Menantu Miskin

Menantu Miskin
bab 14 ~ Usaha kecil-kecilan ~


__ADS_3

Sovia keluar dari kamar,kini dia baru ingat kalau obat mertuanya sudah habis semua,dan dia perlu ke apotik untuk membelinya obat.Sovia kembali kedalam kamar mertuanya lalu membangunkannya dia ingin meminta uang kepada mertuanya,


"Ma,semua obat mu sudah habis,jadi aku harus membelinya,berikan aku uang."Ucap Sovia saat mertuanya sudah duduk di ranjang.Terlihat sangat jelas rasa tidak suka di wajah mertuanya itu saat Sovia minta uang untuk beli obatnya tapi Sovia mengabaikan wanita itu,yang terpenting baginya sekarang semoga mertuanya cepat sembuh agar dia tidak kelelahan lagi merawatnya.


Mertuanya menunjukkan tempat penyimpanan uangnya dibawah bantalnya,Sovia langsung mengambil selembar uang ratusan lalu keluar dari kamar mertuanya,


"Sudah sakit dan dia butuh bantuan ku saja sikapnya tidak berubah,harusnya dia merubah sikapnya yang angkuh dan sombong itu,"Ucap Sovia saat dia sudah meninggalkan kamar mertuanya.


Sovia berjalan keluar dari gang tempatnya dimana dia tinggal,pada saat itu kebetulan anak-anak sekolah juga baru keluar dari sekolah hingga menimbulkan kemacetan yang cukup parah.


Saat dia akan menyebrangi jalanan,tiba-tiba Sovia melihat kerumunan anak sekolah,karna dia sangat penasaran akhirnya dia berjalan melihatnya,ternyata anak-anak itu mengantri untuk menunggu jajannya,Sovia langsung pergi meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju apotik yang tidak jauh dari situ lagi.


"Sepertinya usaha seperti itu sangat bagus untukku,modal tidak banyak untungnya lumayan,lebih baik aku mencoba jualan seperti itu saja."Ucap Sovia lalu kembali pulang kerumah mertuanya saat dia sudah mendapat obat yang dia butuhkan.


Lama Sovia memutuskan keinginannya itu,dia tidak mau memberitahu suaminya tentang keinginan nya karna dia sudah tau jika Adrian akan melarangnya dengan alasan malu dilihat orang.


Keputusan Sovia sudah bulat mulai hari Senin dia akan jualan di pinggir jalan dekat sekolahan,dia memanfaatkan mertuanya yang sakit dengan membawa kompor dan semua peralatan dari rumah mertuanya,banyak orang yang tidak percaya dengan pekerjaan Sovia tapi dia tidak peduli lagi,karna dia ingin benar-benar menghasilkan uang.

__ADS_1


Hari pertama Sovia jualan,semua berjalan dengan lancar,bahkan Sovia pulang kerumah sebelum suami dan Kaka iparnya kembali kerumah.Sesampainya di rumah Sovia membereskan semua peralatannya,lalu dia berjalan menuju kamar dan menghitung semua. keuntungannya.


"Wah....Banyak sekali penghasilanku hari ini,ternyata banyak juga untung jualan seperti ini padahal modal yang diberikan Kaka Raka,masih tersisa lima lembar lagi sepertinya aku bisa menambah jualanku biar makin laris."Ucap Sovia,lalu menyimpan uangnya dengan sangat hati-hati.


Hari wajahnya terlihat sangat bahagia,walaupun dia sangat kelelahan mengingat kegiatan hari ini Sovia sangat senang.


"Kenapa wajahmu,sepertinya kamu sangat bahagia hari ini."Tanya adrian,dia memandangi wajah Sovia yang terlihat senyum dari tadi.


"Nga papa biasa aja."Jawab Sovia,lalu meletakkan teh milik suaminya di atas meja,dan saat itu dia hendak berjalan keluar dari kamar Adrian kembali memanggilnya.


"Kamu mau kemana,uang pemberian bang Raka,kamu tarok di mana?" Tanya Adrian,Sovia langsung menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah suaminya.


"Aku bisa pinjam nga satu juta aku butuh uang."Jawab Adrian,dia sangat yakin jika Sovia masih menyimpan uang itu,sekarang dia sangat butuh uang karna Raisa mengajaknya jalan-jalan besok,dia sudah menolaknya dari awal,tapi Raisa memaksa,padahal dia menolak ajakan Raisa karna dia sudah tidak punya uang pegangan lagi,Raisa sudah bilang pakai uangnya tapi dia sebagai laki-laki merasa sangat malu pergi berdua dengan wanita tapi dibayari apalagi Raisa adalah wanita yang sangat cantik.


"Untuk apa mas,kamu tidak malu meminta uang itu dariku,lagian untuk apa mu uang,bukannya besok kamu libur."Ucap Sovia.


"Kalau emang tidak mau meminjamkan bilang saja,nga usah banyak pertanyaan kayak polisi,pertanyaan mu membuatku pusing."Ucap Adrian,lalu bangkit dari ranjang dan keluar kamar.Sovia menghela napas berat,entah kenapa dia merasa sikap suaminya semakin hari semakin berubah,tapi dia tidak mau ambil pusing karna sekarang ini dia ingin pokus dengan usaha kecilnya yang sudah menghasilkan uang untuknya.

__ADS_1


*****


Sebulan sudah Sovia berjualan jajanan anak-anak di jalanan dekat sekolahan yang tidak jauh dari rumah mertuanya,jika semua orang sudah berangkat dari rumah dan ibu mertuanya sudah dia urus maka dia akan berangkat jualan dan kembali pada jam empat sore,sesekali saat tidak sibuk dia meninggalkan jualannya dan melihat mertuanya.


Sebenarnya mertuanya sangat curiga dengan kegiatan yang dilakukan Sovia diluar sana tapi karna dia saat ini tidak berdaya dia tidak bisa melakukan apa pun.


Sovia pulang dari jualan lalu menyimpan semua peralatan jualannya di gudang,dia sudah membeli banyak peralatan yang membatu usahanya dan mejanya dia titipkan sama orang dengan dengan bayaran lima ribu rupiah setiap hari.


"Kaka,kamu dari mana saja,kenapa kamu meninggalkan ibuku sendirian di rumah,apa kamu melacur di luar sana hingga kamu tidak pulang-pulang dari tadi?" Tanya Amira dengan suara lantang.Sovia yang mendengar ucapan kotor Amira sangat sakit hati,ingin sekali dia merobek mulut adik iparnya itu tapi dia berusaha menahan amarahnya.


"Kamu kalau bicara jangan sembarang ya,sepertinya mulut perlu di ajari,percuma saja kamu punya pendidikan tapi etika nol besar."Ucap Sovia tidak kalah emosi,


"Terus kenapa kamu meninggalkan ibuku sendirian disini,kenapa kamu tidak menjaganya,ingat ya kamu di rumah ini di tanggung abang ku,kamu cuma makan minum saja tapi mengurus ibuku saja kamu tidak mampu,kamu tau ibuku jatuh dari atas ranjang karna dia haus ingin minum, tidak ada yang mengambilkan,aku akan melaporkan kamu kepada bang Raka,sama bang Adrian biar kamu di ceraikan sama bang Adrian,wanita kampung tapi banyak tingkah kamu di kota sungut Amira."Mendengar ucapan Amira,Sovia terdiam,dan tiba-tiba dia merasa bersalah karna pembelinya begitu ramai hingga dia melupakan ibu mertuanya.


Akhirnya Sovia berjalan menuju kamar mertuanya dan dia melihat mertuanya yang sedang duduk di atas kursi rodanya,tatapan benci dari mertuanya kepadanya sangat terlihat jelas,tapi Sovia mengabaikan itu akhirnya dia pergi ke dapur lalu kembali sibuk dengan semua pekerjaannya.


"Semoga saja Dangan ku semakin laris,dan suatu saat nanti aku bisa mengontrak sendiri, Amin ya Allah,jika memang Adrian tidak mau pisah dari orang tuanya aku sudah siap untuk di ceraikan,saat aku punya kontrakan sendiri ibu dan adikku juga bisa mengunjungi ku dengan bebas.

__ADS_1


**** bersambung****


__ADS_2