
Aka mengamati istrinya yang nampak masih belum memperhatikan dosennya. Pria itu pun masih sibuk menerangkan materi, menepi mendekati meja dosen lalu menuliskan sesuatu di kertas kecil. Pria itu kembali menerangkan materi tanpa terganggu audiens di depannya. Melangkah mendekati meja Shali lalu menaruh kertas itu begitu saja.
[Kamu tidak memperhatikan aku, sayang. Kerjakan essay tentang materi kali ini dikumpulkan besok]
Shali membaca deretan huruf bernada perintah untuk dirinya. Seketika ia mrengut, namun tidak berani protes detik itu juga mengingat sedang ada di forum. Ia berencana menunjuk rasa berat hatinya nanti setelah kelas usai.
Benar saja setelah Pak Aka mengakhiri pertemuan hari ini, tak lama Shali mengunjungi ruangannya.
"Kenapa Shal, apaan?" Izza, Nurma, dan Molly langsung kepo menyerbu bangku perempuan itu.
"Gara-gara kalian nih, lo pada yang mancing gue berisik, kenapa cuma gue yang kena, kesel. Aku ke ruangan suami gue dulu ya?" pamitnya seraya menggerutu.
"Oke boo, good luck semoga tidak ada drama di antara kita, eh, antara lo dan suami lo. Kasihan amad bumil!"
Shali meninggalkan teman-temannya yang sengaja menunggu dirinya. Gadis itu melangkah gontai menyambangi ruangan Pak Aka, alias suaminya sendiri.
"Siang Bu Aka!" sapa seseorang yang melintas bersilang jalan.
__ADS_1
"Pagi, Pak! Shali, Pak, Shali!" ralat perempuan itu sedikit tak setuju dengan sapaan baru untuk dirinya.
"Iya Ning Shali, maaf, saya kebawa-bawa aura di masyarakat," jawab Pak Rudi staf admin kampus. Kebetulan mereka tinggal di kampung yang sama.
"Sejak kapan aku di kampus jadi Bu Aka, okelah kalau di jalan lumayan keren, nebeng nama suaminya, tapi di kampus? Bu? Hello ... ya ampun ... gue berasa tua!" gumam Shali menggerutu tidak jelas. Walaupun statusnya memang tidak salah, namun perempuan itu masih kurang nyaman dipanggil dengan sebutan Bu dan kawan-kawannya.
Perempuan itu terus berjalan menuju lift, kebetulan lift diisi satu orang dan orang tersebut adalah Morgan. Shali yang hendak masuk, mengurungkan niatnya dan membiarkan pintu lift tertutup kembali.
Sungguh hari yang kurang bersahabat baginya. Dirinya masih kurang nyaman jika bertemu dengan pria itu, apalagi sendirian. Shali pun menanti saja dengan sabar, lewat tangga sungguh bukan solusi, hamil tua membuat perempuan itu mudah capek. Menunggu saja dengan sabar. Saat lift terbuka, masih ada lagi orang yang sama, entah tujuannya lantai berapa, namun Shali merasa terusik.
"Masuk aja Sha, aku juga mau ke ruangan Pak Aka, kamu ke sana 'kan?" celetuk Morgan bersuara.
Sumpah demi apapun, Shali takut, namun ia berusaha tenang. Bayangan Morgan pernah ingin melecehkannya kembali terngiang bak kaset rusak yang berputar di otaknya.
"Aku minta maaf, Sha, tolong jangan takut, aku tidak akan berbuat jahat padamu," ucap Morgan tiba-tiba.
Shali bergeming, tidak menanggapi sedikitpun pernyataan Morgan. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Hingga tiba di lantai yang sama, Morgan dan Shali sama-sama keluar dari lift secara beriringan.
__ADS_1
Shali yang awalnya langsung ingin beranjak, mengerem langkahnya setelah mendengarkan pernyataan minta maaf dari pria itu.
"Sha, aku tahu aku banyak salah sama kamu. Setidaknya izinkan aku menyampaikan perpisahan ini sebelum benar-benar pergi. Aku bersungguh-sungguh minta maaf, aku ingin memperbaiki diri. Terima kasih ya, sudah pernah hadir di dalam hatiku, walaupun tidak pernah kamu balas. Rasa sakit aku telah pergi. Orang baik selalu akan mendapatkan tempat dan pasangan yang baik. Aku ingin berubah, agar kelak bisa mendapatkan jodoh orang baik seperti dirimu. Maafkan aku, Sha!" ucapnya dengan sungguh-sungguh."
"Alhamdulillah kalau kamu sudah menyadarinya, semoga apa yang menjadi keinginan hatimu dapat terwujud."
"Aamiin, kamu kalau mau ke ruang Pak Aka duluan aja, aku bisa setelahnya."
"Aku ada keperluan sedikit dengan suamimu, masalah akademi," jawabnya lalu.
"Owh, gitu, ya sudah aku duluan ya, aku cuma sebentar kok, kamu bisa masuk setelah aku keluar," ujarnya mengobrol normal layaknya mahasiswa lainnya.
Shali sedikit lega mendengar pernyataan pria yang pernah berniat mencelakai dirinya. Bahkan beberapa kali membuat dirinya dalam keadaan ketakutan karena teror yang dibuat olehnya.
"Sha, makasih ya, udah maafin aku, tolong jangan membenciku, nanti bisa jadi anak kamu mirip sama aku. Hehehe," selorohnya tanpa dosa.
"Eh, astaghfirullah ... kamu ngomong apa sih, semoga nggak ya, anak aku harus mirip aku atau abinya," jawab Shali dengan percaya diri. Melenggang masuk ke ruangan suaminya setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
__ADS_1
"Mas!" sapanya dengan nada kesal.