Mencari Tulang Rusukku

Mencari Tulang Rusukku
episode 67


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang hanya ada keheningan yang menemani Aji dan Berliana saat di dalam mobil, sesungguhnya banyak begitu pertanyaan yang muncul dalam pikiran Berliana, namun seakan ada tanda silent besar yang menghalangi mulutnya terbuka, sedangkan Aji hanya konsentrasi menyetir dan sedikit melupakan bahwa dia tak sendiri saat itu,


Saat di lampu merah, mobil Aji pun berhenti dan saat itulah Berliana memberanikan diri bersuara,


" maaf Pak sebelumnya, anda alumni SMP 01 " pertanyaan Berliana sedikit mengejutkan Aji


" iya benar kok kamu tau" Aji membalas pertanyaan tersebut


" berarti bisa jadi kita seangkatan " ucap Berliana tanpa ragu


Namun belum sempat Aji menjawab suara klakson dari arah belakang mencegah ia bersuara, lalu karena tak ingin membuat keributan Aji pun melakukan mobilnya tanpa menanggapi ucapan Berliana tadi, setelah sampai di rumah Berliana, seakan Aji sudah lupa atas pengakuan sang model tersebut, dan akhirnya Berliana masih menyimpan pertanyaan yang amat banyak karena tak mendapatkan kebenaran sedikitpun dari Aji,


Tanpa ragu Aji langsung berpamitan kepada Berliana setelah sang model turun dari mobilnya, dan Berliana seperti tak bisa berbuat apa-apa dia hanya diam, dalam hatinya ia mencoba berfikir positif,mungkin Aji tengah dikejar pekerjaan jadi tak sempat menanggapi ucapannya tadi, dengan perlahan akhirnya kaki Berliana berjalan memasuki rumah sederhana yang ia tempati,


Sedangkan dalam perjalanan pulang, Aji merasa ada sedikit rasa ragu yang menyelimuti hatinya, seakan waktu menunda ia berkata jujur kepada Berliana, setelah sampai rumah Aji langsung berjalan mendekati keran yang ada di luar rumah setelah mencopot sepatunya berganti memakai sandal berwarna biru, Aji pun ber wudhu agar rasa bimbang nan kacau yang menyelimuti hatinya segera pergi menjauh,


Tak lupa Aji berdoa agar Allah menjauhkan dirinya dari kebimbangan serta keraguan yang masih mencoba mendekati pintu hatinya,


Sedangkan Tinto yang tengah berbaring di atas tempat tidur hanya terdiam menatap langit-langit kamarnya, pikirannya sedikit terusik, kalimat kenapa aku ragu, setia mendiami hatinya yang tak bisa Tinto singkirkan secara tiba-tiba,


“ apa aku harus menyapanya, tapi rasa bersalah ini tak bisa aku pungkiri " gumam Tinto dalam hati


Namun perlahan rasa kantuk bisa menghentikan keraguan yang ada dalam pikirannya meski hanya sebentar karena bisa di pastikan setelah ia membuka mata, perasaan itu pasti akan muncul kembali dan hanya bisa dihilangkan kalau Tinto bisa menyelesaikan masalah dimasa lalu nya itu bersama sang pemeran utama,


Matahari pagi telah menyapa, kebisingan jalanan sudah banyak orang bisa mendengar, pagi itu Samuel berencana untuk mendatangi sahabatnya yang tak lain adalah Aji

__ADS_1


Terlihat didalam kantor, Aji terlihat tengah serius meneliti beberapa berkas yang ada dihadapannya, tak berselang lama suara ketukan pintu menghentikan pekerjaannya, ia pun mempersilahkan orang yang mengetuk untuk masuk, ternyata orang itu adalah Samuel


" selamat siang bos " sapa Samuel


" oh kamu,, ku kira siapa tadi " balas Aji


" kenapa raut wajah mu tak begitu bersemangat " tanya Samuel yang telah duduk di sofa


" bukan apa-apa " jawab Aji


Namun karena merasa sang sahabat seakan menyembunyikan masalah, Samuel pun berusaha memancing sang sahabat agar berterus terang kepadanya, dan perjuangan Samuel pun berhasil, Aji yang merasa sudah terpojokkan pun akhirnya bersuara,


" jadi kamu masih ragu tentang perasaan mu itu " Samuel menyimpulkan


" ya dan aku tak ingin kesalahan ku ini hanya membangunkan luka yang telah lama tidur di dalam hati " jelas Aji


" dan cobalah buang sakit hati mu yang dulu itu, siapa tau rasa cinta yang akan menggantikannya " lanjut Samuel berusaha menenangkan pikiran Aji


Sedangkan Aji hanya bisa terdiam sambil menatap langit cerah yang terlihat di luar ruangan,


" hei, Aji yang ku kenal bukan orang yang gampang putus asa seperti ini, ayolah tunjukkan semangat mu "


Jam makan siang sudah datang, Aji pun mengajak sang sahabat untuk makan bersama, namun sebelumnya Samuel menyuruh Aji untuk melaksanakan sholat dzuhur terlebih dahulu,


Semenjak mereka bertemu di bangku SMA toleransi beragama sangat mereka jaga, jadi meski mereka tak sama keyakinannya namun hubungan persaudaraan terjalin erat,

__ADS_1


Aji dan Samuel mendatangi sebuah warung makan sederhana yang sering mereka berdua maupun keempat teman lainnya kunjungi, bukan hanya rasa dan kualitas makanannya yang terjamin namun keramahan sang pemilik pun membuat Aji dan kelima sahabat nya menjadikan rumah makan tersebut sebagai salah satu tempat langganan mereka,


Setelah selesai menghabiskan makanan dan membayar, Aji dan Samuel pun keluar dari rumah makan tersebut, namun betapa terkejutnya Aji melihat Tinto dan Berliana berada dalam satu mobil lewat dihadapannya, Samuel yang tak paham hanya mencoba menegur Aji yang terdiam,


" hey, ada apa kenapa kau diam saja, masih lapar " tegur Samuel


" oh nggak, aku,, ee,, aku hanya kelupaan dimana menaruh kunci mobil tadi " Aji berusaha menjawab


" lha itu ada ditangan kanan mu, aneh kau nih " ucap Samuel sambil menggelengkan kepalanya dengan ringan


Aji pun hanya tersenyum sambil menatap tangan kanan nya, ia pun lantas langsung membuka kunci mobil, baik Aji maupun Samuel langsung masuk kedalam mobil, Aji pun melajukan mobil dengan perlahan, sekilas bayangan Tinto dan berliana muncul di ingatannya, tiba-tiba saja Aji tak bisa. mengendalikan setir mobil, Samuel mencoba menenangkan Aji namun naas mobil itu pun menghantam sebuah pohon cemara, sedangkan beberapa motor dan mobil yang ada dibelakang Aji bisa mengendalikan laju kendaran mereka jadi kecelakaan bisa terhindar, beberapa orang entah para pengendara maupun orang sekitar jalanan langsung mencoba mengevakuasi Aji dan Samuel,


Tak berselang lama mobil ambulan datang, para tim medis mengevakuasi Aji yang tengah pingsan sedangkan Samuel yang masih sedikit tersadar juga ikut dilarikan ke rumah sakit di antar oleh salah seorang pengendara yang ikut serta dalam evakuasi tadi


Sesampainya di rumah sakit, Aji dan Samuel langsung masuk ke ruang IGD, tak berselang lama Samuel sudah dipindahkan ke ruang rawat inap yang berbeda dengan Aji karena kondisi mereka yang juga berbeda, Samuel hanya tertidur sebentar setelah penanganan tadi sedangkan Aji masih menutup. mata karena pingsan


Empat jam sudah berlalu, perlahan jari-jari Aji bergerak sontak ibunya yang sedari tadi duduk di samping tubuh sang putra langsung berteriak mencoba memanggil perawat, setelah selesai memeriksa kondisi Aji, perawat itu pun langsung keluar,


" alhamdulillah nak kamu sudah bangun " ucap Ibu


" apakah Samuel baik-baik saja " kalimat yang keluar pertama kali dari mulut Aji


" alhamdulillah dia baik-baik saja, sekarang dia dirawat di kamar depan " jelas sang ibu


" maaf Bu, Aji membuat ibu khawatir " Aji menata wajah sang ibu

__ADS_1


Sang Ibu pun mengusap wajah anak semata wayangnya tersebut, tak berselang lama sang Ayah masuk kedalam kamar, perbincangan keluarga pun berlangsung dengan santai dan penuh canda


__ADS_2