Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 120


__ADS_3

"Capek Mas," keluh Shali setelah semua serangkaian acara selesai. Mereka tengah berada di kamar bersiap untuk mengistirahatkan tubuhnya.


"Sini Mas pijitin, pegel kakinya kan?" Shali mengangguk.


Aka juga sama capek, namun mendengar istrinya merengek jelas ia tidak tega membiarkan begitu saja. Pria itu memijat hingga tertidur. Shali juga sudah terlelap damai lebih dulu.


Dini hari menyapa, seperti biasa Aka terjaga lebih dulu, kegiatan rutinnya selalu ia jaga kalau sedang tidak berhalangan.


"Sayang, bangun ... hai!" Seperti biasa Aka akan membangunkan istrinya, namun kali ini nampaknya Shali enggan beranjak dari peraduannya.


"Mas, aku tinggal aja ya, tubuhku kurang nyaman," keluh Shali merasakan perutnya bergejolak.


"Ya udah nggak pa-pa, Mas tinggal," ujar Aka beranjak ke kamar mandi mengambil wudhu.


Shali tidak bisa tidur lagi, rasa dingin yang menyeruak membuatnya serasa ingin muntah. Perempuan itu pun bergegas ke kamar mandi dan mengeluarkan isinya.


Aka yang baru saja menutup doa langsung beranjak menyusul istrinya yang nampak tidak baik-baik saja.


"Sayang, kamu nggak pa-pa?" tanya pria itu khawatir. Tangannya terulur memijat tengkuknya agar lebih nyaman.

__ADS_1


"Mual Mas, perutku eneg," keluh perempuan itu merasa sangat tidak nyaman.


Berkali-kali muntah hingga membuat isinya kosong, perempuan itu jelas lemes. Aka langsung menggendongnya ke kamar. Shali kesal sebenarnya jadi lemah, namun tenaganya benar-benar habis karena muntah.


"Mas, mau ke mana?" tanya Shali saat suaminya bergerak turun dari ranjang.


"Aku ambilin minuman yang hangat dulu ya, atau mau susu?" tawar Aka.


"Aku nggak mau makan, eneg Mas," keluhnya lagi. Shali langsung merebah merapatkan selimutnya, Aka mengecup dengan sayang.


Pria itu tetap beranjak membuatkan susu jahe, dan mengambil beberapa biskuit kesukaan istrinya. Membawanya ke kamar dan menemukan istrinya yang masih terjaga sembari memegangi perutnya.


"Kenapa? Sakit?" Aka jelas khawatir.


"Sabar sayang, nikmati prosesnya. Semua yang terjadi, rasa tidak enak dan tidak nyaman itu mengandung pahala kalau ikhlas menjalani. Adiknya pinter, dia akan tumbuh menjadi besar dan begitu menyayangi kita. Sabar ya?" ujar pria itu menenangkan.


"Minum dulu susunya, kata ummi ini ampuh untuk mencegah mual, perut kamu nggak boleh kosong, jadi ngemil dulu biar tetap ada isinya. Atau mau makan mau?" tawar Aka telaten.


Shali menggeleng saja, pria itu mengumpulkan mahkota istrinya yang tergerai agar tidak menghalangi wajahnya lalu mengaretinya. Shali menurut saja, ia menghabiskan segelas susu jahe dan beberapa biskuit lalu kembali merebah tapi di pangkuan suaminya sebagai bantalan.

__ADS_1


"Gimana rasanya? Udah nyaman, nggak eneg lagi?" tanya Aka sembari mengusap lembut kepalanya.


"Mendingan Mas, aku tidur lagi ya?" ujar perempuan itu sembari memeluk suaminya.


Akan mengiyakan sembari mengelus kepalanya dengan sayang. Mulutnya sibuk melantunkan ayat-ayat Allah. Pria itu masih dengan posisi duduk bersender pada kepala ranjang. Hingga menjelang subuh, kembali membangunkan istrinya dan memimpin jamaah subuh di masjid.


Shali sendiri memilih sholat di kamar. Tidak ada aktifitas yang berarti setelahnya ia pun memilih kembali ke ranjang. Berhubung masih mengambil cuti dua hari ke depan. Mereka kembali berkumpul di meja makan saat hari menjelang sarapan.


Terlihat semua keluarga nampak berkumpul di sana, masih ramai karena semua anak ummi masih berkumpul pagi itu. Mbak Aida dan suaminya juga masih menginap di rumah. Namun, ada yang belum terlihat, nampaknya pasangan pengantin kecil itu tengah sibuk sendiri, karena tidak hadir di sana. Iya Azmi dan Nana belum terlihat bergabung di meja makan.


Suasana masih begitu hangat, kekeluargaan nampak begitu terasa. Tak mengurangi rasa hormat Aka pada keluarga, pagi itu ia mengutarakan maksud yang ingin singgah ke rumah baru. Bukan yang diberikan mertuanya, namun rumahnya sendiri yang sederhana.


"Ummi, Abah, rencananya besok Aka dan Shali akan menempati rumah Aka, Ummi. Kemarin sudah dibersihkan setelah direnovasi beberapa bagian," kata Aka disela makan.


Abah dan Ummi mengiyakan saja, toh rumah itu tidak jauh dan masih satu kawasan dengan pesantren. Hanya saja sudah keluar dari gerbang utama karena letaknya berada di sebelah Hasan mart dan bengkelnya Azmi. Mau tidak mau, suka tidak suka mereka bertetangga lagi, namun tidak akan menjadi masalah, toh keduanya sudah sama-sama punya pasangan.


Shali menurut saja, mengapa tidak ambil rumah yang diberikan daddynya. Menurut pertimbangan, diambil yang paling dekat dengan pondok, mengingat istrinya tengah hamil dan sedang belajar mandiri jadi Aka tidak begitu khawatir jika harus ditinggal sendiri. Kegiatan di pesantren juga tetap aktif seperti biasanya.


"Nggak pa-pa 'kan kalau sementara tinggal di sini dulu, nanti kalau anak kita sudah besar terus butuh tempat yang lebih luas baru kita pindah ke rumah pemberian daddy ya?" bujuk Aka.

__ADS_1


"Nggak pa-pa, By, di sini terus juga nggak pa-pa, ini tempatnya nyaman kok, yang pentingkan bersih. Lagian cuma kita berdua, jadi belum terlalu butuh rumah yang besar."


Saking semangatnya, Shali ikut sibuk pindahan. Perempuan itu yang mengatur tatanan ruangan seperti versinya. Semua cat tembok rumahnya berdasarkan kesukaan Shali, benar-benar sesuai imajinasinya. Tempat yang nyaman, dan keluarga kecil yang bahagia.


__ADS_2