
"Mau pulang, Mas!" tekan Shali tak minat.
"Oke, baiklah, beneran pulang ya, nanti sampai rumah udah nggak bisa keluar, pagar pesantren ditutup dan kesempatan hanya sekarang," ujar Aka gemas
Shali melirik malas, membuang muka ke arah jendela mobil dan mengabaikan suaminya. Aka hanya menggeleng kecil melihat tingkah istrinya yang masih belum terima kenyataan dan merajuk dengan apa yang terjadi.
"Jalannya pelan-pelan sayang, hati-hati!" tegur Aka meraih tangannya. Pria itu baru saja sampai di halaman pondok dan langsung disapa santri yang kebetulan melintas.
"Sore, Gus, assalamu'alaikum ...." sapa santri putra menyapa.
"Waalaikumsalam, monggo, saya duluan ya," ujarnya sopan. Semua mengangguk hormat.
"Mas, cepet dong!" rengek Shali kesal menarik suaminya.
"Dek, bentar, kalau ada yang nyapa tuh dibalas dulu, udah mau sampai rumah jangan ditekuk gitu mukanya, nggak enak dilihat!"
"Biarin, gara-gara kamu bikin aku hamil," jawab Shali mrengut.
"Astaghfirullah ... nggak boleh gitu, sepatutnya kita bersyukur atas apa yang Allah kehendaki," tegur Aka lembut.
Keduanya memasuki rumah secara bersamaan dengan salam mengiringi. Terlihat ruang tamu nampak ramai, ternyata memang sedang ada tamu.
"Mommy? Kok datang nggak bilang-bilang?" sapa Shali antusias. Cemberut di wajahnya langsung hilang begitu mendapati kedua orang tuanya dan Reagan ada di sana.
"Baru pulang, sayang, Mommy sama Daddy udah dari tadi di sini, iya kan Dadd?" Mom Disya menyambut dengan senyum kalem mendapati putrinya yang langsung berhambur memeluknya.
__ADS_1
Aka sendiri menyalim takzim kedua mertuanya dan semua anggota keluarga. Binar bahagia nampak jelas terlihat pada wajahnya.
Kedatangan orang tua Shali memang disengaja dan diagendakan khusus untuk membahas peresmian pernikahan putra putrinya yang sempat tertunda. Mereka sepakat akan mengadakan syukuran besar, dan untuk tempatnya masih tarik ulur mengingat itu acara besar kedua keluarga.
"Kami ngikutin keputusan Ummi, Abah, dan juga Mommy dan Daddy saja, baiknya mau di mana aja, kami siap," jawab Aka ketika langsung ditodong rembug.
Karena waktu menjelang maghrib, semua anggota keluarga menyudahi dulu dan nanti akan dilanjutkan diskusi setelah sholat. Shali pun pamit ke kamar dulu untuk bersih-bersih dan bersiap menunaikan tiga rakaat jamaah bersama keluarga.
"Dek, nanti kita sekalian kabari mereka tentang kehamilan kamu ya, pasti mereka bahagia banget," ujar Aka semangat empat lima.
"Jangan dulu, ini masih terlalu kecil, tunggu saja nanti," jawab Shali tak setuju. Aka pun akhirnya menurut.
"Ya udah deh, nggak pa-pa, cepetan mandi dulu, atau bareng aja biar cepet."
"Siapa takut," jawab Shali langsung mengiyakan.
"Masih kesel sama kamu, tapi seneng ada mommy di sini, kebetulan aku sedang rindu," jawabnya sembari sibuk di kamar mandi.
Pasangan halal itu mandi bersama, saling menyampo, saking menggosok punggung, dan saling melempar canda. Hingga suasana menjadi terlihat begitu akrab.
"Dek, cepetan bilas duluan, keburu telat jamaah."
"Iya, Mas," jawabnya santai. Seandainya tidak waktu mepet sudah bisa dipastikan mereka akan lama.
Usai mandi berdua mereka bersama-sama siap ke tempat ibadah. Shali juga mengikuti jamaah di masjid , setelahnya kembali lebih dulu menyambangi rumah utama yang sama halnya baru saja selesai sholat di mushola dalam.
__ADS_1
"Momm, Shali punya rahasia," bisik perempuan itu menghampiri mommynya yang tengah duduk bersahaja sehabis sholat.
"Momm, dulu mommy hamil usia berapa?"
"20 th lebih, tapi mommy sempat keguguran sih karena jatuh dari motor, terus hamil laginggak berselang lama, sebelum lulus kuliah waktu itu, skripsi sambil hamil."
"Mending ya Mom, Shali malah udah hamil, mana lulusnya masih lama, apa ya nggak bentrok, gimana ini Momm?" tanpa sadar Shali yang belum mau berbagi seputar kehamilanya, curhat dengan sendirinya pada orang tuanya.
"Kamu hamil? Alhamdulillah ... senengnya aku bakalan punya cucu."
"Shhttt ... mommy jangan keras-keras, ini masih terlalu kecil, kata dokter tiga minggu," ucapnya yang tanpa sengaja terdengar oleh sekitarnya karena pekikan Disya yang lumayan kencang.
"Anak Ummi hamil, alhamdulillah ...." ucap Ummi mengucap syukur.
Shali yang tadinya pengen merahasiakan dulu nyatanya malah semua orang tahu dan menyambutnya dengan binar bahagia bersama keluarga besarnya. Musyawarah malam itu dilanjut makan malam dengan suasana yang semakin bahagia mendengar kehamilan Shali.
"Momm, nginep aja, masih kangen," ucap Shali merasa alot melepas kepulangan keluarganya.
"Sayang, sehat-sehat ya, mommy pulang dulu." Mereka saling berhambur memeluk.
Keputusan musyawarah telah dibuat, kurang dari dua minggu resepsi pernikahan mereka sudah ditentukan di sebuah gedung yang mampu menampung banyak tamu. Aka dan Shali hanya mengikuti saja.
"Dek, udah siap 'kan hubungan kita publish. Kamu bahagia nggak?"
"Deg degan jangan-jangan nanti di kampus banyak haters," jawab Shali merasa tak aman.
__ADS_1
"Kayaknya nggak mungkin berani deh serang kamu, paling cuma nggak percaya aja, Pak Aka yang kalem dan serius gini, bisa punya istri yang barbar dan masih imut gini!" ujarnya gemas.
"Ish ... om ustadz!"