
Acara berlangsung hingga sore, jeda sebentar untuk ibadah, lalu kembali menyapa tamu undangan seasons dua. Shali benar-benar merasa lelah, Aka bahkan sempat takut istrinya kenapa-napa mengingat Shali kini tengah berbadan dua.
"Mas, aku ke kamar dulu ya, udah nggak ada tamu kan? Aku mau lepas ini!" tunjuk Shali pada riasan yang menempel pada kepalanya.
"Perlu diantar nggak?" tanya pria itu menatap iba. Istrinya terlihat sudah sangat tidak nyaman.
"Iya dong, inikan ribet pakaiannya."
Aka dan Shali memutuskan untuk istirahat setelah tamu tak ramai lagi. Perempuan itu langsung melepas pakaian yang memenjara dirinya seharian ini dengan hembusan lega. Menukar pakaian santai miliknya yang hanya boleh terlihat suaminya saja.
Tiba-tiba Shali merasa mual dan pening. Perempuan itu berlari cepat ke kamar mandi.
"Sayang, kamu nggak pa-pa?" pekik Aka khawatir. Pria itu menyusul istrinya yang nampaknya muntah-muntah.
"Perutku eneg Mas, sumpah aku capek banget," keluh perempuan jujur.
"Aku buatin teh anget ya, mau?" tawar Aka perhatian.
"Iya Mas, mau." Shali mengangguk sembari meraih tangan Aka yang bergerak mengangkat tubuhnya. Pria itu menggendong istrinya yang nampak lesu.
"Bentar ya, aku ambilin dulu, nggak usah keluar nggak pa-pa, biar Mas aja yang nemuin tamu, kamu kecapean," tegur pria itu perhatian.
Aka yang buat tehnya, namun mommy Disya yang mengantar ke kamar putrinya. Sekalian mau pamit katanya. Aka berujar terima kasih karena kebetulan harus menemui tamu yang datang belakangan.
__ADS_1
Hanya ada sedikit tamu tersisa, teman-teman Aka semasa kuliah baik di dalam negeri, atau mereka yang sempat bareng di Kairo. Mereka sengaja diundang dan baru sempat hadir sorenya. Lebih pada reuni kecil diantara mereka.
"Na, tolong panggilin orang dalam suruh buatin minum ya!" pinta Aka mendapati adik iparnya yang terlihat sibuk sendiri di area resepsi.
"Lagi sibuk ngevlog, ngonten Bang," jawab Zayyan tepat sekali.
"Siap kok Bang, bisa!" jawab Nashwa tanpa beban. Gadis itu langsung mematahkan pengakuan saudara iparnya.
"Za, pegangin handphone aku, jangan di cut ya, ikutin aku ke dapur terus apa yang ingin aku lakukan. Aku mau bikin minum buat tamu-tamunya Bang Aka, bisa nggak ya kira-kira. Hahaha."
"Bisa lah, masa' bikin minum aja nggak bisa."
"Ish, ini tuh tugas ibu negara yang riweh, harus penuh konsentrasi, bagaimana jadinya kalau aku salah berekspektasi. Ayo Za, ambil vidionya terus ya."
Nashwa heboh sendiri, nampaknya ia adalah gadis yang cuek, biar pun tetap menjaga sopan santun, Azmi dibuat pusing dengan tingkah konyolnya yang kadang tidak ada takut atau pun malu-malunya sama orang.
"Kamu yang buat Na, bisa? Bener nggak? Entar salah lagi masukin gulanya."
"Hehehe, iya Bang, semoga tidak salah alamat, salah masukin, dan salah pandangan. Hahaha. Fokus Mase, itu yang ditatap minumnya, jangan akunya yang cantiknya kebangetan," seloroh gadis itu nyengir demi melihat tamu-tamu temannya Bang Aka yang gagal fokus melihat bidadari kecil gentayangan.
"Adik kamu, Ka, boleh nggak kenalan," celetuk salah satu teman Aka yang terang-tetangan kagum pada gadis aktif itu.
"Iya, kebetulan banget tuh, sekalian tepe-tepe sama Pak Kyai, siapa tahu dapat jadi mantunya. Hehe." Mereka bernada guyonan. Tetapi memang sebagian besar terlihat kagum dengan Nana hingga berucap istighfar banyak-banyak.
__ADS_1
"Jangan pada naksir ya, sudah ada yang punya," jawab Aka serius.
Sementara Azmi terlihat kesal dan panas dengar suara-suara sumbang tamu kakaknya yang terang-terangan mengagumi Nashwa. Ingin sekali menyeret lalu memberinya hukuman, saking gemasnya melihat Nana yang suka di luar kendalinya.
"Istri kamu mana? Pak Ustadz, diumpetin mulu," celetuk salah satu temannya.
Yang dicari masih ngobrol santai bersama mommynya. Perempuan itu selalu merasa alot melepas orang tuanya pulang.
"Pulang dulu sayang, sehat-sehat ya, kalau capek istirahat saja!" ujar mommy Disya membuai dengan sayang putrinya.
"Capek sih, tapi nggak pa-pa, bentar Mom tak pakai hijab dulu, aku antar ke depan," ujar Shali seraya merapihkan pakaian dan hijabnya sebelum keluar kamar.
Mommy Disya sampai menyusul ke kamar karena memang pamit ingin pulang. Setelah memberikan wejangan-wejangan rumah tangga, perempuan itu pamit pulang karena hari sudah sore. Keluarga besar yang lainnya juga sudah pulang lebih dulu.
"Hati-hati Mom, Dadd, Bang Reagan!" Shali melambai dengan senyuman lembut di wajahnya.
Setelah mengantar orang tuanya sampai depan rumah, Aka juga nampak ikut menghormati dulu mertuanya dengan menyalim takzim mereka. Tangan kanannya merangkum bahu istrinya dan membimbing masuk rumah saat mobil orang tuanya sudah tidak terlihat.
"Sayang, mereka teman-teman Mas."
"Assalamu'alaikum ... silahkan dinikmati jamuannya."
"Waalaikumsalam, selamat ya ukhti atas pernikahannya, semoga senantiasa menjadi berkah, bahagia, berjodoh hingga jannahnya. Aamiin."
__ADS_1
"Aamiin!" koor mengaminkan dengan khusuk.
Setelah menggumamkan rasa hormat, perempuan itu meninggalkan Aka yang masih asyik mengobrol. Sementara Shali bergabung dengan Nashwa dan juga Zayyan yang masih sibuk dengan kegiatan absurdnya.