
Semua keluarga besar Kyai Emir berkumpul di meja makan, suasana sudah lebih kondusif setelah semalam sempat geger dan menyebabkan putra ketiga mereka dalam masalah.
"Kamu menyukai Nana?" terang Kyai Emir tanpa basa-basi.
Hening, tak ada sahutan dari bibir Azmi, pria itu jelas bingung harus menjawab apa.
"Azmi minta maaf, Bah, sungguh ini hanya salah paham," sesalnya tanpa berani menatap wajah Abah yang kelihatan kecewa.
"Nikahi dia, Abah yakin kamu bisa membimbingnya ke jalan yang lebih baik."
Azmi mendongak, lebih tidak percaya dengan perkataan ayahnya yang cukup membuat ia mengana tanpa basa-basi. Tepat sasaran dan pada intinya. Beliau tahu mereka tidak mungkin melakukan hal di luar ekspektasinya. Namun, untuk menjaga dari fitnah banyak warga yang cukup meresahkan, lebih baik begitu adanya.
"Apa orang tuanya bakalan merestui, Nana itu masih kecil, dia bahkan masih sekolah," jawab Azmi ragu.
"Abah tahu, Nana masih bisa bersekolah, tanpa kamu mencampurinya hingga lulus nanti, apa kamu siap?"
Azmi masih speechless dengan lontaran ayahnya yang cukup frontal. Bagaimana bisa ia menikahi bocil, sungguh melesakkan.
"Azmi, kita tunggu orang tua Nana datang ke sini, kita minta pendapat beliau, Abah hanya mencari solusi yang terbaik," ucapnya sebelum beranjak.
Suasana masih begitu pagi, mereka baru saja selesai sarapan. Masih berkumpul di meja, termasuk Shali. Perempuan itu juga tak kalah shock mendengar keputusan mertuanya. Dia sendiri dihadapkan pada pernikahan usia mahasiswa cukup keberatan, bagaimana dengan Nashwa yang masih sekolah?? Kalau jadi Nana, mungkin Shali akan pingsan.
"Shali, kamu bisa cek keadaan Nana di kamarnya, Ummi takut dia kenapa-kenapa semalam terlihat begitu kedinginan," pinta Ummi Salma.
"Siap Ummi," jawab Shali segera bergegas.
Shali mengunjungi kamar Nashwa sesuai perintah Ummi Salma, tangannya menenteng makanan. Perempuan itu mengetuk pintu yang sudah terbuka separuhnya, terlihat gadis itu baru saja keluar, dengan banyaknya makanan dalam kantong plastik. Rupanya Nana baru saja membeli makanan itu karena merasa lapar, ia malu untuk keluar mengambil makan di pondok karena insiden semalam cukup ramai.
"Na, aku bawa sarapan untuk kamu." Shali berjalan mendekat, menaruh nampan di atas nakas. Gadis itu terlihat baik-baik saja, tengah menggigit roti sambil mengenakan sepatunya.
"Makasih kak, aku malah udah beli ini, soalnya tadi udah laper banget, mau ke dalem ambil makan, berasa nggak punya muka."
"Kamu mau sekolah? Berangkat bareng aku aja, nanti aku antar sekalian," ujarnya menawarkan.
"Nggak usah Kak, terima kasih, aku udah banyak ngrepotin orang di sini, aku jalan aja, udah deket kok," tolaknya yakin.
__ADS_1
"Yakin, kaki kamu bukannya masih sakit ya?"
"Sedikit, udah mendingan kok, nggak pa-pa aman," jawabnya santai.
"Aku berangkat dulu ya?" pamit Nashwa.
Gadis itu memberanikan diri menemui Ummi sebelum berangkat sekolah. Ia merasa begitu bersalah dengan kejadian semalam.
"Assalamu'alaikum Ummi," sapa Nashwa beranjak mendekat. Gadis berseragam putih abu itu mencium punggung tangan Ummi Salma dengan takzim.
"Waalaikumsalam, bagaimana keadaan kamu, Na?"
"Alhamdulillah, lebih baik Ummi, maaf, atas kejadian semalam, Nana janji nggak akan ngulangi lagi, eh ya Ummi, mulai nanti, Nana mau pindah ke asrama, Nana sudah siap berbagi kamar dengan yang lainnya," ucapnya yakin.
Ummi tersenyum menanggapi pengakuan Nana pagi ini. Ummi yakin, Nashwa itu gadis yang baik dan pasti akan muda dibentuk dalam lingkungan yang baik.
Sementara Shali masih sibuk bersiap di kamarnya. Perempuan itu tengah melakukan panggilan vidio call dengan suaminya yang begitu perempuan itu rindu. Shali begitu antusias menceritakan kejadian semalam di pesantren yang cukup ramai.
"Mas, semalam itu 'kan hujan deras, mana dingin lagi, sayang banget kamu nggak di rumah," cerocos Shali semangat sekali.
"Ish ... ya suasana dingin itu kan sangat cocok untuk pasangan berbulan madu."
"Kamu lagi pengen ya Dek?" tanya Aka menggoda.
"Apaan sih, jauh di sana juga, kamu mungkin yang ehem."
"Iya, sayang banget nggak ada lawan. Hahaha."
"Astaghfirullah ... Ustadz Aka yang sholeh bisa ngakak juga," celetuk Shali menggoda.
"Ustadz juga manusia, butuh hiburan, hiburannya ya gini sama istrinya."
"Mas kapan pulang?"
"Perasaan baru tiga hari aku berangkat, tapi bener juga ya berasa lama. Kangen ya?"
__ADS_1
"Banget, sebel banget ditinggal gini, mana tetep dikasih tugas lagi, tidak berperasaan!" cebik Shali mrengut.
"Kuliah tetep jalan dong sayang, mudah lah itu orang cuma buat esay. Jangan lupa deadline tugasnya."
"Kolot ih, kesel jangan banyak-banyak!" peringatnya galak.
"Hmm, biar kamu sibuk, nggak ada waktu buat main, pulang ngaji, pulang belajar, udah nggak boleh keluar."
"Nggak asyik!"
"Nggak boleh gitu, nanti janji deh, habis libur PAS kita liburan."
"Beneran?"
"Hmm, aku ada acara sekalian ke suatu tempat."
"Udah dulu sayang, aku harus siap-siap," ujarnya tersenyum.
"Nggak mau masih kangen," jawab Shali enggan menutup teleponnya.
"Assalamu'alaikum, cintaku, sayangku, istriku. Ana uhibbuki fillah," ucapnya dengan meninggalkan senyuman penuh semangat.
"Waalaikumsalam ... imamku. Ana uhibbuka aydlon," balas Shali tersenyum.
"Ahabbakalladzii ahbabtani ilahuu (Semoga Allah mencintaimu, Dzat yang membuatmu mencintai ku karena-Nya.”)
.
Bersambung
.
Hallo gaes sambil nunggu novel ini up mampir juga ke karya temenku yuk nggak kalah seru loh
__ADS_1