
"Alhamdulillah ... akhirnya, umma udah siap?" tanya Aka meyakinkan.
"InsyaAllah siap, Abi sayang .... " Shali menjawab dengan yakin. "Tapi pelan aja ya, sebenarnya masih agak takut sih," sambung perempuan itu jujur.
Aka menyorot dengan binar bahagia, "Ya sudah, aku keluar bentar ya, beli sesuatu yang mendesak."
"Oke, By, aku nitip seblak dong, enak kayaknya."
"Ikut aja gimana? Biar Tsabi sama suster dulu. Sekalian dinner romantis."
"Idenya bagus, tapi emang nggak ada jadwal untuk malam ini."
"Emang sepertinya rezekinya kita, kita nikmati berdua, gimana? Umma mau?"
Shali mengangguk dengan binar bahagia. Sedari sore sudah membuat Tsabi kenyang terlebih dahulu dengan memberi full ASI. Perempuan itu juga berdandan dengan penampilan yang tidak biasa setelah menunaikan jamaah sholat isya.
Aka yang baru pulang dari masjid dibuat terpesona dengan penampilan istrinya yang menurutnya begitu cantik.
"Masya Allah ... Dek, kamu udah siap? Cantik banget istrinya Akara Emir," ucapnya sembari mengikis jarak. Menempelkan bibirnya pada pipi kiri istrinya.
"Duh ... bikin semangat banget ini, mah. Gas ...!" Aka bergegas semangat empat lima.
"Bentar Mas, aku bilang ke suster dulu, nitip Tsabi. Aku belum ngomong."
Shali menyambar sling bag warna pink miliknya. Perempuan itu menuju kamar belakang menitip pesan untuk meninggalkan rumah.
"Sus, titip adek ya, mau keluar agak lama sama bapak, nanti kalau Tsabi kebangun kasih stok susu yang ada."
"Siap, Bu. Bu Shali cantik sekali, mau kencan ya Bu?" pujinya berseloroh.
"Hehehe, makasih Sus, berangkat dulu ya," pamitnya lalu.
"Ayo Mas, jangan digemesin nanti kebangun," tegur Shali mendapati suaminya memcium-cium pipi Tsabi dengan gemas.
__ADS_1
"Udah?" tanya pria itu mengalihkan pandangannya sebelum akhirnya mencium sekali lagi lalu beranjak.
Aka menggandeng tangan istrinya, mereka masuk ke mobil dengan saling melempar senyum.
"Ini beneran kita kencan? Kok berasa lucu ya?" Shali mengungkap polah keduanya saat mobil telah melaju membaur ke jalanan.
"Kencan versi halal, setelah menyandang gelar orang tua. Kamu deg degan? Kok aku exited banget ya? Hahaha."
Shali melirik dengan lirikan penuh cinta, Aka sampai gemas sendiri. Refleks tangannya mencubit gemas pipinya yang sedikit chuby itu.
"Aku masih kelihatan gendut nggak? Jawab jujur, jangan ada dusta di antara kita."
"Jujur ya? Kamu selalu seksi, nggak kok, pas! Sedikit montok iya," jawabnya seduktif.
"Ich ... Om Ustadz bisa juga ngomong gitu, pengen ketawa."
"Ustadz juga manusia, nggak pa-pa lah, 'kan vulgarnya cuma sama yang halal. Berapa ronde Dek, kita mampir ke apotik dulu ya?"
"Kamu maunya berapa? Asal pelan, Adek senang Abi bahagia."
"Eh, nggak gitu juga kali Pak, emang kuat tuh stamina?"
"Full charge dan full semangat. Insya Allah bisa lah bikin kamu melambaikan kata nyerah."
"Masak, pengen digemesin di ranjang tapi mode smooth. Awas aja main dobrak, pintunya ibarat bersegel, jahitan aku banyak."
"Duh ... rasa perawan lagi nih, udah nggak sabar pengen berpetualang."
Roda-roda kokoh yang bergulir berhenti di pelataran apotik dua puluh empat jam. Aka turun membeli sesuai apa yang diinginkan, sementara Shali menunggu di mobil dengan nyaman. Setelahnya Aka kembali menyalakan mesin mobilnya, menuju sebuah restoran di kawasan hotel yang cukup megah.
"By, kita beneran ke sini? Ini kan mahal, makan di tempat biasa aja."
"Ini kan hari spesial, buat orang yang paling istimewa, jangan khawatir sayang, dompetku tebal," selorohnya mengerling.
__ADS_1
"Dih ... pesan tempat gini nggak bilang-bilang. Tapi terharu sih, semoga makin banyak rezekinya ya?"
"Aamiin, doa istri sholehah yang menyertai suaminya itu mustajab, Dek, sangat baik. Kamu emang pinter bikin adem hati."
Keduanya menikmati makan malam romantis di sebuah restoran mahal yang ada di kawasan Jakarta Barat. Layaknya pasangan sejoli yang tengah jatuh cinta, saling menyuap satu sama lain. Aka benar-benar paling bisa menjadikan ratu istrinya pada setiap kesempatan. Suami limited edition, hanya ada di mendadak nikah dengan Ustadz. By Asri Faris.
"Ayo umma sayang, gandeng tangan aku," ujar pria itu usai makan malam romantis.
"Kita langsung pulang 'kan?"
"Siapa bilang, aku udah cek in di sini," jawabnya santai.
"Hah! Beneran? Dih ... bisa banget punya ide gitu."
"Sambil mengenang saat-saat pertemuan kita yang juga di tempat yang serupa. Unik, di situlah Allah mempertemukan kita hingga pada akhirnya kita berjalan di lembaran yang sama."
"Iya Mas, nggak pernah lupa. Kamu 'kan super heronya. Duh ... melting nih. Mana nomornya sama lagi."
"Kalau ini kebetulan aja, sumpah nggak sengaja. Are you oke?"
"Yes, nggak masalah juga. Insya Allah siap lahir batin."
"Asyik ... bersih-bersih dan sholat dulu ya, biar makin tenang."
"Tapi aku nggak bawa, 'kan nggak tahu bakalan ke sini?" ujar Shali.
"Aku udah siapin semuanya kok, tas aku ini isinya barang berharga."
"Pantes, aku kira bawa-bawa apaan, tapi kamu emang paling bisa sih Mas. Love you deh."
"Me too."
Mereka mengambil wudhu, menunaikan sholat sunah bersama. Setelahnya saling mengunci penuh tatapan sayang. Aka membisikkan doa kebaikan sebelum memulainya. Menggendong tubuh istrinya yang masih berbalut mukena berpindah ke ranjang yang penuh dengan taburan bunga mawar.
__ADS_1
"Bismillah, assalamu'alaikum umma ... izin berkunjung ya, semoga setiap rasa yang kita lalui hari ini menjadi keberkahan dan rasa manis yang mendamaikan raga dan batin kita."