Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 117


__ADS_3

"Sayang, kamu ngapain di sini?" tanya Aka yang tiba-tiba muncul menghampiri.


"Eh, Mas, kamu bangun? Aku lapar Mas, aku mau buat ini," tunjuk Shali pada mie kemasan instan.


"Kok makanya gini sih, kamu 'kan lagi hamil? Ini tidak sehat," tegur Aka tak mengizinkan.


"Tapi aku lapar, Mas, lagian cuma makan kadang-kadang harusnya nggak pa-pa dong!" tegas Shali cuek.


"Nggak, nggak boleh, makan yang lain aja, emang nggak ada? Itu Azmi bawa kue juga bikin kenyang." Aka berjalan mendekati kulkas, lalu mengeluarkan cake dari sana.


"Ini sayang, masih ada, ini aja dari pada itu nggak sehat!"


Shali jelas mrengut, pria itu tidak mau mengerti keinginan dirinya saat ini.


"Aku nggak minat makan cake, Mas, kalau kamu suka makan aja sendiri!" kesal Shali mencebik kesal.


"Astaghfirullah sayang, kalau tidak mau ini nggak pa-pa tapi jangan mie instan juga, Dek, mau makan apa? Kita beli aja ya ke luar?" tawarnya yang seketika membuat perempuan itu menatap binar asa kembali.


"Ini udah larut gini, emang ada yang buka?"


"Cari makanan yang masih buka lah, biasanya ada."


"Duh ... dingin Mas, ya udah buatin aku nasgor aja, nggak mau tahu kamu yang bikin, pedesnya sedang, pakai sosis, telur, sama daging, ada hijaunya boleh deh," pesanya yang seketika membuat Aka nyerah sebelum bertempur ke meja dapur.

__ADS_1


"Aku pesenin aja ya sayang, nanti kalau aku yang buat nggak enak, Mas kan nggak bisa masak," ujar pria itu membujuk istrinya yang nampak kesal.


"Lama, Mas, keburu lapar, makan ini aja ya, sekali doang juga," ucap perempuan itu ngeyel sekali.


Aka yang tidak tega akhirnya mengangguk juga, malaha pria itu yang membuatkan untuk Shali dan ia hanya menerima jadi saja. Aka menambahkan telur dan sayuran hijau ke dalam mienya.


"Ini sayang, makan di kamar saja ya?" ujar Aka sembari membawaya beranjak. Mereka berjalan beriringan menuju kamarnya.


"Sayang, ngapain?" tanya Aka mendapi istrinya terdiam pas lewat di depan kamar Azmi.


"Nggak ada, Mas, hehe." Shali nyengir lalu berjalan cepat mendahului suaminya yang repot sendiri.


"Kamu ngapain tadi berduaan di dapur sama Azmi?" tanya Aka di sela-sela menemani istrinya makan.


"Azmi malam-malam lapar juga, kaya lagi hamil aja," celetuk Aka ngasal.


"Kamu suka bener Mas, tapi kali ini nggak mungkin, menghamili baru mungkin," jawab Shali lepas saja.


"Eh, Nana kan masih sekolah? Emang boleh, ya?" tanya Aka serius.


"Boleh apa, Mas? Kaya gitu mah nggak pa-pa lagi orang udah halal, tapi jangan sampai hamil."


"Iya juga sih, suka-suka mereka lah. Enak Dek? Nyicip dong," ujar Aka merasa lapar juga.

__ADS_1


"Jangan lah, buat sendiri sana!" Shali menjauhkan mangkuknya.


"Ini juga aku yang bikin kali Dek, mau dong, ak ... sayang!" Aka melebarkan mulutnya. Akhirnya mereka menghabiskan satu mangkuk mie itu secara bersama-sama.


Drama di malam hari itu pun berlalu, sepasang sejoli itu mulai sibuk mereka undangan siapa saja yang akan mereka undang dalam resepsinya. Alhamdulillah hari ini Kyai Emir juga sudah diperbolehkan pulang, walaupun meski harus bedrest paska pemulian, namun kabar kesembuhannya jelas membuat keluarga lega dan senang. Mengingat mereka akan mengadakan hajatan besar.


"Mas, aku boleh undang teman-teman aku, 'kan?" pinta Shali penuh harap.


"Boleh dong, kenapa nggak, 'kan emang tujuan kita mengabarkan berita gembira, jadi kamu boleh undang semua teman-teman dekat kamu, kerabat, dan yang kamu kenal, termasuk Morgan."


"Eh, beneran? Nggak deh, nanti berulah malah bikin acara kita kacau."


"Nggak deh kayaknya, aku sekalian undang Keluarganya kok, Mas 'kan kenal betul dengan ayahnya Morgan, nggak pa-pa kalau kamu mau undang dia."


"Seriusan? Aku terserah Mas aja deh kalau gitu, jadi nanti kita cuti berapa hari Mas, kuliahnya," ujar Shali memastikan.


"Tiga hari cukup, nggak usah banyak-banyak, kamu juga pasti banyak ngambil cutinya nanti," ujar Aka menerka-nerka.


"Dih sok tahu, Mas, habis resepsi pindahan ya, ini keinginan aku yang paling dalam," ujar perempuan itu mulai mendrama.


"Nunggu abah benar-benar pulih dulu, emangnya nggak pa-pa nanti kalau aku tinggal-tinggal ngajar di pondok sampai malam? Yang ada kamu bakalan takut sendirian, sayang," ujar Aka mencoba memberi pengertian.


"Nanti 'kan ada yang bantuin juga Mas, di rumah, ya kali aku di suruh sendirian ngerapihin semua muanya. Ah, pokoknya aku pengen mandiri, pengen belajar masak, pengen belajar nata ruangan sendiri, pokoknya gitu-gitu deh!" ujar Shali penuh imajinasi.

__ADS_1


"Iya-iya, nanti Mas pikirin lagi, iya sayang," ujar Aka pasrah.


__ADS_2