
Setelah mengambil keputusan yang menurut Aji adalah jalan yang terbaik, Aji hidup mandiri di negara Perancis, dinegara yang terkenal sebagai pusat mode dunia tersebut selain menimba ilmu bisnis di sana Aji pun sering mengenalkan masakan, minuman ataupun jajanan dari Indonesia melalui lomba-lomba kuliner
Empat tahun telah berlalu, dengan memantapkan hati ia pun kembali ke tanah air
Butuh waktu kurang lebih enam belas jam Aji akhirnya sudah menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, dengan perlahan ia berjalan menuju mobil yang sudah menunggu kedatangan Aji, seteleh keluar dari area bandara, Aji sedikit terkejut karena banyak perubahan yang ia lihat disepanjang jalan dari mulai banyak gedung-gedung baru yang berdiri bahkan ruang publik yang tidak ia lihat dulu
" wah baru empat tahun aku pergi sudah berubah saja ini kota. " celetuk Aji
" iya den, sekarang mah sudah banyak gedung-gedung nya nggak kayak dulu. " sang supir mencoba menanggapi
" mang nanti kita mampir ke kafe dulu ya, aku pengen menyapa teman-teman. " pinta Aji
Sang supir pun mengikuti perintah sang majikan, selama perjalanan banyak yang muncul dipikiran Aji, mang selama di luar negri Aji jarang memberi kabar kepada semua orang mulai dari para karyawan kafe, teman temannya, bahkan saudara nya saja banyak yang tidak tahu bagaimana perjalanan hidupnya selama di Perancis
Selama empat tahun itu Aji hanya memberi kabar kepada kedua orang tuanya, Aji menutup dirinya bukan karena sudah tak ingin bergaul namun ia melakukan semua itu karena ia ingin membersihkan hatinya dari luka dimasa lalu
Tak terasa, Aji pun sudah sampai di HALU KAFE dengan langkah pelan dan senyuman di bibirnya ia memasuki kafe yang ia kelola dari masa SMA tersebut
" selamat datang di HALU KAFE " sapa salah satu karyawan yang berucap tanpa menatap wajah aji,
" wah tambah tinggi saja kamu. "
Jawaban Aji tersebut membuat sang pelayan terkejut, tanpa pikir panjang ia langsung menatap wajah dari sumber suara tersebut, dan betapa terkejutnya dia melihat Aji yang tak banyak berubah dari sosoknya dulu,
Sang pelayan pun langsung berteriak memanggil karyawan lain ya meski teriakan nya tersebut sempat membuat para pengunjung takut namun Aji mencoba memahami perasaan yang para karyawannya rasakan,
Dengan perlahan Aji coba menenangkan rasa gaduh yang karyawannya perbuat dengan pelan ia menjelaskan kepada para karyawannya tersebut untuk bersabar agar mereka bisa lebih mementingkan kenyamanan paengunjung terlebih dahulu
Pukul empat belas suasana kafe pun mulai ramai kehadiran para pelanggan, Aji yang memberi tahu kepada kepala pelayan agar menutup kafe lebih awal, karena ia ingin menggunakan sisa jadwal kafe buka untuk menyapa para karyawan
" wah Kak Aji makin tampan saja " ucap seorang pelayan wanita
" ah sayang anak ku semuanya laki-laki, kamu tidak bisa kujadikan menantu " ucap salah satu koki
__ADS_1
Para karyawan dari yang mulai usianya lebih muda dari nya, seumuran bahkan yang lebih tua semua bergembira diacara penyambutan kecil-kecilan tersebut, Aji yang melihat aura kebahagian di depan matanya pun merasa bahwa inilah saatnya dia untuk mencari kebahagiaan dihidupnya
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Aji pun meninggalkan kafe setelah para karyawannya pulang terlebih dahulu, tak berselang lama ia pun sampai di rumah, kedua orang tuanya duduk di kursi taman samping rumah menunggu kehadiran putranya tersebut
" Assalamu'alaikum, ayah ibu kok diluar sudah mau malam ini " ucap Aji
" Waalaikumsalam, akhirnya putra ku sudah pulang, " ibu Aji pun berdiri dan langsung memeluk putra semata wayang nya tersebut
" kami sedang menikmati pemandangan sore hari ya sambil menunggu kepulangan mu, " penjelasan ayah Aji
Aji pun segera mencium tangan sang ayah, keluarga tersebut pun saling berbincang hingga suara adzan berkumandang, Aji pun mengajak kedua orangtuanya untuk sholat berjamaah namun sebelumnya Aji meminta izin untuk memberikan diri terlebih dahulu, setelah ibadah dijalankan mereka pun bersiap untuk menikmati hidangan makan malam, di tengah acara makan siang ibu mencoba mengingat kan putranya agar tidak menutup diri lagi
" oh ya Aji kemarin Dika datang kemari, dia mengundang kita sekeluarga untuk hadir diacara TEDAK SITEN putranya, "
" wah tidak terasa sudah punya anak saja si Dika itu padahal seingat ayah terakhir dia kesini masih terlihat seperti anak-anak " tanggapan sang ayah
" iya bahkan mama dan mama mertuanya sampai tidak menyangka bahwa mereka akan mendapat cucu dari anak seperti Dika " imbuhan ibu Aji sedikit mengusik hati Aji
" nak, apakah kamu,,, " belum sempat ibu melanjutkan kalimatnya,sang anak menyela
Jawaban cepat Aji membuat sang ibu sedikit khawatir, sang ibu merasa bahwa putranya masih terikat dengan kisah lukanya di masa lalu, memang selama ini Aji tidak pernah memberi tahu kepada kedua orang tuanya alasan ia sekolah keluar negri namun kedua orang tuanya mengetahui semua itu karena memaksa Lintang untuk berkata jujur
Sang ayah mencoba menenangkan hati istrinya dia juga meyakinkan sang istri untuk tetap sabar dan berdoa, berharap kebahagiaan akan datang kepada putra mereka
DILAIN TEMPAT
Tepatnya di kediaman Yusuf terdengar suara riang gembira dari arah ruang keluarga, disana terlihat sepasang ibu dan anak tengah bersenda gurau
" umi tantik " celetuk sang anak yang berusia 2 tahun
" umi cantik,, kalau gitu Dilara juga cantik malah lebih cantik dari umi " jawab sang ibu
Ya ibu tersebut adalah Bhinneka dan putri pertamanya yang bernama Dilara Syafiyatunnisa, mereka sedang menunggu kepulangan Yusuf
__ADS_1
" assalamualaikum, ratu dan putri abi " suara dari arah depan menghentikan canda tawa di ruangan itu
" Waalaikumsalam,, tuh abi dah pulang, " ucap Bhinneka sambil menggendong Dilara memperlihatkan kepulangan Yusuf
" abi gendong " pinta Dilara
" eh abi baru pulang masih capek sayang " jelas Bhinneka
" oh minta gendong, sini abi gendong, tadi nangis enggak " Yusuf langsung menggendong putrinya tersebut serta membuang capek yang ia rasakan
Bhinneka bahagia melihat kedua orang yang begitu ia cintai bahagia,
" tuan, nyonya makan malamnya sudah siap " ucap salah satu art
" iya bi makasih, " jawab Bhinneka
" kalau gitu sekarang Dilara sama umi dulu yuk, abi biar mandi dulu habis gitu kita makan ya " Bhinneka mengambil alih gendongan Dilara, putrinya pun seakan tau dan ia menurut ajakan sang umi
Yusuf pun langsung mencium pipi lembut putrinya dan bergegas masuk kamar, setelah beberapa menit Yusuf keluar dengan wajah yang segar, ia mendekati putri dan istrinya yang telah menunggunya
Acara makan malam pun berlangsung dengan ke ceriaan, setelah selesai Bhinneka pun menggendong putrinya hendak menidurkan Dilara yang sudah tertidur itu, setelah memastikan sang putri nyenyak Bhinneka pun berdiri namun tiba-tiba pelukan Yusuf dari belakang menghentikan langkahnya
" yank kasihan Dilara sendirian gimana kalau kita bikinin adik buat dia" ucap manja Yusuf
" ih abi genit, sudah aku mau bantu bibi di dapur " Bhinneka mencoba melepaskan pelukan sang suami
" ah aku ditinggalin lagi " gerutu manja Yusuf
Memang Bhinneka mempunyai art namun ia tak ingin terlalu bergantung dengan artnya tersebut maka dari itu beberapa pekerjaan rumah yang bisa ia kerjakan makan akan ia kerjakan sendiri seperti memcuci baju hingga merapikan nya,
Setelah selesai dari dapur Bhinneka masuk kedalam kamar mencoba mengingatkan sang suami untuk sholat Isya terlebih dahulu sebelum tidur, akhirnya Yusuf pun mengajak sang istri untuk sholat berjamaah
Saat merapikan sarung Yusuf teringat akan undangan yang Dika berikan, ia pun memberitahu Bhinneka dan bertanya apakah ia akan datang, sang istri pun berharap bisa datang jika Yusuf memperbolehkan
__ADS_1
" tentu boleh kalau begitu besuk kita datang bersama, masalah hadiah kamu saja yang urus kalau mau keluar ajak lah bi sumi biar Dilara ada yang menjaga saat kamu memilih barang "
Bhinneka pun mengucap syukur dalam hatinya