
Setelah memunguti beberapa barangnya yang rusak,Sovia membuang semuanya ke tempat sampah,dia tidak mau membalas perbuatan adik iparnya,Karna dia yakin suatu saat dia akan mendapat balasan yang setimpal atas perbuatannya.
Sovia membereskan semua pekerjaan rumah,walaupun dia sudah sangat kelelahan karna,tadi pagi dia meninggalkan semuanya,tadinya dia ingin memberi pelajaran kepada adik iparnya,ternyata malah dia yang kesusahan sekarang.Saat dia sedang sibuk dikamar mandi terdengar suara mobil Kaka iparnya,dan tidak lama mobil milik suaminya juga sudah sampai,dia mengabaikan semuanya dan pokus mengerjakan semuanya.
"Lihat bang istri mu, yang sangat menyedihkan itu bisa-bisanya tadi pagi dia keluar dari rumah tanpa membereskan pekerjaan rumah,sesekali beri dia pelajaran napa bang,semakin hari Sovia semakin tidak bisa dibilangin." Ucap Amira,Sovia yang mendengar adik iparnya mengadu kepada suaminya hannya bisa mendengus kesal,ingin sekali dia meludahi wajah adik iparnya,tapi karna saat ini tabungannya masih belum cukup dan dia juga lagi hamil dia belum berani bertindak tegas di rumah mertuanya.
Sepertinya Adrian suaminya mengabaikan semua ucapannya,karna dia sama sekali tidak mendengar suara suaminya di ruangan itu.Sovia yang masih sibuk dikamar mandi cukup puas karna suaminya mengabaikan semua ucapan adik iparnya.
"Sovia,kamu lagi ngapain? kamu baru pulang jam segini, kalau menurutmu pekerjaan mu itu sangat penting kamu harus bisa membagi waktu mengerjakan rumah melakukan pekerjaan kotor mu itu,ingat ya sampai hari ini aku belum memberimu ijin untuk melakukan itu." jawab Adrian lalu pergi meninggalkan dia dikamar mandi dan kembali ke kamar lalu bermain game kesukaannya.
Sudah hampir sebulan penuh Sovia menjalankan usaha kecilnya,dan hari ini semua para pegawai sudah gajian termasuk Adrian dan kedua Kaka iparnya.Ibunya yang sudah mulai sembuh dan sudah bisa berbicara walau belum jelas duduk di sopa sambil meminta jatah bulanan masing-masing dari anaknya.Amira yang membantunya meminta kepada Adrian dan kakak nya Raka serta istrinya.
"Sovia mama bilang kamu juga harus membayar bulanan sebanyak lima ratus ribu,ya sangat sedikit dibanding makanan yang kamu makan di rumah ini,tapi karna kamu cuma jualan kecil begituan mama minta segitu saja katanya." ucap Amira tampa perasan.
Sovia yang sedang berdiri,tersenyum merendahkan bagaimana bisa mertuanya meminta uang kepadanya sementara mereka semua menolaknya bahkan malu katanya memiliki keluarga yang jualan seperti itu,tapi saat meminta uang mereka tidak punya malu sedikit pun.
"Kenapa kamu tersenyum begitu,kamu menghina mama,ingat membahagiakan mama itu adalah tanggung jawab kalian semua,jangan terlalu durhaka,suami mu bisa bekerja enak sekarang ini itu tidak lepas dari pengorbanan ibuku."Ucap Amira,terlihat jelas kebencian di wajahnya terhadap Sovia.
__ADS_1
Karna tidak ingin mendengar keributan lagi Sovia dengan ikhlas memberikan uang sebanyak lima lembar pecahan seratus ribu,Amira menerima dengan cepat lalu memberikan kepada ibunya.Setelah itu dia mendorong kursi roda milik ibunya kedalam kamar.
"Mama,bagaimana aktingku bagus tidak,harus begitu menghadapi wanita kampung itu,sini ma berikan yang nya kepadaku,dan ini untuk belanja kita semua." Ucap amira lalu mengambil uang Sovia tangan ibunya dengan senyum puas.
"Lumayan untuk aku beli baju baru nanti." Ucap Sovia Setelah itu dia meninggalkan ibunya dan pergi membawa entah kemana.
****
Sovia berjalan memasuki sebuah toko ponsel,sudah lama dia ingin membeli ponsel karna rasanya dia sangat tidak suka berbagi barang dengan suaminya sementara suaminya selalu meminta uang kepadanya jika dia meminjamnya.
Saat itu matanya tertuju pada ponsel keluaran terbaru, dengan harga lumayan mahal menurut Sovia,tapi karna dia sudah sangat suka akhirnya sovia membayar ponsel itu dan kembali pulang ke rumah mertuanya.
Maria dan Amira mencibir Sovia pada suatu malam saat melihat Sovia bermain ponsel diluar,sepertinya mereka tidak terima saat Sovia bisa menikmati hidup dari hasil jerih payahnya.
"Dasar orang miskin,dulu dia kan tidak pernah pegang uang,makanya sekarang saat punya uang sedikit saja dia sudah belagu banget."Ucap Amira,Sovia yang mendengar cibiran adik dan Kaka iparnya tidak peduli sama sekali yang penting untuk saat ini dia sangat bahagia menikmati hari-harinya.
*****
__ADS_1
Hari ini Sovia keluar membawa semua peralatan dagangnya,Amira yang melihat Sovia mendorong gerobaknya hannya bisa mencibir,
"Dasar memalukan,besok-besok jangan membawa gerobak sampah mu itu kesini,menjijikkan malu aku punya keluarga sepertimu."Ucap Amira dengan nada tinggi.Setelah semua keluarga mengetahui usaha miliknya Sovia memutuskan membawa semua barang-barangnya kerumah mertuanya agar dia tidak mengeluarkan uang lagi untuk membayar uang jaga barangnya di teras rumah milik tetangganya.
"Teruslah kamu menghinaku hai orang kaya,hingga suatu saat kamu malu melihatku,karna kesuksesanku." batin Sovia sambil mendorong gerobaknya.
*****
Baru saja sampai di tempat jualannya Adrian sudah datang menghampiri Sovia dengan wajah sedikit lesu,Tampa rasa malu seperti biasanya Adrian duduk di kursi yang disediakan Sovia di sekitaran jualannya.
Sovia enggan menyapa suaminya terlebih dahulu,karna dia takut suaminya malu punya istri jualan seperti itu,sementara dia sebagai suami yang berpenampilan sangat rapi dan bersih,kayaknya seperti orang kerja bank seperti biasanya.
"Sovia kenapa kamu tidak menyapaku,kenapa kamu diam saat aku duduk disini,apa sekarang karna kamu sudah menghasilkan uang kamu tidak menghargai suami lagi?" Tanya Adrian,sepertinya dia punya masalah besar terlihat jelas di wajahnya yang sangat lesu.
"Maaf mas,aku hannya mengikuti keinginan kalian semua,bukankah kalian semua malu punya keluarga sepertiku,kalian kan hannya menganggap orang yang punya pendidikan,dan pekerjaan mapan yang kalian anggap keluarga."Sindir Sovia,adrian terdiam mendengar ucapan istrinya.Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Sovia sangat benar,dia datang ketempat jualan istrinya itu juga karna terpaksa,angsuran mobilnya sudah telat satu bulan dan bulan ini juga keuangannya sangat menipis karna dia menghabiskan uangnya untuk jalan-jalan bersama Raisa,sebenarnya dia sangat berat untuk mengeluarkan uangnya tapi dia juga malu jika saat mereka jalan Raisa terus yang membiayainya.
"Ada apa mas kesini,sebentar lagi aku sibuk,Karna sebentar lagi anak-anak akan istrahat." Ucap Sovia sambil menyusun semua jajanan anak-anak yang sudah dia bersihkan terlebih dahulu.
__ADS_1
Walaupun cuma jajanan anak-anak Sovia selalu mengutamakan kebersihan,itulah sebabnya banyak juga orang tua yang suka jualan sovia.
***Bersambung*****