Mencari Tulang Rusukku

Mencari Tulang Rusukku
episode 65


__ADS_3

Waktu telah berganti, hari demi hari sudah dilewati,


Aji yang telah menjabat sebagai direktur utama selama dua minggu pun semakin meningkat kan kinerjanya, siang itu ia terlihat tengah menandatangani beberapa berkas yang Tinto serahkan kepadanya tadi pagi,


" Tinto masuklah keruangan ku "


" iya Pak ada yang bisa saya bantu " kalimat yang Tinto ucapkan setelah berdiri di depan sang atasan


" aku ingin menemui Berliana jadi sisa tugas ku hari ini kamu yang mengerjakan " perintah Aji dengan nada santai


" baik " jawab Tinto yang mencoba patuh pada atasannya


Memang Aji dan dia berteman sejak kecil namun Tinto selalu berusaha menempatkan dirinya dimana seharusnya ia berada,


Setelah itu Aji pun berjalan menuju parkiran, ia lantas mengemudikan mobil hitamnya menuju rumah sakit dimana Berliana dirawat,


Aji ingin mengantarkan Berliana pulang karena ia tau bahwa hari itu sang model akan keluar dari rumah sakit,


Tak perlu waktu lama mobil Aji sudah terparkir di area parkir rumah sakit, setelah merasa mobil miliknya berhenti di tempat yang benar, Aji pun segera keluar mobil berjalan memasuki rumah sakit sambil menelepon


" kak Olin apakah kalian masih dirumah sakit " tanya Aji


" iya Pak Aji kami baru membereskan beberapa barang dan sebentar lagi baru akan keluar, memangnya ada apa ya pak? " tanya Olin yang sedikit bingung kenapa Aji bernada begitu semangat


" oh syukurlah,sekarang saya sudah di dalam lift, saya yang akan mengantarkan berliana pulang "


Mendengar ucapan Aji itu semakin membuat Olin kebingungan


" oh ya kalau begitu terimakasih, " Olin pun hanya terdiam setelah menutup panggilan

__ADS_1


Sebenarnya begitu banyak pertanyaan yang muncul dipikiran Olin, namun ia mencoba untuk berfikir positif dan simpel, mungkin sang direktur utama tersebut hanya ingin memastikan bahwa rekan bisnis nya bisa selamat


Tak berselang lama Aji sudah berdiri di depan pintu kamar tempat Berliana dirawat, lantas ia mengetuk pintu dengan sikap sopan namun santai ia coba perlihatkan, setelah ketukan ketiga pintu pun terbuka, Aji pun tak lupa langsung mengucap salam


" apa ini tidak merepotkan buat bapak " tanya Olin


" tidak kok santai saja " jawab Aji yang sesekali melirik Berliana


Tak berselang lama Olin yang mendapat petunjuk pun ingin membantu, ia langsung bermain peran sedikit,


" halo, apa ke kantor, ok aku akan kesana , oh Berliana sudah ada yang jemput, baiklah kalau begitu " akting Olin saat menerima telepon seakan-akan telepon dari kantor , padahal yang meneleponnya adalah sopir online yang ia pesan tadi


Dengan wajah terlihat panik Olin pun meminta maaf kepada Berliana dan Aji karena harus pergi duluan, Berliana yang merasa biasa saja pun hanya santai menanggapi ucapan Olin namun saat Olin melewati tubuh Aji ia lantas mengedipkan mata kirinya berusaha memberi kode bahwa Aji harus memanfaatkan situasi tersebut


Aji mencoba memahami kode singkat yang diberikan Olin itu, lantas ia pun bersikap biasa-biasa saja, tak berselang lama setelah Olin keluar kamar Aji dan Berliana pun menyusul berjalanan keluar , mereka bersama berjalan menuju tempat parkir rumah sakit.


Sesampainya di samping mobil, Aji dan Berliana pun masuk, Aji pun lantas menghidupkan mesin mobil itu,


Tak terasa perjalanan mobil hitam yang hampir memakan waktu satu setengah jam itu pun berhenti didepan sebuah rumah bertema monokrom,


" kita sudah sampai, apakah anda mau bertamu sebentar? " tanya Berliana


" boleh saja, namun sepertinya saat ini kamu perlu istirahat yang cukup, mungkin di lain waktu sekalian kita membahas masalah pekerjaan " jawab Aji


Berliana pun mencoba memahami maksud ucapan lelaki yang sudah mengantarkan dirinya pulang dengan selamat tersebut, lantas ia pun meminta Aji untuk segera pulang juga karena menurut wanita tersebut Aji pasti sudah meninggal kan banyak kerjaan di kantornya dan dia tak ingin membuat lelaki tersebut kewalahan, ucapan salam pun mengakhiri kebersamaan mereka.


Yang berputar itu matahari atau bumi, mungkin pertanyaan itu pernah banyak orang pertanyakan tak terkecuali Aji yang saat ini tengah bangun dari tidurnya setelah mendengar suara adzan subuh berkumandang.


Dalam benaknya ia bersyukur masih bisa mendengar adzan namun disisi lain ia juga merasa waktu begitu cepat berlalu karena sepertinya belum lama ia menutup mata tapi pagi sudah menyapa saja, tak ingin berlama-lama Aji pun lantas berjalan ke arah wastafel ia hendak mencuci mukanya agar bisa segera tersadar setelah itu ia lantas mengganti pakaian tidurnya dengan baju koko dan sarung tak lupa peci sudah bertengger di kepalanya, sesampainya di mushola kecil yang ada didalam rumahnya, Aji pun lantas menjalankan sholat subuh dua roka'at

__ADS_1


Didalam doanya ia mencoba kembali menyerahkan urusan cintanya kepada sang Pencipta,


pukul 8 pagi


Terlihat Berliana tengah duduk di samping meja makan, makanan yang disediakan terlihat berbeda dengan menu kemarin, dengan sedikit rasa heran ia pun bertanya


" kak Olin tumben nih nyiapin makanan banyak sekali "


" aku juga cuman ngikutin perintah aja kok, dah nggak usah kebanyakan tanya, cepet dimakan keburu di serbu hewan-hewan "


Jawaban kak Olin dengan nada seperti orang tua menasehati anaknya, karena tak ingin membuat keributan Berliana pun segera menikmati hidangan yang sudah tersedia,


" kak, memang siapa yang nyuruh kakak " rasa penasaran Berliana semakin besar


" udah, ntar kamu tau sendiri " jawab Olin singkat sambil merapikan piring kosong


Berliana pun mengambil kesimpulan, mungkin semua itu fasilitas yang diberikan oleh agensi, setelah kedua wanita itu selesai menikmati hidangan di pagi hari, mereka pun bergegas berangkat ke kantor Aji untuk membahas kerjasama yang akan mereka lakukan,


Perjalanan pun terasa cepat, sekarang Berliana dan Olin sudah berada di dalam lift menuju lantai atas dimana kantor Aji berada, setelah lift terbuka kedua wanita itu berjalan menyusuri lorong, saat hendak belok kiri, tanpa terencana mereka berdua berpapasan dengan Tinto


" eh pak Tinto, hari ini kita jadi kan membahas rencana kerja samanya " tanya Olin


" oh iya jadi, kalau begitu mari saya antar ke ruangan pak Aji " jawab Tinto dengan nada sopan


Tak ingin berlama-lama Berliana dan Olin akhirnya mengikuti langkah Tinto yang mengarah ke salah satu ruangan dengan pintu megah, setelah mengetuk pintu dan memperoleh ijin untuk masuk ke dalam ruangan itu, Tinto pun tak lupa mengajak kedua tamu pagi itu untuk mengikuti langkahnya


" permisi pak, ini nona Berliana dan nona Olin ingin membahas kelanjutan kerja sama yang akan kita lakukan " nada Tinto tegas dan penuh arti saat melapor kepada sang atasan


" oh kalau begitu mari, silahkan duduk di kursi "

__ADS_1


Aji pun langsung menghentikan tugasnya membaca beberapa dokumen laporan keuangan perusahaan, ia lantas berdiri dan segera mempersilahkan kedua tamunya itu untuk duduk di sofa yang terletak tak jauh dari meja kerja nya,


Olin dan Berliana pun akhirnya duduk diikuti Aji, sekarang mereka bertiga saling berhadapan, Tinto terlihat tengah mencari dokumen berisi tentang kewajiban yang harus kedua pihak lakukan lalu tak lupa di dokumen tersebut juga menerangkan seberapa beser keuntungan yang akan Berliana terima jika kerja sama itu jadi dilakukan


__ADS_2