Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 72


__ADS_3

"Mas, stop Mas, iya aku nyerah, aku nyerah!" Shali sampai lemas akibat ulah Aka.


"Dek, minggu depan ke puncak yuk, atau ke mana aja, seru tuh kayaknya."


"Emang nggak ngajar, perasaan Mas sibuk di pondok."


"Iya, tetep ngajar, tetapi kan banyak, aku ambil seminggu empat kali, biar sisanya banyak waktu sama kamu. Nanti ada teman-teman dari pesantren yang ditunjuk abah langsung untuk mengajar adik-adik di sana."


Saat mereka tengah asyik mengobrol, vibrasi handphone Shali memekik. Keduanya sontak bersamaan menyorot ponsel yang berdering di atas nakas.


Shali mendekat, suaminya ikut mengekor bersiap menguping obrolan mereka.


"Azmi, mau ngapain tuh bocah telepon?" tanya Aka penuh selidik.


"Aku keluar dulu ya Mas, sepertinya Azmi butuh teman untuk sekedar mengobrol."


"Eh! Pelanggaran nih orang, nggak bisa dong, Dek, masak aku ditinggal sendirian di kamar. Kamu lebih milih Azmi dari pada aku?" Aka mulai mendrama.

__ADS_1


Shali bergeming, menyorot suaminya lekat. Berjinjit dengan sedikit mencondongkan tubuhnya, lalu mempertemukan bibir mereka. Perempuan itu memagutnya penuh perasaan.


"Udah, aku cuma mau ngobrol sedikit, dengan jarak yang cukup aman, Mas kalau mau ikut ya boleh aja sih, tetapi pasti membuat obrolan kita nggak nyaman."


"Berdua-duaan itu nggak boleh, Dek, yang ketiga saitan, apalagi ngobrolnya sama mantan. Biarkan kata kamu nyogok aku dengan desaha@n paling sensional tetap saja, sama saja, jawabannya. Big no! Gini aja ya, kalian mending teleponan, biar aman, lagian Azmi mau ngapain sih, aneh banget pingin ketemu sama kamu?"


"Ini mau nanya, jadi sia-sia dong aku sampai berjinjit penuh perjuangan dan menekan malu demi nyosor ke bibirmu, makannya dibolehin, kalau nggak dibolehin ya udah nggak pa-pa," ujarnya pasrah.


"Eh, satu lagi, Azmi itu bukan mantan aku, Mas, kamu sok tahu!" sambungnya menggerutu.


"Sama aja, kalian tuh udah termasuk menambatkan hatinya secara terang-terangan, itu judulnya tetap dosa karena mendekati pacaran, malah bisa dibilang begitu walaupun kalian jaga jarak aman. Itu cuma menurut versi pandangan kalian, secara harfiah kalian tuh sudah menyalahi aturan, sebagai umat muslim yang taat seharusnya menjaga pandangan, dan semuanya dari laki-laki yang bukan mahromnya."


"Iya Ustadz, siap Ustadz," seloroh Shali seakan mendapatkan siraman rohani.


Mereka berdua tengah berdebat sengit, sesuai obrolan ketika pintu kamar mereka diketuk. Shali dan Aka saling melirik, tak berselang lama suara Azmi terdengar dari luar kamar mengucapkan salam. Aka dengan cepat menghampiri, Shali mengekor tepat di belakangnya. Mereka berdua menjawab salam serta membuka pintu kamarnya.


Azmi berdiri tepat di depan pintu, dengan tas punggung yang ia jinjing. Tersenyum mengangguk pada keduanya.

__ADS_1


"Bang, pinjam istrinya boleh?" pinta Azmi tanpa merasa berdosa. Pria itu tersenyum ramah pada pasutri yang tengah berdiri tak jauh dari pintu.


"Mau ke mana?" tanya Aka penuh selidik.


"Cuma di pinggir kolam, Bang, Abang mau ikut?" tawar Azmi ramah.


"Jangan deket-deket, nggak boleh juga sih sebenernya, emang mau ngapain sih?" Aka terlihat kesal.


"Mau ngajakin diskusi, Abang nggak lihat aku bawa laptop, kita mau nugas. Di gazebo pinggir kolam, boleh juga sih kalau abang berkenan jadi tutor," ujar Azmi santai.


"Sha, ayo ... senyuman Bang Aka itu tandanya setuju."


"Oke, makasih hubby," jawab Shali berjingkrak senang.


"Sok tahu kamu," cibirnya sebal.


Shali masuk kembali mengambil laptop dan teman-temannya. Mereka berjalan keluar.

__ADS_1


"Dek, ikut ....!" seru Aka bergegas.


__ADS_2