Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 95


__ADS_3

Tepat pukul setengah tiga dini hari, Ustadz Aka yang sudah terjaga lima menit lebih dulu, menepuk pelan pipi istrinya. Menempelkan bibir itu pada kening dan bibirnya sedikit rusuh. Shali yang masih terlelap pun langsung terusik.


"Sayang, ayo bangun! Katanya mau jamaah malam," ujar pria itu membelai lembut mahkota istrinya.


"Jam berapa Mas?" tanyanya memicing. Shali merasa baru saja terlelap, tubuhnya begitu lelah, bahkan rasa ngilu itu begitu terasa di bawah sana.


"Hampir pukul tiga, sayang ayo mandi!" titahnya lembut.


"Iya Mas sebentar, Mas duluan aja, aku nyusul," jawabnya sayu sembari mengumpulkan kesadarannya.


"Ya sudah, aku duluan ya? Kamu jangan merem lagi, nanti aku tinggal ke masjid." Aka bangkit dari pembaringan setelah meninggalkan jejak sayang di pipi kiri istrinya.


"Hmm," jawab Shali bergumam.


Nyatanya saat Aka selesai membersihkan diri, Shali kembali tertidur. Merasa kasihan, apalagi semalam ia benar-benar membuatnya kelelahan, akhirnya pria itu membiarkan saja istrinya terlelap. Ia menunaikan dua rakaat khusuk sendirian. Setelah bermunajat doa panjang, pria itu kembali mendekati ranjang dengan laptop di tangannya.


Aka tengah merampungkan bahan perkuliahan yang akan dikirim sebagai tugas selama dirinya tidak hadir di kelas. Pria itu terlihat sibuk hingga menjelang subuh, menutup laptopnya dan menaruh di atas nakas.


Menilik istrinya yang masih terlelap damai, ia tersenyum, dengan yakin pria itu mengangkat tubuh istrinya dari pembaringan lantas membawanya ke kamar mandi.


"Mas, kok udah di sini?" tanya Shali begitu terjaga mendapati dirinya sudah di tempat yang berbeda.


"Mandi sayang, sudah hampir subuh, kamu mau mandi sendiri apa dimandiin?" selorohnya seraya mengatur suhu air panas.


"Kamu keluar Mas, aku mau mandi sendiri," ujarnya yakin.

__ADS_1


"Aku mau ke masjid dulu ya, jangan lama-lama nanti nyusul," pesannya sebelum beranjak.


"Hmm," jawab Shali seraya mendorong pelan dada Aka agar cepat meninggalkan kamar mandi.


Sebenarnya Shali berencana untuk sholat di rumah aja, namun pesan Ummi Salma yang mewanti-wanti mengontrol Nashwa membuat perempuan itu seperti mempunyai tugas baru yang diamanahkan padanya.


"Astaghfirullahalazim ... bisa telat ke masjid nih," gumamnya seraya bersiap mengguyur tumbuhnya.


Usai membersihkan diri, Shali bergegas keluar kamar. Menyambangi kamar sebrang yang ditempati Nashwa. Cukup lama perempuan itu mengetuk pintu, bahkan ia menerobosnya masuk ke dalam setelah mengucap permisi. Rupanya Nana sudah tidak ada di tempat tidurnya.


"Udah bangun tuh anak, bisa juga bangun pagi," gumam Shali seraya melangkahkan kakinya keluar.


Shali melangkah cepat menuju rumah utama, melewati mushola yang ternyata kosong, usut punya usut baik Ummi maupun Nana sudah lebih dulu ke masjid, ternyata Ummi yang membangunkan bocah itu ke kamarnya, Shali menjadi sedikit tidak enak lantaran ia telat.


"Assalamu'alaikum Ummi, maaf Shali telat," bisik Shali menemui Ummi Salma di barisan jamaah. Ummi mengangguk seraya tersenyum.


Usai pengajian rutin, Shali langsung kembali ke rumah utama. Di belakangnya nampak Nashwa dan Ummi jalan bersama menuju rumah utama.


"Ummi temani Nana hari ini saja ya, besok Nana harus sendiri, dan sudah berada di barisan dengan tertib sebelum adzan usai," pesan Ummi Salma. Mereka masih di halaman masjid.


"Assalamu'alaikum Bu Nyai," sapa para santri sopan menyalami Ummi Salma secara bergiliran. Mereka baru saja turun dari masjid.


Beliau membalas salam dan menyambut hangat anak-anak yang belajar di pondoknya.


"Ummi, Nana ke kamar dulu ya, mau mandi sama siap-siap sekolah," pamit gadis itu tidak banyak tingkah. Bersama Ummi Salma yang begitu lembut, selalu mengingatkan bundanya di rumah, selalu menasihatinya dengan sabar dirinya yang kadang memang masih suka membangkang aturan yang sudah dibuat.

__ADS_1


"Jadi kangen Bunda, mana nggak boleh pulang lagi, telepon saja lah nanti," gumamnya penuh solusi.


Semua keluarga sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan. Sebagai penghuni baru di pesantren yang tinggal di (ndalem) rumah utama, Ummi juga menyuruh Nashwa ikut bergabung di sana. Namun, nampaknya gadis itu tidak hadir di acara sarapan paginya, ia lebih memilih sarapan bersama teman-teman yang lainnya, Alma dan Reya.


Suasana di rumah yang hangat, di mana Shali tengah menyeduh kopi untuk suaminya. Mereka mengerjakan sendiri, kata Ummi yang suami biar dibuatkan istrinya saja biar pahalanya dapat, pesan beliau di awal-awal datang.


Shali menaruh cangkir dengan kepulan asap yang masih kentara panas di hadapan suaminya.


"Makasih sayang," ucapnya tersenyum.


Mereka sudah berkumpul di meja makan, perempuan itu nampak telaten mengisi piring suaminya, pemandangan yang sudah biasa di meja makan, namun kali ini Aka juga melakukan hal yang sama, sempat membuat Shali bingung, namun ia tersenyum sembari menaruh di hadapan istrinya.


"Makan yang banyak Dek, biar nggak lemes ditinggal pergi," selorohnya tersenyum.


Shali menatapnya dengan gemas, andai saja tidak ada banyak pasang mata yang melihatnya sudah pasti ia akan membalas dengan cubitan manja.


"Kamu jadi berangkat, Ka?" tanya Ummi di sela sarapan.


"Jadi Ummi, Abah, nanti siang berangkat dari kampus bareng sama anak-anak," jawabnya sembari sesekali mengunyah.


"Cie ... yang mau LDR, irit bicara dan pelit senyum," gurau Zayyan tepat sasaran.


"Lagi mode silent, Za, jangan di cie ciein, kamu dalam masalah," tegur Aka takut membuat perasaan istrinya tak nyaman. Sedari semalam ia sudah merasa berat meninggalkan istrinya karena Shali terus mrengut di lain kesempatan.


Usai sarapan Aka langsung pamit, lengkap dengan menitip istrinya pada Ummi dan Abah. Pasangan sejoli itu berangkat ke kampus dengan kendaraan yang sama.

__ADS_1


Sementara Azmi seperti biasa, masih setia menggunakan motornya. Ia keluar melewati pintu belakang, gerbang belakang kamarnya. Baru saja pria itu keluar dari gerbang, ia dikagetkan dengan perempuan yang tiba-tiba menghadangnya.


"Bagus! Nebeng!"


__ADS_2