Mencari Tulang Rusukku

Mencari Tulang Rusukku
episode 69


__ADS_3

" assalamu'alaikum, Dika gimana kabarmu? “ tanya Aji setelah panggilan telepon nya dijawab


" wa'alaikumsalam, alhamdulillah baik, oh iya kata Lintang kamu kecelakaan, maaf banget aku sampai nggak tau " jawab Dika


" cuman sakit ringan, nggak usah dibesar-besarkan, oh ya apa hari ini kamu senggang? "


" aku sedang senggang memang ada apa? "


" aku mau ngundang kamu sekeluarga buat main ke rumah, biasa Ibu kangen ma kalian "


" oh baiklah tapi mungkin aku bisanya agak sorean datang nya, gimana "


" oh ya udah nggak apa-apa, nanti jam empat sore aja, kalau begitu aku tutup dulu ya, soalnya aku mau pulang"


Perbincangan antara Aji dan Dika pun berakhir setelah Aji mendapat kode mata dari sang Ibu, sang Ibu ingin memberi tahu kan bahwa sudah waktunya mereka keluar dari kamar inap itu.


Perlahan Aji berjalan mengikuti langkah sang Ibu, saat berada dilantai satu keadaan ricuh terlihat dihadapan Aji, terdengar suara tangisan dan teriakan,


Suara teriakan tersebut berasal dari para petugas medis yang meminta tolong agar orang-orang yang ada di sana untuk memberikan jalan, ternyata para petugas medis sedang mengevakuasi para korban kecelakaan bus yang terjadi tak jauh dari rumah sakit, Aji dan sang Ibu pun lantas secepatnya memberikan jalan saat para petugas medis berjalan dengan langkah cepat mendekat kearah mereka.


Mata Aji sedikit terfokus dengan sosok salah satu Dokter yang langsung berlari menuju ruang UGD setelah beberapa korban masuk,


Ya sosok itu tak lain adalah Sanja, salah satu anggota komunitas fotografi yang diikuti Aji,


" Aji kok diem aja, ada apa? " ucapan Ibu mencoba menyadarkan Aji dengan raut muka sedikit bingung


" eh,, apa bu " ucap Aji dengan nada sedikit terkejut


" kamu dari tadi di panggil kok diem aja, ada apa sih " tanya sang Ibu


Aji pun menjawab pertanyaan Ibu nya dengan sedikit canda, karena merasa kesal sang Ibu pun berjalan meninggalkan Aji, setelah tertawa pelan Aji pun menyusul langkah sang Ibu, setelah keluar terlihat Ibu sudah masuk kedalam mobil, Aji pun segera menyusul, mobil itu pun mengantarkan Ibu dan Aji pulang ke rumah mereka, selama diperjalanan Ibu dan Aji saling bersenda gurau,

__ADS_1


Tak terasa matahari telah berganti posisi, rumah Aji yang tadinya sunyi sekarang telah berganti ramai seperti pasar, keramaian itu muncul karena sahabat-sahabat Aji telah datang dengan membawa keluarga mereka,


Nampak Hugo tengah bermain dengan Ikbal ditemani oleh Ayah Aji, Dika yang tengah duduk bersama Aji dan Immanuel mencoba sedikit menggoda sang sahabat,


" kode tuh Ji, Ayah kamu kayaknya kepengen cepet momong cucu, kasihlah Ji " godaan Dika sedikit mengusik pikiran Immanuel yang sedang menatap handphone nya


" memangnya bikin anak seperti bikin teh gitu tinggal diseduh trus jadi, kamu ini aneh-aneh aja, nggak usah dengerin tuh anak Ji "


“ siap kak, emang si Dika ini kadang mulutnya minta di lakban "


Ucapan Immanuel sontak membuat semua yang mendengarkan tertawa, Lintang muncul dari arah dapur hendak memberitahukan bahwa hidangan makan sudah siap, setelah mendengar ucapan Lintang, semua yang ada di ruang tengah itu pun segera berjalan ke arah meja makan, semua pun sudah duduk di kursi,


" nggak sia-sia Ibu dulu beli meja panjang begini, jadi kita bisa barengan " ucap Ibu sambil menatap semua yang hadir


" iya tante, kita juga senang kok disambut dengan bahagia disini " jawab Lintang


" ah, tante yang harusnya terimakasih ke kalian, sudah mau main kesini, eh tapi kok kayak ada yang kurang ya " ucap Ibu sambil sedikit mengingat


Pertanyaan itu sontak membuat Aji tersedak, ia pun segera mengambil gelas berisi air putih lalu meminumnya, semua yang hadir menoleh kearah Aji


" kamu nggak kenapa-kenapa kan " tanya Ayah


" nggak kok, ini tadi cuma ke buru-buru mau jawab pertanyaan Ibu " jelas Aji


" Samuel katanya bentar lagi nyampe kok, kalau Bhinneka kurang tau aku " Lintang mencoba menjelaskan


Ibu hanya terdiam, dari tatapan nya sepertinya Ibu sudah paham alasan Bhinneka tidak hadir, namun pemikiran tersebut segera Ibu sembunyikan agar tidak merusak keharmonisan acara makan tersebut, sedangkan Aji hanya terdiam, tanpa sepatah kata ia pun melanjutkan makannya,


Baik itu Lintang atau Indi sedikit paham arti dari tatapan Ibu, karena memang sedari dulu Ibu sangat ingin menjadikan Bhinneka menantu di keluarga mereka, namun mau dikata apa lagi ternyata Bhinneka bukanlah jodoh yang ditakdirkan untuk Aji.


Acara makan pun dilanjutkan meski sedikit ketegangan sempat terjadi tadi, suara langkah sepatu terdengar dari arah depan, terlihat Samuel mendekati meja makan dengan penuh semangat

__ADS_1


" Ibu Ayah aku kangen nih " ucap Samuel yang langsung mencium pipi orang tua Aji


" kamu tambah ganteng aja,, ayo duduk nih ada makanan kegemaran mu " ucap Ibu yang langsung melayani Samuel seperti melayani putra kandungnya sendiri,


Kebahagiaan kembali menyelimuti ruang makan tersebut, mungkin Samuel lah yang membawa aura kebahagiaan itu, setelah selesai makan mereka pun kembali berkumpul di ruang tengah, Ayah kembali mengajak Hugo dan Ikbal bermain sedangkan Immanuel, Dika dan Samuel tengah asyik bermain PlayStation, terlihat juga Indi yang tengah membahas masalah tas dengan Ibu.


Lintang berjalan perlahan mendekati Aji yang tengah duduk di kursi teras samping, ia pun lantas duduk di samping sahabatnya tersebut,


" kamu tidak mengundang dia kan " tanya Lintang


" aku belum berani Lin, ternyata tak semudah yang aku bayangkan, " jawab Aji


" kalau kamu tidak memulainya dari sekarang lalu kapan semua ini akan berakhir, " Aji hanya terdiam mendengar suara Lintang


" memang menyingkirkan rasa luka itu sulit, namun kamu harus mencobanya, kalau tidak kapan kamu akan bangkit. Tapi semua ini kembali lagi ke diri kamu sih, tanyakan ke hatimu, kamu mau bangkit atau tidak, aku hanya bisa mendukung apapun itu keputusan mu "


Setelah memberi masukan kepada aji, Lintang pun kembali lagi ke dalam, ia mencoba memberi Aji ruang sendiri agar ia lebih yakin dengan keputusan apa yang akan dia ambil,.


Tak terasa malam pun datang menyinari gelap nya hari, satu persatu sahabat Aji pun berpamitan, namun Lintang yang menjadi terakhir sedikit memberi Aji pertanyaan,


" coba tanya hati dan pikiran mu, apakah kamu mau atau tidak, kalau sudah mendapatkan keputusan, segera telfon aku" begitulah ucapan Lintang yang terakhir keluar


Aji pun menatap kepergian sahabat-sahabat nya itu, setelah memastikan mereka sudah pulang Aji pun lantas masuk kedalam kamar, ia duduk bersandar di tempat tidur, Aji tengah menghayati perkataan Lintang tadi.


Terkadang Aji memang ingin membuang semua luka yang sudah menghuni hatinya sejak lulus SMA dulu, namun entah mengapa seakan rasa luka itu telah terikat kuat dengan hatinya, ketukan pintu menghentikan pikiran Aji, ternyata sang Ibu yang mengetuk pintu, Aji pun lantas menyuruh sang Ibu untuk masuk,


" Aji kamu lupa belum minum obat lho, nih minum dulu habis itu cepat tidur ya dah malem lho ini "


" iya Bu dokter, " jawaban Aji sedikit manja


" ya udah Ibu keluar dulu "

__ADS_1


Aji pun hanya mengangguk kan kepalanya, setelah meminum obat Aji pun merebahkan badannya bersiap untuk tidur.


__ADS_2