Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 75


__ADS_3

"Pak Aka? Hmm ... maksudnya Pak Ustadz?"


"Assalamu'alaikum ... Bu Widia?" sapanya sopan.


"Waalaikumsalam ... wah ... kejutan sekali bertemu di sini?" ujar Bu Widia ramah. Membalas dengan mengangguk sopan.


"Besok datang 'kan Pak, kami sangat terkesan dengan ceramah Pak Uatadz."


"Insya Allah, semoga tidak ada halangan suatu apapun."


"Pak Ustadz, boleh nggak kalau besok-besok saya main ke pesantren? Ingin belajar banyak sama Ustadz."


"Tentu saja boleh, dengan senang hati," jawabnya kalem.


Shali yang duduk persis di hadapannya hanya menyimak seperti terlupa. Perempuan itu mrengut sepanjang obrolan mereka. Aka pun sangat peka hal itu, pria itu sedikit lebih mepet duduknya, lalu merangkul bahunya.


"Perkenalkan Bu, ini istri saya," ujarnya tersenyum ramah.


"Wah ... masih muda ya, aku kira adeknya. Salam kenal, saya Widia. Kami teman sesama di komunitas hijrah, saya aktif di sana, kebetulan Pak Ustadz Aka ini yang sering mengisi kajian di sana," papar Widia rinci.


"Shali, Bu, panggil aja Shali." Perempuan itu menyambut uluran tangannya, keduanya saling berkenalan dan bertegur sapa.


"Boleh gabung sini ya? Kebetulan buat janji sama teman berhalangan datang."


"Iya, boleh," jawab Aka bingung. Masa menolaknya, sungguh tidak sopan.

__ADS_1


Shali sebenarnya mendadak kurang nyaman, ekspektasinya mau makan malam berdua di luar, tetapi nyatanya terjadi gangguan, mana orangnya ngobrol terus dengan suaminya, membuat Shali gemas sendiri.


"By, suapin dong ... kayaknya lebih enak makan dari tangan kamu," ujar Shali manja.


Aka menatap heran istrinya yang tidak biasa terlalu menempel, apalagi meminta sesuatu lebih dulu. Senyuman manisnya merekah di pipi. Pria itu pun menurut, walau sedikit merasa aneh, tetapi Aka tidak banyak bertanya.


"Aku mau makan punya kamu, By." Shali malah merusuh makanan suaminya, alhasil mereka bertukar mangkuk dengan makan bebarengan. Tidak membiarkan atensi pria itu tercurahkan untuk orang lain.


"Mas, aku kenyang," ujarnya menolak suapan entah yang ke berapa. Aka menghabiskan sisanya dengan tanpa risih. Makan berdua itu rasanya makin nikmat, kalau kata mereka yang tengah jatuh cinta, semua terasa manis walau bekas mulutnya.


"Maaf, Bu Widia, saya duluan," ujar Aka kemudian setelah membayar pesanan. Takutnya kemalaman merasa kasihan dengan istrinya.


"By, aku ngantuk, kita pulang saja ya, tapi aku pingin beli pembalut dulu, takut besok-besok tiba-tiba datang bulan."


"Iya deh, lagian aku capek," keluh perempuan itu. Dalam hitungan menit mobil melaju, terlihat Shali sudah tertidur, membuat Aka mengoceh sendiri karena ditinggal tidur. Aka pun menggeleng kecil seraya tersenyum, terlihat sangat manis dan menggemaskan istri kecilnya. Yang kadang lebih agresif, tetapi kalau boleh jujur pria itu menyukainya.


"Dek, beneran nggak konek, sayang, sayangnya Mas Aka," ujarnya lembut, seraya mengelus-elus pipinya dengan punggung tangannya.


Berhasil, dalam sekejap, mampu mengusik tidur istrinya.


"Maaf, aku mengganggu mimpi indahmu, sayang," sesal pria itu menatapnya lekat.


"Hah, udah sampai ya Mas," ujarnya mengerjap beberapa kali.


Shali dan Aka masuk ke kamarnya, bersih-bersih, menarik selimut lalu membungkus keduanya.

__ADS_1


Dini hari tepat pukul setengah tiga, Aka seperti biasa terjaga. Pria itu segera bergegas turun dari ranjang, menilik istrinya sebentar, mengecup keningnya sekilas lalu beranjak.


Aka tengah bersiap-siap menunaikan sholat tahajud, pria itu sudah menggelar sajadah di tempatnya. Jam segini suasana pondok sudah ramai. Lampu-lampu kamar santri sudah menyala mereka semua akan menunaikan jamaah tahajud bersama-sama.


Shali merasa ada sesuatu yang mengusik, ia meraba kasur bagian suaminya, ternyata kosong. Perempuan itu membuka matanya dan menemukan Aka hendak tahajud di tempatnya. Bergegas ia turun, menuju suaminya. Mengetuk pundaknya perlahan, lalu berkedip lembut dengan senyuman.


Pria itu menoleh, menemukan istrinya di sana. "Kamu sudah bangun?" tanyanya merasa heran.


"Ikut jamaah Mas, tungguin ya, aku wudhu dulu," ujar perempuan itu bergegas ke kamar mandi. Dua rakaat dini hari itu mereka tunaikan bersama. Semua terasa begitu nyaman dan menentramkan. Hatinya begitu damai. Pria itu menoleh setelah bermunajat doa panjang nan khusuk.


Mencium kening istrinya lama, balas meraih tangannya dan mencium takzim punggung tangan suaminya.


"Dek, aku seneng banget kalau dini hari kamu jadi makmum aku kaya gini," ujarnya tersenyum bangga.


"Kenapa tadi nggak bangunin aku, By, padahal udah niat banget."


"Sebenarnya pengennya gitu, tapi kamu terlihat begitu nyenyak, sepertinya kamu kecapean."


"Iya, aku cukup lelah, tetapi aku senang," ucap Shali sambil meluruskan kakinya.


"Sini aku pijitin ya," tawar pria itu lembut.


"Nggak usah, Mas 'kan juga pasti capek."


"Lelahku menjadi lillah setiap membersamai kamu, sayang. Terima kasih sudah menjadi pelengkap dalam hidupku," ujarnya seraya bergerak menekan lembut di kakinya.

__ADS_1


__ADS_2