
Sovia mulai membereskan jualannya,hari ini dia kurang beruntung karena jualannya sudah hampir sore tapi dagangannya belum juga habis,akhirnya dia memilih memberikan kepada para orang gila yang sedang kelaparan di sekitarnya.Setelah sovia dan Rosa membagi-bagikan sisa dagangannya kepada orang-orang kurang beruntung,akhirnya mereka menyusun barang dagangannya untuk segera pulang.
Pada saat itu sebuah mobil mendekati mereka berdua Sovia tidak memperhatikan kalau mobil mantan suaminya sudah menuju kearahnya.
"Kakak,sepertinya ada orang yang ingin jajan lagi,bagaimana ini padahal jualan kita sudah habis." Ucap Rosa,Sovia menoleh ke arah mobil yang sudah parkir di depannya dia cukup kaget melihat mobil itu,dan pada saat bersamaan seorang pria yang sangat dia kenali sudan turun dari mobilnya.Rosa sangat kaget melihat adrian yang sudah berdiri di hadapan mereka,dan saat itu Adrian juga sangat kaget melihat keberadaan adik iparnya,ini yang kedua kali mereka bertemu Pertama saat melamar Sovia baru sekarang yang kedua.
"Hai,...Kamu disini dek,kapan kalian datang,Sovia apa kabarmu sayang?" Ucap Adrian,Sovia sangat kaget mendengar ucapan adrian ini pertama baginya dia di panggil sayang oleh Adrian tapi sayang dia sudah tidak mengharapkan suaminya itu lagi.
"Apa...Apa kamu bilang,sayang...Apa aku tidak salah dengar,Hei..laki-laki yang tidak tau diri pergi dari sini sebelum aku mempermalukan mu," Ucap Rosa berang,rasanya dia sangat ingin meludahi mantan suami kakaknya itu,katakan saja sudah mantan karena mereka sudah hampir dua bulan tidak bersama.
"Dek,jangan begitu,walaupun kita bukan orang berpendidikan,kita harus punya etika berbicara kepada orang lain,apalagi orang itu umurnya jauh lebih tua dari kita." Ucap Sovia,walaupun dia terlihat tenang,tetapi hatinya sedikit takut,karena akhirnya manatan suaminya itu tau,tempatnya berjualan,dia takut Adrian akan selalu menghampirinya kesana.
"Sayang aku ingin bicara," Ucap adrian,dia terlihat memelas,Sovia kaget melihat penampilan Adrian yang sangat berantakan,rambutnya sudah sangat berantakan dan bulu-bulu di wajahnya mulai tumbuh menambah kesan menyeramkan.Sovia tidak tau apa yang membuat mantan suaminya tidak terurus demikian,padahal dia tau suaminya itu dulu sangat memperhatikan penampilannya,tapi sekarang dia sangat jauh berbeda.
"Mas,tidak ada yang perlu kita bahas,dan satu lagi jangan panggil aku sayang,diantara kita sudah tidak ada hubungan apa pun," Ucap sovia,adrian duduk di kursi yang masih yang ada di dekat mereka,dia menarik napas berat,
__ADS_1
"Aku tidak mau pisah darimu dek,aku minta maaf untuk semua kesalahanku,aku janji kalau kamu kembali kepadaku aku akan mengontrak rumah,dan kita pisah dari keluargaku,berikan aku kesempatan sekali lagi dek,aku mohon." Ucap Adrian dengan nada memelas,terlihat jelas wajahnya menyimpan banyak luka,tapi Sovia sudah tidak mau tertipu lagi dengan pria itu.
"Maaf mas,aku tidak bisa,silahkan lanjut hidupmu,bukankah kamu sudah mendapat wanita lain yang sesuai selera keluargamu,bukankah,dia wanita yang hebat,cantik wanita karier,aku yakin kamu akan bahagia bersama dengan dia jika kalian menikah,dan keluargamu juga pasti sangat senang." Ucap Sovia.Adrian tercengang saat mendengar ucapan Sovia,
"Apa maksudmu?" Adrian pura-pura bingung,dia sangat yakin jika Sovia belum tau kalau dia punya hubungan dengan Raisa,tapi dia heran kenapa sampai bicara seperti itu kepadanya,dari mana dia tau tentang hubungan mereka.
"Sudahlah mas,jangan munafik,kamu pikir aku tidak tau hubungan mu dengan Raisa,tapi tenang aja aku sudah tidak berharap lagi kepadamu,jadi kamu tidak perlu menutupinya lagi dariku,terima kasih untuk luka yang kamu gores di hatiku,bahkan aku kehilangan bayiku,itu karena keluargamu yang sangat jahat." Ucap Sovia.Pelan-pelan Sovia mendorong gerobaknya lalu meninggalkan Adrian yang masih ingin bicara kepadanya.
"Sovia,aku belum selesai bicara,tunggu aku." Adrian bergegas menarik tangan Sovia,dan pada saat itu Rosa menghadangnya,
Adrian duduk kembali di bawah pohon yang tidak jauh dari tempatnya,ingin sekali dia menagis biar saja orang mengatakan dia cengeng dia tidak peduli,intinya saat ini hatinya sangat terluka dan dia tidak bisa terima jika sovia benar-benar akan meminta cerainya darinya.
*****
Sovia mendorong gerobaknya sampai ke depan rumahnya,setelah itu dia masuk kedalam rumah dan masuk ke dalam kamarnya,dia menagis,andaikan suaminya tidak sejahat itu dulu,dia juga tidak ingin cerai dari suaminya,karena baginya pernikahan itu sakral,tapi mengingat semua luka dan air mata waktu masih bersama suaminya membuatnya merasa bahagia sudah berpisah dari pria itu.
__ADS_1
"Sovia,buka kamarnya nak,ada apa denganmu,kenapa kamu pulang sambil menagis ada apa denganmu?" terdengar ketukan pintu dari luar,Sovia enggan untuk membuka pintu karena dia tidak ingin di ganggu oleh siapa pun.
"Sudahlah ma,kakak Sovia pasti tidak akan mau membuka pintu,mantan suami nya baru saja,menemuinya dan menolak untuk bercerai dari kakak,mana mau lagi kakak itu sama pria tipe begituan." Ucap Rosa yang sudah masuk kedalam kerumah,sambil membawa peralatan dagangannya.
"Terus apa kakakmu,apa dia mau menerima suaminya kembali?" Tanya ibunya,dia khawatir dengan sikap Sovia,
"Ya jelas tidak mau lagi dia ma,memangnya siapa yang mau dengan pria seperti itu,lebih baik dokter Daniel,sudah baik sopan lagi,tidak sombong kayak Adrian,mama lupa bagaimana angkuhnya dia saat melamar Kakak dulu,tapi sayang saat itu Kakak Sovia cepat sekali tergoda dengan Adrian." Ucap Rosa.Mamanya mengerutkan keningnya,dia takut Sovia tersinggung dengan kata-kata Rosa.
"Sudah-sudah,lebih baik kamu mandi,namanya juga hidup kita tidak tau apa yang terjadi dengan semua keputusan yang kita buat,mama akan masak untuk makan malam kita." Ucap mamanya,Rosa langsung masuk kedalam kamar mandi,dan membersihkan tubuhnya dia membenarkan kata-kata ibunya yang sangat bijak.
*****
Sudah hampir dua jam Adrian belum juga beranjak dari tempat duduknya,entah kenapa dia begitu malas bertemu dengan keluarganya,ingin sekali dia mencari rumah untuk tempat dia tinggali,rasanya dia sudah tidak mampu bertahan bersama keluarganya.
Adrian baru menyadari ternyata jika tidak bisa adil antara istri dan ibunya dia harus mengorbankan sesuatu,seperti sekarang ini yang di alaminya rumah tangganya hancur karena ibunya yang sangat ikut campur.
__ADS_1
*** bersambung***