau mereka sudah cerai.
Pada saat dia sedang asik dalam pikirannya tiba-tiba dia melihat Amira berlari ke dalam kamar mandi lalu memegangi perutnya,dia sedikit kasihan kepada adiknya itu karena dia hamil dan prianya tidak mau tanggung jawab kepadanya.
"Hoek....Hoek.....Hoek...!" Amira mengeluarkan seluruh isi perutnya,semenjak dia hamil Indra penciumannya sangat tajam,sehingga dia tidak bisa mencium sesuatu yang sangat bauk atau wangi yang menusuk hidung.
__ADS_1
"Ini air putih,makanya seharusnya kamu jujur sama mama,biar dia yang mengurusnya untuk apa kamu menutupinya dari mama,lagian ya kalau dia berani berbuat seharunya dia berani bertanggung jawab."Ucap Adrian sambil menyodorkan segelas air putih untuk adik perempuannya.
"Dia sudah punya istri Bang,aku tidak tau kalau dia sudah menikah istrinya pernah menghajar aku disebuah pusat perbelanjaan." Jawab Amira,dia menerobos keluar dari pintu kamar mandi menuju ruang tamu.
"Apa kamu bilang,dia sudah punya istri?" Dasar wanita gatal kamu bisa-bisanya kamu berpacaran dengan pria seperti itu mama tidak pernah mengajarimu untuk melakukan itu plak..." Lilis kembali melayangkan tamparan ke wajah Amira,hingga membuat Amira terpental ke lantai.
"Sudahlah ma,sampai kapan mama terus menghajar Amira,pria itu juga bajingan kalau sudah punya istri untuk apa lagi dia mendekati wanita lain." Ucap Adrian dia membantu Amira berdiri dan membawanya ke sopa,andrian sangat sedih melihat adiknya yang menderita sejak dia dia hamil di luar nikah.
Adrian duduk di atas sopa sambil memijat keningnya,dia merasa keluarganya semakin hari semakin berantakan,adiknya yang hamil di luar nikah dan Sovia pergi meninggalkan dia begitu saja.
"Mah,bagaimana kalau kita cari pria yang mau menikahi Amira,dari pada kita malu di komplek ini,bukan kah keluarga kita sangat di hargai orang disini bagaimana kalau kita membayar orang yang mau menikahi Amira mah." Adrian memberikan usulan dia berharap dengan demikian satu masalah di keluarganya bisa selesai dengan baik.
Lilis terlihat berfikir,benar kata Adrian lebih baik mereka membayar pria yang mau menikah dengan Amira secepatnya sebelum orang-orang tau kebenarannya.
**** bersambung***
__ADS_1