Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Par 124


__ADS_3

"Mas!" sapanya dengan nada kesal.


Akan yang terlihat sibuk di depan komputer mendongak, menemukan istrinya menyambangi ruangannya dengan muka manyun.


"Iya sayang, kenapa?" tanya Aka kembali fokus dengan layar monitor.


"Mas kok tega banget sih, ngasih aku tugas mulu. Tadi tuh cuma bisik-bisik sedikit, itu pun bukan hanya aku seorang, kenapa jadi cuma aku yang dihukum!" protes Shali menggerutu.


Calon ibu itu mendekati suaminya, bergerak manjah dengan bergelayut di pundak suaminya. Dengan percaya diri duduk di atas pangkuan suaminya yang tengah sibuk-sibuknya. Merusuh hingga membuat Aka harus menekan banyak sabar menghadapinya.


"Kamu maunya gimana, Dek? Umma sayang, itu bukan hukuman tetapi ganti karena kamu nggak nyimak. Dilarang ptotes!" ujar pria itu lembut.


"Capek ah ... nggak mau, aku mau cuti," curhat perempuan itu sembari memainkan dagu Aka.


"Sayang, jangan gini aku lagi kerja. Kalau udah nggak ada kelas, pulang saja istirahat di rumah biar nyaman. Nanti Mas bantuin tugasnya," bujuk pria itu.


"Tapi aku maunya gini, gimana dong. Mau nungguin Abi selesai ngajar, males pulang di rumah sendirian. Nanti pulangnya jalan-jalan ya? Aku butuh healing."


"Adek, maunya ke mana? Lihat nanti ta sayang, Mas ada bimbingan nanti sore. Kamu main di pondok aja, sore 'kan banyak kegiatan ekstra, kalau nggak ikut kelas juga bisa, biar sambil belajar."


"Kamu pulang jam berapa? Aku tuh pengen jalan," ujarnya masih sedikit ngeyel


"Mungkin sore, ya udah nanti kita jalan ya? Sekarang duduknya pindah dulu, duduk yang nyaman di sofa, atau tidur di ruang privat saja. Nanti aku ke atas," ujar pria itu bertitah.


"Mau di sini aja, sekalian belanja. Hehehe."


"Mau beli apa? Nanti sekalian jalan juga bisa."

__ADS_1


"Beneran ya, awas kalau bohong!" ancamnya seraya berpindah tempat. Namun, tangannya tak lupa menarik tangan suaminya agar mendekat. Berganti posisi di sofa.


"Mas, ini kenapa perut aku sedikit tidak nyaman ya?" keluh Shali mendapati perutnya sedikit berkontraksi.


"Apanya yang sakit Dek, kamu lapar mungkin? Ibu hamil kan biasanya gitu."


"Nggak kok udah makan. Mas, aku tiduran di ruang privat aja deh, aku pengen rebahan. Sumpah nggak nyaman banget."


"Ya udah ayo Mas antar, muka kamu kenapa gitu, sakit banget ya, atau jangan-jangan kontraksi mau melahirkan, ini kan sudah masuk bulannya."


"Masih kurang dua minggu lebih dari HPL, apa iya adeknya mau keluar?" Shali bertanya-tanya dalam hati.


"Ya udah kita ke dokter aja biar lebih jelas."


"Udah enakan kok Mas, mungkin seperti yang sudah-sudah kontraksi palsu."


"Iya Mas, udah nggak sakit kok," jawabnya santai.


Shali kembali berjalan setelah keluar dari lift. Masuk ke ruang privat suaminya untuk istirahat. Sementara Aka berkumpul dengan sejumlah mahasiswa anak bimbingnya. Pria itu tengah bimbingan di ruang fakultas secara berjamaah. Memberikan trik-trik dan catatan pembimbingan secara khusus sambil berdiskusi antar sesama mahasiswa. Antara satu mahasiswa dengan mahasiswa lainnya saling tukar pikiran dan memberikan masukan. Cara pembimbingan seperti ini setidaknya dapat mengurangi beban mahasiswa dalam menyelesaikan tugas mereka.


“Pak, ponselnya bunyi!" ucap salah satu mahasiswa yang ada di sana.


"Iya, istri saya telepon. Oke, sampai di sini dulu ya, pertemuan sore ini. Selamat berjuang dan semangat," ujar pria itu menutup sesi bimbingan sore itu.


Setelah satu persatu mahasiswa didiknya keluar, pria itu langsung menjawab panggilan dari istrinya.


"Mas, kamu udah belum, perut aku makin sakit," keluh Shali yang membuat pria itu langsung bergegas menemuinya.

__ADS_1


"Astaghfirullah, oke sayang, aku ke situ," ujarnya bergegas menutup teleponnya.


Aka yang panik langsung menuju ruang privat miliknya. Shali tengah berjalan mondar mandir merasa tak nyaman.


"Assalamu'alaikum, sayang, ayo kita turun! Kita ke rumah sakit."


"Masih kadang ilang, kadang muncul, ini gimana Mas? Aku takut," ujar perempuan itu menjadi waswas.


"Sayang,dengerin Mas, semua wanita tangguh melewati ini, kamu akan baik-baik saja. Aku akan menemanimu, ayo kita periksa ke dokter saja, biar lebih jelas."


Aka membimbing istrinya berjalan pelan. Lagaknya Shali memang benar-benar akan melahirkan. Perempuan itu mengalami tanda-tandanya walaupun masih kurang yakin. Mengingat beberapa kali terjadi kontraksi palsu.


"Sayang, masih sakit?"


"Lagi nggak, tapi suka tiba-tiba sakit, kayaknya bener deh aku mau lahiran," jawab Shali sembari browsing di laman pencarian.


"Kamu yang tenang, ya, semua akan baik-baik saja," ucapnya sembari mengecup kening istrinya dengan sayang.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Sampai di rumah sakit hampir maghrib. Keduanya menyempatkan diri untuk berjamaah sebentar di mushola rumah sakit sebelum melakukan pemeriksaan.


"Masih bisa, 'kan?"


"Iya Mas, walau sedikit kurang nyaman. Ini malah lebih nyeri dari yang tadi."


"Oke, aku sudah hubungi dokternya langsung, kita langsung ke ruangannya sayang," ujar Aka bergegas.


Benar saja, setelah diperiksa Shali mengalami kontraksi dan masih pembukaan tiga.

__ADS_1


__ADS_2