
Rapat pun berlangsung, nampak Aji membaca biografi beberapa model yang direkomendasikan oleh tim, matanya perlahan meneliti satu persatu kelebihan dan kekurangan para model tersebut, setelah membaca semua biografi tersebut akhirnya ia mencoba mengambil keputusan,
" baik semua sudah saya teliti, dan sepertinya nona Berliana yang sangat cocok menjadi brand ambassador produk kita nanti, " ucapan Aji membuat para petinggi dan beberapa manajer saling bertatapan
Karena merasa bahwa semua yang hadir menyetujui keputusannya tersebut ia pun mengakhiri rapat siang itu dengan tak lupa mengucap syukur dalam hatinya
Perlahan satu persatu anggota rapat keluar dari ruang rapat, Aji yang pertama keluar pun sudah kembali duduk di ruangannya, tak terasa waktu sudah berganti sore dan karena Aji merasa bahwa semua tugas sudah ia kerjakan akhirnya ia pun keluar dari kantor menuju mobil nya yang terparkir di basement gedung
Perjalanan pulang pun Aji lalui dengan ketenangan, saat ia berhenti di lampu merah sesekali Aji menatap pemandangan sekitar, namun saat ia berhenti di perempatan terakhir sebelum masuk ke area perumahan dimana rumahnya berada mata Aji terpaku dengan tingkah laku seorang wanita yang tanpa ragu turun dari motor matic nya menolong seorang lansia menyebrang jalan
Namun tatapan Aji tersebut tak berselang lama, ia disadarkan oleh suara klakson truk yang ada dibelakang, Aji pun segera melajukan mobilnya kembali
Sebelum Aji pulang kerumah ia menyempatkan diri menengok keadaan kafe miliknya,
Terlihat Aji bercengkrama dengan karyawan nya, sesekali terdengar senda gurau di tengah perbincangan, saat ia keluar dari dapur terlihat sang sekertaris berdiri di depan ruangan yang sering ia gunakan, Aji pun langsung mendekat
" Tinto ada apa, sepertinya aku sudah menyelesaikan semua jadwal ku hari ini " tanya Aji
" maaf pak, ini tadi ada pemberitahuan dari manajer Berliana, yang mengatakan bahwa Berliana mengalami kecelakaan dan sepertinya dia tidak bisa bekerjasama dengan kita. " penjelasan Tinto tersebut sedikit membuat Aji terkejut
Karena merasa pembicaraan tersebut begitu penting Aji pun mengajak Tinto masuk ke ruangannya untuk lebih leluasa menjelaskan permasalahan tersebut,setelah mereka berdua duduk Tinto pun mengeluarkan semua berita yang ia terima dari pihak manajer Berliana.
" bagaimana ini pak, apakah kita akan mengganti modelnya atau kita menanti Berliana keluar dari rumah sakit " tanya Tinto
" kalau kita mengganti model harus melalui persetujuan para anggota direksi, belum lagi kita harus merombak semua jadwal yang sudah disusun, " Aji terlihat sedang berfikir mencari jalan tengah dari masalah itu
" begini saja setelah aku pulang nanti kita kerumah sakit, kita tengok Berliana apakah kondisinya parah atau tidak setelah itu baru kita mengambil keputusan, sekarang kau ikut saja aku pulang. "
__ADS_1
Tinto yang mendengar ucapan Aji tersebut perlahan mencoba memahaminya,waktu menunjukkan pukul setengah delapan belas, mobil Aji memasuki halaman rumah dengan sang sekertaris sebagai sopir
Aji pun keluar mobil dan berjalan memasuki rumah dengan diikuti langkah sang sekertaris, ayah dan ibu yang sudah menanti kepulangan sang anak terlihat sedikit kebingungan kenapa sang sekertaris ada dibelakang sang anak
" ada apa ini? tumben kamu mengajak Tinto " tanya sang ayah
" aku ada sedikit urusan dengannya nanti " jawab Aji
" Aji bisakah ibu bicara sebentar dengan mu, " tanya ibu, Aji pun membiarkan sang ibu mengikutinya masuk kekamar nya
Setelah masuk kamar Aji pun bergantian melepas sepatu, dasi dan juga jas nya sambil. menunggu hal apa yang ingin ibunya tanyakan
" apakah kamu marah dengan sikap ibu dan ayah? " pertanyaan pertama sang ibu
" tidak " jawab singkat Aji
Dengan perlahan ia menatap wajah sang ibu, kedua tangannya memegang erat tangan ibunya, dengan perlahan dan nada lembut Aji pun mencoba menjelaskan
" aku tau maksud ibu baik tapi bukan begini caranya, biarkan semuanya berjalan dengan alami, ku mohon berhentilah menjodohkan ku dengan wanita-wanita itu, lalu mengenai Nindi, dia sudah memiliki orang yang ia cintai sebelum bertemu dengan ku, namun meski kita tidak berjodoh dia berharap kami berteman, "
Ucapan Aji itu membuat sang ibu meneteskan air mata kesedihan karena tak hanya sekali sang putra merasakan ditolak sebelum menyatakan, namun sebelum rasa itu berlanjut memeluk hati sang ibu, Aji pun mencoba menenangkannya
" dan perlu ibu tau aku sudah membuang jauh-jauh luka dimasa lalu dan anggap lah itu semua adalah tantangan hidup yang ditakdirkan Allah untuk ku, bu jangan sampai lupa bahwa jodoh,hidup dan rezeki sudah diatur oleh sang Pencipta jadi lebih baik ibu bantu Aji cukup dengan doa "
" astagfirullah, ibu sampai melupakan itu semua, ibu begitu malu kepada Allah nak " ucap ibu Aji
" ya sudah bu adzan sudah berkumandang lebih baik ibu sholat dan berikhtiar, sekarang aku mau membersihkan diri dulu setelah menunaikan sholat isya nanti aku dan Tinto akan pergi sebentar, " ucap Aji
__ADS_1
Kesalah pahaman antara anak dan ibu itu pun berakhir dengan senyuman, sang ibu pun keluar dari kamar Aji lantas pergi mengambil air Wudhu dan menunaikan ibadah sholat Isya., tak terkecuali dengan Aji yang sudah selesai membersihkan diri dengan berpakaian rapi ia lantas menunaikan ibadah sholat
Setelah selesai ia dan Tinto berpamitan, mereka berdua menyusuri jalanan kota menuju rumah sakit dimana Berliana dirawat
Rumah keluarga Bashir
Keramaian terdengar dari dalam rumah kak Bashir, disana tengah berlangsung acara akikahan putra ke dua nya, terdengar doa dipanjatkan oleh seorang ustadz yang di sambut dengan ucapan aamiin oleh semua tamu yang hadir tak ketinggalan terlihat Bhinneka dan Yusuf yang menyambut alunan doa tersebut dengan rasa berharap dan syukur
Berharap agar doa yang dipanjatkan akan Allah kabulkan serta bersyukur akan anugrah yang Allah berikan hingga acara tersebut berjalan lancar, tak terasa acara tasyakuran tersebut telah berakhir terlihat para tamu pun sudah pulang
" alhamdulillah ya kak acaranya berjalan dengan baik, " ucap Bhinneka kepada sang kakak ipar
" iya alhamdulillah, kalian tidak jadi menginap disini? " tanya kak Bashir
" tidak kak besuk aku harus kekantor lebih awal mau ada tinjauan proyek, kalau begitu kita pamit pulang dulu kapan-kapan kalau ada waktu kita main kesini lagi" jawab Yusuf
Yusuf dan Bhinneka pun menyalami semua orang yang ada di ruangan itu mulai dari ayah dan bunda,kedua kakanya tak ketinggalan beberapa kerabat mereka, ucapan salam pun mengiringi kepergian keluarga kecil itu keluar rumah,
Dirumah sakit ARINDAYU
Di salah satu kamar pasien terlihat seorang wanita dengan jarum infus melekat ditangannya yang hanya bisa duduk dan memainkan telepon genggam nya, tak berselang lama seorang wanita memakai celana jeans panjang serta kaos biru lengan pendek membuka pintu tanpa ragu ia lantas masuk keruangan tersebut dengan menenteng sebuah tas plastik ditangan kirinya.
" Lian kenapa makan malam mu belum kau habiskan, dan sudahkah kau meminum obat mu " ucap wanita yang baru masuk itu
" aku sudah kenyang,tenang saja obatnya sudah ku makan, apakah tim penyelidik kepolisian sudah tau siapa dalang di balik insiden ini, "tanya balik sang pasien yang ternyata adalah Berliana
" belum ada kemajuan tapi tenang saja aku sudah menyuruh agen khusus kita untuk mencari tau " jawab wanita tadi yang tak lain adalah sang manajer bernama Olin
__ADS_1