Mencari Tulang Rusukku

Mencari Tulang Rusukku
episode 68


__ADS_3

Sudah seminggu Aji dirawat di rumah sakit, pekerjaan kantor diambil alih oleh sang Ayah, keadaan Aji pun sudah memperlihatkan kondisi yang baik, sang Ibu senantiasa menemaninya,


Siang itu terlihat Aji dan Ibu nya tengah berbincang-bincang namun ketukan pintu menghentikan perbincangan mereka. Ibu pun berdiri berjalan ke arah pintu kemudian ia membuka pintu kamar inap tersebut, teryata ada Tinto yang berdiri di depan pintu, Ibu pun mempersilahkan Tinto masuk, Tanpa ada rasa canggung Tinto pun masuk kedalam.


Sedangkan Aji yang melihat wajah Tinto serasa ingin mengintrogasi bawahannya tersebut, namun ia masih berusaha menahan keinginan itu melihat masih ada sang Ibu di sana


" siang Pak, bagaimana keadaannya? maaf saya baru bisa menjenguk hari ini " ucapan Tinto saat berjalan mendekati sang atasan


" siang, iya nggak apa-apa, bagaimana kerjaan di kantor, nggak ada masalah kan? "


Jawaban Aji dengan intonasi yang tak seperti biasa, sedikit membuat Tinto bingung,


apakah aku berbuat kesalahan


Pertanyaan itu menyelimuti pikirannya saat ini, namun belum sempat Tinto menjawab suara sang Ibu menghentikan niatan nya


" udah ngomongin masalah kerjaan nya, ini rumah sakit bukan kantor, oh ya Tinto tante minta tolong kamu disini dulu ya jagain si Aji, tante mau cari makan dulu " ucap Ibu


" baik tante, "


Tinto pun menjawab dengan rasa hormat, ia lantas duduk di kursi samping kanan Aji, lantas Aji yang sudah tak bisa menahan akhirnya mengungkapkan semua rasa keinginan tahuannya,


" apa kamu ingat siapa Berliana " tanya Aji


Dengan sedikit rasa ragu, Tinto pun memberanikan diri menjawab


" iya, aku ingat dia teman seangkatan kita saat di SMP dulu hanya berbeda kelas "


" apa kalian dekat sebelumnya " Aji bertanya lagi


" tidak begitu hanya saja dia dan aku adalah anggota seni melukis dulu, " jawaban Tinto tersebut sedikit menambah rasa penasaran Aji


" em, ya sudah kalau begitu "


Ucapan Aji tersebut membuat Tinto semakin kebingungan, sebenarnya ada masalah apa sehingga atasannya tersebut membahas masalah pribadi bahkan membawa ingatan masa lalu, karena tak ingin berburuk sangka, Tinto pun mencoba menepiskan semua kecurigaan yang ada di pikirannya,

__ADS_1


Ibu masuk kedalam kamar salam nya menepiskan hawa sunyi yang sedari tadi mengisi kamar tersebut, tanpa rasa curiga Ibu pun bersenda gurau dengan kedua bujangan yang ada di ruangan itu, Aji dan Tinto masing-masing mencoba mengikuti alur candaan sang Ibu,


Tak terasa waktu kunjung pasien sudah hampir habis, Tinto pun berpamitan kepada Ibu dan Aji, setelah Tinto keluar Aji pun menatap wajah sang Ibu


" Ibu pulang lah, aku disini sendiri tidak apa-apa kok " ucap Aji


" nggak ah, nanti kalau kamu butuh apa-apa gimana? " tanya Ibu yang sedikit ragu


" udah tenang aja kan ada perawat, lagian besuk juga aku dah pulang kok " Aji mencoba meyakinkan


" yakin,baiklah kalau begitu Ibu pulang, tapi kalau ada apa-apa ntar langsung telpon Ibu ya "


Ucapan Ibu dibalas dengan anggukan oleh sang putra, Ibu pun keluar setelah yakin jika sang putra bisa ia tinggal, setelah sang Ibu keluar Aji menyandarkan badannya, seketika ingatan tentang perjuangan cinta nya untuk Bhinneka muncul, saat itulah perasaan kecewa dihatinya semakin besar,


" ya Allah, apakah benar cobaan hati ini bisa aku lalui, " ucap Aji dalam hati


Ia merasa jika ia selalu salah jatuh cinta, karena semua wanita yang ia cintai bukan lah jodoh dunia akhiratnya, ditengah lamunan tiba-tiba suara telepon menyadarkan Aji, ia pun lantas menjawab panggilan tersebut setelah mengetahui siapa yang menghubunginya


" Waalaikum salam, gimana kabar mu Lin " balas Aji setelah mendapat salam dari sang penelepon


" baik, aku dapat kabar kalau kamu koma karena kecelakaan waktu ama Samuel, lantas gimana keadaan mu " tanya Lintang sang penelepon


" ya udah aku besuk ke situ, kamu masih di rumah sakit atau sudah pulang, aku mau njenguk " ucap Lintang tanpa jeda


" kamu kesini karena aku sakit? " tanya Aji sedikit menggoda


" ya nggak juga sih, habis tadi kakeknya Hugo telepon katanya kangen pengen ketemu, itung-itung sekalian gitu, " jawab Lintang


" ok deh besuk ke rumah ku aja, aku balik pagi, aku juga kangen pengen gendong ponakan ku itu " jelas Aji


" ok lah kalau begitu, ya udah istirahat sana aku mau nyuci baju, daa "


Ucapan Lintang mengakhiri panggilan bahkan sebelum Aji menjawab, ia pun tersenyum dan baru menyadari meski belum ada orang yang mendampingi hatinya namun masih ada keluarga, saudara dan sahabat yang selalu bersama nya,


Dilain tempat terlihat Tinto tengah duduk berhadapan dengan seorang perempuan di restoran

__ADS_1


" apa kamu masih belum bisa menerima diriku ini " tanya sang perempuan namun hanya diam yang ia terima


" Tinto, apa sebenarnya yang kurang dari ku, hingga kamu tak pernah mau menerima perasaan ini dari dulu, " sekali lagi sang perempuan bertanya


" maaf aku tak bisa menerima semua perasaan yang kau berikan jika itu diluar ikatan persahabatan kita " Tinto mencoba menjelaskan


" apa karena aku bukan wanita seperti yang kau inginkan, katakanlah apa kekurangan ku, aku pasti akan berusaha menjadi seperti yang kau harapkan " ucap wanita tersebut penuh harap


" Berliana kamu tidak harus berubah menjadi orang lain jika ingin mendapat kan cinta, namun memang aku tak bisa memberikannya, bukan karena aku tak menyayangi mu tapi memang karena rasa sayang ku hanya di batas persahabatan "


Dengan perlahan Tinto memperjelas maksud dari ucapan nya di awal, sedangkan sang wanita yang ternyata adalah Berliana hanya terdiam, perlahan air mata nya mengalir tanpa disadari, tangan Tinto ingin sekali mengusap wajah sang wanita, namun hati dan pikirannya langsung menghalangi


" maaf aku harus pergi, "


Tinto pun berdiri lalu berjalan menjauhi meja itu, Berliana hanya bisa terdiam, setelah merasa hatinya telah tenang ia pun segera merapikan tas dan bajunya, namun ketika dia berdiri terlihat sapu tangan berwarna putih bergaris warna biru tergeletak di dekat cangkir kopi yang diminum Tinto tadi, seutas senyum muncul di wajah Berliana, ia pun tanpa ragu mengambil sapu tangan itu sambil bergumam


" aku sekarang tau apa sebenarnya isi hatimu "


Setelah itu Berliana pun pergi, waktu pun berjalan perlahan hingga tak disangka malam telah datang,


Hari telah berganti terlihat suasana rumah sakit yang ramai entah itu karena para petugas kesehatan yang sedang bekerja atau para pengunjung rumah sakit dengan tujuan yang berbeda,


Sedangkan di balik pintu kamar yang di gunakan Aji terdengar suara perbincangan. Ternyata Ibu sedang berbincang dengan Dokter yang selama ini merawat Aji, setelah mendapat penjelasan dari sang Dokter, Ibu pun mempersilahkan sang Dokter melanjutkan pekerjaannya


" alhamdulillah, sekarang kamu bisa pulang tapi sampai di rumah nanti kamu harus tetap istirahat jangan pernah berkeinginan memegang pekerjaan kalau belum Ibu mendengar ucapan sembuh total dari Dokter, paham! "


" iya bu, Aji akan jadi anak yang penurut "


" oh ya tadi sebelum Ibu kesini, Lintang menelepon katanya dia mau main ke rumah, Samuel juga ikut "


" iya kemarin dia sempat telpon aku juga, ya entar Ibu masakin menu favorit mereka aja, pasti mereka seneng "


" oh ya kenapa nggak sekalian nyuruh Dika, Indi dan Bhinneka datang, jangan lupa mereka ajak anak mereka masing-masing, pasti seru entar "


" ya ntar Aji coba "

__ADS_1


Nada ragu sedikit mengiringi jawaban Aji, sebenarnya ia sangat ingin berkumpul dengan kelima sahabat nya itu, namun apakah hatinya sudah siap padahal saat ini hatinya sedang sedikit terluka.


Karena tak ingin mengecewakan sang Ibu, ia lantas menghubungi Dika,


__ADS_2