Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 38


__ADS_3

"Pak berhenti dulu di depan mini market, sebentar saja aku haus," ujar Azmi menginterupsi supir. Untungnya pria itu menyimpan uang dalam saku, ia sengaja menghentikan taksi untuk memperlambat perjalanan itu.


"Tenang aja Pak, nanti argonya dihitung saja," ujar pria itu memastikan. Supir taksi mengangguk patuh.


"Shali kamu mau nitip apa?" ujar Azmi turun dari mobil. Pria itu masih menggenggam ponsel Shali di tangannya.


"Aku nggak haus, kamu aja sana aku tunggu di mobil," ujar gadis itu cuek.


Azmi segera menjauh dari mobil menuju mini market sebrang jalan, pria itu memang membeli air mineral, namun kembali menghubungi Aka menyampaikan bahwa dirinya berhenti di depan mini market. Azmi menghubungi beberapa kali namun tidak diangkat, akhirnya pria itu mengirim pesan. Setelahnya menghapus pesan tersebut dari kotak keluar.


"Mi, kok lama banget nanti kemalaman," keluh Shali begitu mendapati pria itu kembali ke mobilnya.


"Maaf ya ini minumnya, mau minum nggak, kamu duluan?" ujar Azmi menyodorkan satu botol air mineral. Shali menggeleng pelan tanda tak haus.


"Eh, ya ini ponselnya," ujar Azmi menyodorkan ponsel Shali.


Gadis itu menerima tanpa curiga, ia lebih takut dan kasihan kalau sampai di sana seorang diri atau bahkan diantar olehnya. Tentunya kasihan Bang Aka akan bingung nantinya mencari alasan.


Beberapa detik mobil melaju, ponsel Shali kembali bergetar rupanya itu adalah Aka yang menghubunginya. Pria itu merasa ponselnya terus bergetar, sehingga berhenti sejenak dan benar saja itu adalah nomor istrinya, namun sepertinya itu Azmi lagi yang mengabari keberadaan dirinya.


Tak ada sahutan membuat pria itu mematikan kembali panggilan dan segera melajukan motornya kembali. Setidaknya jarak mobil dan juga motornya tidak terlalu jauh. Azmi juga mengirimkan plat nomornya agar Aka dapat mudah menemukan di jalan kalau menyalip. Benar saja setelah kurang lebih sepuluh menit melajukan motornya, nampak taksi putih dengan nomor B 2864 tepat di depannya.

__ADS_1


Aka segera menyalip, mensejajarkan motornya dan mengetuk pintu kaca supir. Membuat Pak Supir itu menggerutu.


"Berhenti Pak, aku kenal!" seru Azmi sontak membuat atensi Shalin beralih.


"Siapa Mi, jangan-jangan orang jahat menghentikan mobil malam-malam begini," cemas Shali seperti bayangannya.


"Enggak kok, aku hafal motornya."


Supir taksi menepikan mobilnya, dengan Aka yang langsung menghalangi jalan. Pria itu langsung turun dari motor dan meminta maaf pada supir taksi sebelum pria berkisaran empat puluh tahun itu mengamuk.


"Maaf, Pak, saya mau bawa istri saya di dalam taksi Bapak," ujar pria itu sopan.


"Tuh orang kurang kerjaan banget sih, pakai acara nyusul segala, apa nggak tahu bahaya apa ngebut pakai motor." Shalin turun dari taksi sembari mengomel. Azmi sudah turun lebih dulu.


"Udah ya, aku nganternya sampai sini, hati-hati di jalan, nggak usah ngebut-ngebut Bang, bawa calon istri orang." Peringatnya yang seketika membuat Aka menatap tajam. Azmi nyengir tanpa dosa, adiknya itu memang sedikit ngeselin, walau dalam hatinya baik.


Taksi yang ditumpangi Azmi kembali melaju, tinggalah mereka berdua yang kini saling memperhatikan.


"Ngapain nyusul segala sih, udah malem kaya gini bukannya istirahat di rumah, malah ngebut, pakai motor lagi," omel Shalin yang seketika membuat Aka tersenyum.


"Kamu khawatirin aku?" tanya pria itu mengulum senyum.

__ADS_1


"Ya—nggak juga, cuma 'kan posisinya udah jauh juga, ngapain nyusul coba?"


"Kamu itu tanggung jawab aku, Dek, bagaimana kalau orang tuamu bertanya kamu pulang malam sendirian, tanpa aku? Jadi nggak usah dijawab udah ngerti 'kan?" tekan pria itu.


"Ayo cepetan naik, udah larut, dan sepertinya mau turun hujan!" seru Aka menginterupsi.


"Pakaian kamu tipis, kamu pakai jaket aku ya?" ujar pria itu membuka baju hangatnya.


"Nggak usah, pakaianku 'kan panjang, pakai kamu aja Mas jelas-jelas yang bawa motor di depan," tolak Shalin tegas.


"Ini malam lho Dek, udaranya dingin di atas motor, kamu pakai ya? Jangan banyak debat keburu hujan, menurut lah sekali ini saja," mohon pria itu seraya memasangkan jaket itu pada tubuh istri kecilnya.


"Kamu gimana? Kamu sih, pakai motor segala, udah tahu malam tuh dingin." Gadis itu terdengar menggerutu.


"Kan biar cepat sampai Dek, kalau bawa mobil ya lama, belum bisa macet di jalan," ujar pria itu membela.


"Pegangan yang kenceng, Dek, nanti jatuh kalau boncengnya kaya gitu, Mas mau ngebut, ini udah malam juga," ujarnya memperingatkan.


Shalin yang merasa kaku dan kikuk hanya menjumput ujung bajunya saja, membuat Aka gemas sendiri. Pria itu menarik tangan kanan dan kiri istrinya lalu menautkan jemarinya agar mengunci tubuhnya.


"Kaya gini Dek, biar aman," ujar pria itu melajukan motornya.

__ADS_1


__ADS_2