Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 85


__ADS_3

"Mas, aku udah sholat lho?" Shali berbicara lirih seraya tersenyum.


Aka yang tadinya datar saja langsung menoleh, menatap dengan aura berbeda.


"Kamu udah bersih? Kok nggak bilang?" tanyanya sedikit antusias plus waspada.


"Ya ini aku bilang," jawab Shali sedikit kesal.


"We ... beneran?" Pria itu tersenyum, wajahnya bersinar cerah.


"Kok jauhan, ngeprank aku ya? Dosa loh Dek," tuduh Aka menatap lekat matanya.


"Pak Ustadz, mood aku tuh lagi baik banget, tetapi kalau nggak mau ya udah, bagus lah aku bisa tidur nyenyak malam ini tanpa gangguan."


Shali bergegas menuju ranjang, merebahkan tubuhnya dan menyelimuti tubuhnya hingga penuh.


"Dek, beneran? Jangan ngambek dong, mana ada aku tak minat," bisiknya sembari menyingkap selimut yang menutupi penuh tubuh istrinya.


"Udah nggak mood Mas, capek mau tidur, tadi itu cuma ngeprank dan modus. Udah sana tidur!" omel Shali ketus.


"Astaghfirullah ... aku cuma yakinin sayang, maaf nggak ada maksud nolak kamu kok jadi gini sih!" Aka bingung sendiri.


"Dek?" rengek pria itu mulai merusuh. Tangannya sibuk bergerilya mencari sensasi yang berbeda dari objek di dekatnya. Atau sinyal-sinyal harapan kemesraan yang sengaja diciptakan untuk menimbulkan gelenyar hasrat yang sudah hampir seminggu ini terpendam.


"Diem Mas, jangan nakal!" Shali menepis tangan Aka yang dengan percaya dirinya bergerak seduktif.


Pria itu tak gentar, sudah kepalang tahu istrinya siap sedia, pasti akan mencetak gol-gol harapan pemersatu bangsa, tak peduli pekikan mulut mungilnya mengabaikan, maju terus dan membuat gadisnya menyerah dengan bendera kepasrahan.

__ADS_1


"Dek, ayo dong, aku minta maaf, nanti dosa loh kalau aku sampai habis sabar."


"Dosanya Mas yang borong, 'kan tadi udah nawarin, walaupun nggak lekas respon malah terkesan nggak minat, udah jangan ganggu nggak ada siaran ulang!" Shali benar-benar ngambek, perempuan itu bergeming kala Aka setengah merengek meminta maaf.


Akhirnya keduanya sama-sama terdiam, bahkan Shali memunggungi Aka yang sedari tadi berusaha merapatkan diri. Menepis kasar tangan Aka yang menyentuh kulitnya lembut penuh damba.


"Sayang, aku buka selimutnya ya?" ujar pria itu seraya mengelus bagian kepalanya.


Lama-lama Shali merasa kasihan juga, perempuan itu memejamkan matanya saat sentuhan lembut Aka mulai menjalar diarea lehernya.


"Dek, boleh ya?" tanpa menunggu persetujuannya, Aka mencumbu mesra istrinya.


Dengan gerakan lembut, pria itu sibuk mengukir hasrat, membuat tanda merah yang membuat Shali tak tahan untuk tetap mengabaikannya.


"Sayang, hadap sini dong, sambut aku dengan niat ibadah bersama yang baik," ucap Aka membimbing istrinya.


Shali menurut walaupun masih sedikit bermuram durja.


"Jangan Mas!" sergahnya manja. Rengekan halusnya menandakan ngambeknya telah mengikis.


Pria itu mengecup keningnya, membaca doa kebaikan untuk keduanya lalu barulah mempertemukan bibir mereka. Mengunci lembut, membungkamnya dengan gulatan manja.


Manis, sesuatu yang lembut itu saling membelit rasa, bertukar saliva dan mencecap manja. Memberikan sensasi terbakar dan menggelora jiwa.


Sejoli itu saling memberi jarak, memberi kesempatan untuk istrinya mengambil napas beberapa detik, sebelum akhirnya kembali menyatukan yang kedua kalinya. Dengan serangan sedikit lebih pasa, dalam dan sesat.


Puas bermain-main dengan lingualnya, kini indera perasaan itu berpetualang menyusuri bagian sensitif lainya, seakan tak ingin absen sedikitpun, pria itu meninggalkan jejak gemas di mana-mana hingga menimbulkan bercak berkerlipan indah yang terlukis samar di kulitnya yang putih.

__ADS_1


"Mas, jangan banyak-banyak, ya ampun ... kamu seperti manusia penghisap darah saja Mas," seloroh Shali di tengah rasa yang entah.


"Hmm, nggak pa-pa sayang, efek seminggu nggak berkunjung, banyak gemesnya," jawab Aka dengan suara berat penuh gairah.


Seakan tak membiarkan perempuannya banyak bicara, Aka kembali menyatukan napas mereka lebih seduktif. Tangannya nakal memainkan inti tubuhnya, membuat istrinya terpekik manja penuh gelora, hingga merasa dirinya begitu siap dengan permainan mereka.


Malam itu, keduanya kembali merengguk indahnya madu pernikahan. Sama-sama berpetualang menyusuri sungai kenikmatan yang bermuara indah penuh gelora. Hingga keduanya begitu merasa tenang, damai, dan bahagia.


"Makasih sayang, rasanya aku ingin mengulanginya lagi," bisik Aka tepat di belakang telinganya. Keduanya baru saja beribadah panjang.


"Kamu nggak capek?" tanya Shali di tengah rasa kantuk dan lelah luar biasa.


"Masih kuat kok, Adek mau lagi nggak?"


"Mas, besok aja sambung lagi, kita istirahat dulu."


"Kamu cukup diam aja ya sayang, biar aku yang bekerja dan kamu cukup menikmatinya."


"Mas!"


"Hmm, ya, udah nggak tahan?"


"Ngantuk, jangan nakal."


"Sekali lagi boleh?"


Aka masih betah bersenang-senang dengan istrinya, sementara Shali sendiri benar-benar merasa tertantang untuk membuatnya mencapai apa yang diinginkan.

__ADS_1


"Dek, sekarang kamu makin pinter buat aku melayang, apa ya nggak tambah buat aku nagih."


"Biar kamu seneng Mas, ya wes lah datangi aku sesuka hatimu, sepuas kamu dan semerdeka kamu."


__ADS_2