
Setelah makanan tersaji di atas meja, Aji pun menyuruh Tinto untuk duduk, lantas ia pun mempersilahkan kedua tamunya tersebut untuk menikmati hidangan sederhana yaitu Salmon Scrambled.
Tinto dan Berliana sedikit ragu ingin menikmati hidangan tersebut,itu terlihat dari raut wajah mereka yang sedikit ketakutan, Aji yang menyadarinya langsung bersuara,
" nikmatilah makanan ini karena kawan ku pernah berkata untuk menahan emosi kita juga butuh tenaga "
Tinto yang mendengar ucapan sang atasan hanya bisa terdiam,mencoba memahami segala kalimat-kalimat itu, setelah beberapa detik akhirnya Tinto dan Berliana pun menikmati hidangan tersebut.
Hampir 30 menit waktu yang mereka habiskan untuk menyantap hidangan tadi, Tinto ingin berbicara namun seketika Aji mencegahnya dengan ucapannya,
" baik Tinto kau sudah ku anggap saudara, dan sekarang jawablah dengan jujur apakah kau mau menikah dengan Berliana? " pertanyaan Aji sontak membuat Tinto dan Berliana terkejut
" pak saya mohon untuk tidak bercanda" jawab Tinto
" apa maksud mu Aji " sambung Berliana
Aji langsung menatap dua orang dihadapannya itu secara bergantian lalu,
" memang aku menyukaimu tapi sekarang aku sadar kalau aku bukan benar-benar menyukaimu namun hanya mengagumi mu saja, " ucapan Aji sedikit membuat Tinto merasa bersalah
Aji lantas berdiri dan berjalan,saat ia melewati Tinto, Aji perlahan menepuk pundak sang sekertaris itu,
" aku ingin membuat Berliana bahagia meski kami tak bersama, ku harap kau tak akan membuat aku kecewa dengan pilihanku sekarang " ucap Aji sedikit berbisik
Setelah itu dia pun pergi meninggalkan Tinto dan Berliana.
__ADS_1
" ya Allah semoga keputusan yang aku ambil adalah keputusan yang benar " gumam Aji dalam hati kala keluar dari restoran tersebut menuju parkiran mobil
Setelah masuk kedalam mobil Aji pun lantas melajukan mobil hitamnya menjauh dari restoran, di perjalanan ia sedikit merenungi jalan hidup yang harus ia jalani, seakan dirinya belum pantas merasakan cinta, namun dengan cepat ia langsung menepiskan rasa kecewanya itu, tak lupa ucapan istighfar terlontar dari mulut Aji.
Seminggu telah berlalu, kini Aji mempunyai sekertaris baru bernama Rizky, sedangkan Tinto sekarang tengah menantikan hari pernikahannya dengan Berliana.
Ternyata Aji telah merencanakan ini semua, setelah ia pulang dari restoran kemarin, Aji lantas menghubungi keluarga Tinto, ia mengundang mereka datang ke rumah orang tua Aji, setelah pertemuan dadakan itu terwujud, Aji pun tanpa ragu menjelaskan maksud dia mempertemukan mereka,.
Di awal orang tua Aji dan keluarga Tinto sedikit kebingungan dengan ucapan-ucapan Aji, namun melihat Aji yang bersemangat dan serius akhirnya mereka pun bisa memahami dan tak lupa mendukung.
Sekarang Tinto dan Berliana hanya tinggal menunggu hari pernikahan mereka yang akan dilaksanakan 5 hari lagi.
Sejujurnya jika Aji ingin berucap sebenarnya ia merasa marah dan tak terima, namun ia menyadari bahwa ia tak memiliki hubungan apa-apa dengan wanita itu jadi mengapa ia harus marah,mungkin sekali lagi hati Aji harus bertameng baja.
______
Tok,,,!Tok,,,!Tok,,,!
Aji pun mempersilahkan orang yang mengetuk pintu untuk masuk,
" assalamualaikum " ucap Tinto
" waalaikumsallam,eh ada apa nih bukannya kau harus diam dirumah " jawab Aji berusaha tenang
" saya kesini untuk memberi undangan teman-teman kantor, dan saya berharap anda datang besok " jelas Tinto sambil menaruh selembar undangan berwarna coklat dengan tulisan berwarna emas
__ADS_1
" baiklah, aku pasti akan datang " jawab Aji singkat
Tinto pun bergegas pamit pulang, sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin ia ucapkan namun rasa bersalahnya kepada Aji langsung menghalangi.
•flashback on
Pagi setelah pertemuan dadakan Aji dengan kedua orang tua Tinto, lebih tepatnya di dalam kantor Aji
" sekarang kau akan ku tugaskan menangani perusahaan kita di kota sebelah," ucap Aji
" tapi pak, sa,," jawaban Tinto belum usai
" disana sudah ku sediakan tempat tinggal beserta isinya,ku ingin kalian berbahagia disana, masalah kerjaan Berliana biar Sammuel saja yang menjelaskan, sekarang kau pulanglah " ucap Aji yang tanpa langsung mencegah Tinto berbicara
Sedangkan Tinto hanya bisa diam, sebenarnya ia tak ingin membuat sakit hati sang atasan namun sepertinya memang menerima dan diam adalah hal yang harus ia lakukan agar ia tidak semakin menyakiti perasaan sang atasan.
•flashback off
Suara seorang perempuan berambut pirang yang tengah berdebat dengan Rizky membuyarkan lamunan Tinto yang masih berdiri di depan pintu kantor Aji, Tinto pun lantas mendekat mencoba mencari tau apa yang sebenarnya terjadi,
" Risky, ada apa ini? " tanya Tinto pelan sambil melirik perempuan itu
" begini pak, nona ini ingin menemui pak Aji namun saat saya melihat jadwal pak Aji ternyata nona ini tidak mempunyai janji dengan pak Aji " jawab Rizky sedikit takut
Tinto pun lantas mengajak bicara sang wanita,
__ADS_1
" maaf nona, jika memang anda ingin bertemu pak Aji anda harus membuat janji terlebih dahulu dan,,, " belum sempat Tinto melanjutkan kalimatnya sang wanita langsung menyangkal
" heh, kalian ini tak tau ya siapa aku, mulai sekarang kalian harus ingat aku adalah tunangannya Aji dan perlu kalian waspadai setelah aku menikah kalian berdua lah orang yang akan langsung aku pecat, camkan itu " ucap wanita berambut pirang itu yang langsung masuk kedalam kantor Aji