Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 115


__ADS_3

Akan menatap dengan gelengan kecil, menurut adalah solusi paling tepat atau istrinya akan banyak drama yang membuatnya pusing sendiri. Pada akhirnya Shali yang membawa mobil ketika melanjutkan perjalanan dan pria di sampingnya tertidur, benar-benat tertidur. Sudah bisa diprediksi suaminya itu kecapean.


Shali baru membangunkan setelah mobil miliknya terparkir sempurna di halaman pesantren. Namun, karena merasa iba, perempuan itu membiarkan sejenak suaminya tertidur. Sembari menunggu Aka terbangun, Shali membuka sterefom berisi bubur yang tadi sempat dibeli lalu segera menyantapnya. Hingga beberapa menit berlalu, pria itu mulai terusik dan membuka matanya.


"Sayang, udah sampai?" tanya Aka tergeragap mendapati dirinya benar-benar ketiduran.


"Udah dari tadi, ini bubur aku aja udah habis," jawabnya santai.


"Kenapa nggak bangunin aku? Maaf ya, aku malah ketiduran?" sesalnya benar-benar tanpa sadar.


"Kamu begitu nyenyak, mana aku tega Mas, aku yang minta maaf karena udah sarapan duluan, udah kadung lapar," lapor perempuan itu nyengir.


"Nggak pa-pa lah, kamu kan lagi hamil, udah pasti mudah lapar."


Mereka turun bersamaan, dengan Aka meraih tangan istrinya sembari melangkah masuk. Rumah nampak sepi, tak ada penghuni selain mbok Darmi yang membersihkan rumah itu. Pasangan halal itu langsung menuju kamarnya.


"Duh ... kangen banget sama kasur aku." Shali langsung merebah begitu sampai kamarnya, serasa menemukan pelabuhan terakhirnya yang paling ia rindukan padahal baru semalam.


"Mas, kamu nggak usah masuk ya, capek 'kan? Jadi, izin lagi aja, kalau perlu cuti sekalian biar aman. Hehe." Shali memang pandai beralibi, sejatinya ia senang juga kalau kuliahnya kosong walaupun ada tugas dari suaminya, namun berasa bebas mengarungi kampus tercinta.


"Seneng banget kayanya kalau aku izin, jangan harap bisa keluar sesuka hati. Apalagi niat hati menjadwal agenda yang aku nggak tahu, nggak boleh!" tekan Aka gemas.

__ADS_1


"Iya Om Ustadz," goda Shali mendrama.


"Aku mandi dulu, sayang," pamit Aka mlipir ke kamar mandi.


Shali sibuk menyiapkan gantinya, setelahnya mengetuk pintu kamar mandi secara tidak sabaran. Aka yang tengah sibuk memberi sampo pada rambutnya terpaksa menjeda, membukakan pintu untuk istrinya dengan wajah bertanya-tanya.


"Apa sayang, aku lagi mandi!" protes Aka gemas. Membuka pintunya dengan menyembulkan kepalanya.


"Hehe. Iya tahu, hubby ... ikut boleh?"


"Owh mau mandi bareng, sini sayang!" Aka menarik tangan istrinya lalu menutup pintu dengan cepat. Cukup lama mereka menghabiskan waktunya di kamar mandi berdua, tentu saja disertai becandaan.


Usai mandi bersama, Aka dan Shali berkemas, berhubung Shali sudah sarapan, perempuan itu menunggu suaminya hingga selesai. Setelahnya berangkat ke kampus bersama-sama.


"Astaghfirullah tugas dari Pak Aka banyak banget sih!" keluh Izza setengah protes.


"Kenapa keluhnya mengarah ke gue, Sis, nikmati saja, orangnya bakalan sering ngasih tugas tambahan ayahnya lagi sakit," ujar Shali kalem.


"Kyai Emir sakit? Mertua lo, dong! Semoga lekas sembuh," ujar Izza berbisik.


"Makasih, udah lah hayuk, kantin gue laper." Shali nampak semangat empat lima.

__ADS_1


Hamil membuat pola makan perempuan itu meningkat, bawaanya mudah lapar dan selalu kangen dengan suami. Seperti sore ini, Aka sudah melarang untuk menyusul istrinya ke rumah sakit, namun perempuan itu menyusul dan menyusul, begitulah seterusnya hingga hari-hari berikutnya.


Setelah di ICU selama tiga hari, Kyai Emir dipindahkan ke ruang perawatan biasa karena kondisinya membaik. Aka pun bisa sedikit lebih lega setelah masa-masa itu berlalu. Dirinya sudah merancang hari indah, rasanya akan sulit dilalui bila sampai terjadi sesuatu dengan abah.


"Aka, kamu pulang saja, kasihan istrimu setiap malam tidur di rumah sakit!" pinta Ummi di suatu sore.


"Iya, Ummi, nanti Aka pulang. Ummi nggak pa-pa kalau Aka pulang dulu, atau Aka suruh Azmi nemenin ya?"


"Nggak usah, Nak, kasihan Naswha di rumah sendirian, biar sama Zayyan saja mumpung besok juga hari libur."


"Bener Bang, pulang saja kasihan Mbak Shali," sambung Zayyan sama halnya dengan Ummi.


Mengingat kondisi abah yang semakin membaik, akhirnya Aka mengiyakan dan sore itu pulang ke rumah. Pria itu seperti biasa memimpin sholat maghrib hingga isya namun masih absen mengajar dan seperti biasa di isi santri lain.


Aka mengunjungi kamarnya usai berbincang hangat dengan Ustadz Edward. Beliau menanyakan kondisi kesehatan abah, dan membahas sedikit tentang pesantren. Aka adalah generasi penerus pemimpin selanjutnya yang akan menggantikan ayahnya bila saatnya tiba. Pria itu merasa masih terlalu dini, dan berharap bisa belajar banyak dulu, rasanya belum pantas menggantikan abahnya.


Usai berbincang hangat, pria itu kembali ke rumah utama dan mendapati istrinya mrengut lantaran menunggu terlalu lama.


"Maaf, Umma sayang, tadi ada Ustadz Edward nggak enak mau ninggalin. Ngomong-ngomong cantik banget malam ini, kode ya?" seloroh Aka tersenyum. Melepas kain sarung dan kopyah pada tempatnya. Menyisakan kaus dan celana pendek saja.


Aka mendatangi istrinya yang malam ini memakai kimono lingeri, terlihat sangat cantik dan seksi. Terlebih sudah beberapa hari ini mereka absen dari ritual suami istri, tentu saja hal itu membuat Aka menginginkan malam ini.

__ADS_1


"Mas, emang nggak pa-pa ya kalau lagi hamil, nanti kenapa-kenapa sama janinnya gimana?"


Aka yang sudah full semangat mendadak diam, antara menggebu tetapi takut salah langkah.


__ADS_2