
Akan menatap bayi mungil dalam dekapannya dengan penuh rasa syukur. Pria itu mengumandangkan adzan dengan khusuk. Beribu syukur tak henti ia ucapkan dalam hati, hari ini mereka diberi amanah menjadi seorang ummi dan abi. Shali sendiri masih dalam pemeriksaan setelah perjuangan hidup dan mati.
Setelah beberapa jam berlalu. Keduanya sudah dipindah ke kamar rawat dan boleh dikunjungi keluarganya. Perempuan yang beberapa jam lalu menjerit kesakitan itu menyunggingkan senyum bahagia serta lega telah melewati prosesnya.
Rasa sakit, khawatir, dan semua rasa yang begitu membuatnya takut berganti dengan rasa syukur bahagia. Bahkan rada sakit itu lenyap seketika begitu mendengar tangisan bayi mungil yang dititipkan padanya begitu comel dan sehat. Tentu pasangan halal itu sangat bahagia.
"Alhamdulillah, seneng banget, sayang ini Oma, selamat datang di dunia Baru semoga jadi anak sholehah, senantiasa menjadi cahaya keberkahan dalam diri keluarga. Aamiin."
Mommy Disya langsung menyapa putrinya, memeluk dengan sayang dan membuai si mungil dengan bangga.
"Ya Allah, Mas, lihat deh comel banget." Daddy Sky mendekat, ikut gemas melihat cucu mereka.
"Iya, versi Shali kecil," jawabnya sembari mengamati dengan sayang.
"Lucu banget sih, aku bawa pulang boleh nggak, Ka, kamu bikin lagi," selorohnya. Membuat orang disekitar tertawa dengan banyolan perempuan yang masih terlihat cantik di usia empat puluh lewat.
Aka dan Shali saling melirik, terus ikut tersenyum mendengarnya. Ternyata Mommy Disya pandai melawak juga.
Semua orang yang datang membesuk mendoakan dengan penuh bahagia. Kehadiran bayi mungil itu tentu menjadi sempurnanya keluarga kecil Aka dan Shali. Menjadi bahagia sendiri untuk kedua keluarga besar mereka. Cucu pertama dari nenek kakek keduanya. Sehingga sudah pasti kehadiran bayi itu begitu dinanti dan disayang.
Sementara Aka tengah menyuapi istrinya dengan telaten. Pria itu terus mendampingi istrinya tanpa mengeluh sedikit pun. Bahkan tidak tidur semalaman karena ikut merasakan perjuangan istrinya. Seakan ikut merasakan rasa sakit yang tengah dialaminya.
"Udah Mas, kenyang," tolak Shali merasa penuh.
__ADS_1
"Dikit lagi biar tenaganya balik, ayo sayang, habisin," titahnya sedikit memaksa. Seharian tidak terisi makanan sama sekali. Hanya sesekali minum saat kontraksi.
Shali menurut, jika suatu kebaikan untuk dirinya tentu pria itu tidak akan menyerah.
"Alhamdulillah ... akhirnya habis juga, gini kan aku seneng. Kamu cepet pulih kalau maemnya pinter."
"Sekarang minum obatnya," titah pria itu meladeni dengan tlaten.
"Duh ... males banget minum obat," keluh Shali merasa enggan.
"Nggak pa-pa, ini pil yang besar kalau susah dibagi dua. Yang penting masuk biar cepet pulih."
"Sayang, udah makannya, sepertinya dedeknya udah haus, mulai pinter cari putingnya." Mommy Disya mendekati ranjang.
"Iya udah Mom, sini aku kasih ASI dulu," ujar perempuan itu sembari memposisikan tubuhnya yang lebih pas.
Terlihat Aka terus berada di sekitar ranjang. Tak berpindah sejengkal pun dari sana. Bahagianya sampai tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Shali meringis, menggigit bibir bawahnya merasakan putingnya panas. Sesuatu yang masih terasa kasar itu terus menghisap dengan kuat. Rupanya bayi mungil bernama Tsabina qaireen itu sangat pintar mencari sumber kehidupan untuk dirinya.
"Kenapa, geli ya?" tanya Aka ikut merasa aneh melihat ekspresi istrinya.
"Sakit Mas, putingku perih," keluh perempuan itu mendesis pelan.
__ADS_1
Aka hanya bisa menatap dengan harus, betapa besar perjuangan seorang ibu.
"Sakit banget, sampai segitunya."
"Iya Mas, sakit ya geli, ini gimana ceritanya?"
"Aku kurang paham, mungkin karena lidah bayi papilanya masih baru jadi perlu adaptasi dulu. Kamu yang sabar ya, coba nanti kita konsultasikan dengan dokter, barang kali punya solusi."
Aka mengikis jarak, duduk dari pinggir ranjang sebelah atas setelah saling berhadapan kini pria itu ikut menempel tepat di samping pundak istrinya. Menatap dengan haru bayi mungil yang tengah asyik menyusu. Sesekali pria itu mencium istrinya tanpa permisi. Rasanya bahagia itu tak akan terganti.
"Makasih sayang, kamu hebat, perempuan luar biasa. Aku bahagia banget hari ini."
"Kamu juga suami yang keren, om ustadz yang manis. Hehe."
Keduanya melempar candaan sembari membuai putri mereka.
"Mas, udah bobok, tolong dong pindahin ke box, aku susah turunnya. Ngilu Mas, kalau banyak gerak."
"Sakit banget ya?" Aka mengambil alih Tsabi lalu menidurkan dalam book di samping ranjang pasien agak berjarak.
"Banget, mana pengen ke kamar mandi lagi. Duh ... kok aku takut ya?" keluh perempuan itu galau sendiri.
"Ayo Mas bantu, bisa jalan nggak?"
__ADS_1
"Bisa Mas, bisa kok, aman. Cuma aku takut buat pipis, hehe."
"Aku tahu banget pasti sakit, yang sabar ya, kata dokter kalau adek lagi mimik itu bisa cepat memulihkan organ inti kamu. Jadi kegiatan adik bayi yang meminum susu langsung dari sumbernya itu mempercepat proses pemulihan ibunya. Insya Allah cepet sembuh juga, apalagi rajin minum obatnya."