Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 107


__ADS_3

Setelah acara jamuan selesai, nampak suasana ruangan semakin lengang. Satu persatu meninggalkan ruangan termasuk Shali dan Aka. Perempuan itu sendiri membantu Ummi Salma beserta santri putri lainnya ikut membantu membersihkan ruangan. Hingga menjelang sore, Shali nampak sibuk sedang Aka juga sama, langsung mengajar sesuai jadwal di pesantren.


Shali tengah duduk santai di atas ranjang ketika suaminya masuk menyerukan salam. Perempuan itu tengah memainkan ponselnya berbalas pesan dengan Izza dan teman-temannya di grub. Sedikit mengabaikan Aka yang sedari tadi sudah mendekat.


"Asyik banget sih Dek, sampai aku dicuekin gini," tegur Aka langsung. Shali langsung menghentikan ibu jarinya yang tengah sibuk menari di atas keyboard. Memindai tatapan itu pada suaminya.


"Bentar Mas, aku lagi bahas tugas kelompok dari Bu Emi. Sepertinya besok aku bakalan wawancara deh."


"Belum selesai? Kemarin ngapain saja dua minggu ini?" Aka menyorot tak percaya.


"Nggak ada yang mau maju buat wawancara, ya udah aku mungkin," jawabnya santai.


"Kenapa nggak dari kemarin, namanya juga tugas kelompok ya dirembug sama-sama."


"Iya Mas, kita susah ketemunya. Giliran ada waktu kadang mepet, lagian ini tugas terakhir di semester ini juga."

__ADS_1


"Kamu kenapa sih, sensian banget, sini deh sini." Shali menyimpan ponselnya dan merentangkan kedua tangannya. Membawa suaminya ke dalam pelukannya.


"Dek, aku lagi pikiran tawaran rumah daddy, kebetulan beliau telepon tadi. Menurut kamu gimana?"


"Aku ngikut keputusan kamu saja Mas, tetapi kalau boleh usul aku ingin mandiri. Lagian Mas masih bisa tetep ngajar di pesantren juga sesuai jadwalnya. Jadi ... gimana kalau kita coba."


"Apa nggak terlalu berlebihan ya, ya secara kan rumah itu gede dan mewah gitu Dek, cuma kita berdua yang nempatin."


"Kalau nggak nyaman nggak usah diambil Mas, udah nggak usah dibahas." Shali mendadak sedikit kesal dengan penuturan Aka kali ini. Seakan mengambil keputusan yang mentah.


"Sayang, kamu pingin banget mandiri ya, atau kamu nggak suka lihat Azmi sudah menikah lebih tepatnya?"


"Ya alhamdulillah dong kalau gitu, Mas minta maaf sayang, Mas cuma ngerasa beda aja kadang memergoki tingkah kalian yang masih terlalu dekat."


"Kamu sepertinya lelah Mas, istirahat saja, ini juga sudah malam," ujar Shali tak ingin membahas apapun lagi. Aka terlihat lebih sensitif dari biasanya, dan itu membuat Shali sedikit kesal namun tidak sampai marah juga.

__ADS_1


Mereka tidur bersama, membuai mimpi malam itu dengan saling memeluk memberi kehangatan. Seperti biasa, saat dini hari tiba, Aka selalu menyempatkan diri bangun dan beribadah. Kali ini juga membangunkan istrinya. Shali juga sudah mulai terbiasa dengan kegiatan paginya, walaupun masih banyak bolong-bolongnya ia mulai bisa memgimbangi kegiatan rutin suaminya.


Usai menyelesaikan dua rakaat tahajud, Shali melanjutkan dengan belajar pagi, atau mereview tugas yang belum dikumpulkan. Kegiatan itu mulai rutin ia kerjakan, karena pagi hari dianggap paling ampuh untuk berpikir, masih fresh dan banyak ide yang mampir pada otaknya.


Mereka berdua terlihat sibuk satu sama lain. Aka juga paling senang merusuh di pagi hari, namun sepertinya pagi ini absen karena sedikit lelah. Pria itu juga nampak sibuk di depan layar laptopnya sambil menunggu adzan subuh.


Mereka baru sama-sama menutup laptopnya setelah subuh berkumandang. Shali dan Aka bersiap jamaah ke masjid. Shali sendiri mengikuti suaminya pagi ini. Setelah subuh seperti biasa ada kajian singkat yang wajib diikuti semua jamaah santri. Shali mengikuti dengan khusuk hingga selesai. Barulah ia kembali ke kamar untuk persiapan ***.


Shali dan Aka sudah berada di kamarnya dan baru usai mandi. Shali sendiri selesai lebih awal dan tengah menata hijabnya di depan cermin. Sementara Aka masih sibuk di ruang ganti, entahlah apa yang dilakukan suaminya, pakaiannya sudah Shali siapkan namun terasa lama.


"Dek, ini apa?" tanya Aka menatapnya tajam dengan nada tak ramah sama sekali.


Shali langsung menghadap suaminya dan menyorot Aka dengan rasa takut.


"Kenapa diam!" bentaknya sembari menyorotnya dingin dan tajam.

__ADS_1


Shali yang kaget melihat kemurkaan suaminya di pagi hari, merasa tak percaya Aka bisa membentak dirinya begitu saja. Ia hanya bisa menahan tangis karena Aka sebelumnya tidak pernah meninggikan suaranya. Tetapi pagi ini, Aka terlihat begitu kecewa.


"Jelasin Dek!" bentak Aka membuang benda tersebut ke tempat sampah.


__ADS_2