
"Mesumnya cuma sama kamu kok, Dek, habisnya gimana kamu tuh ngegemesin, bikin nagih," jawab pria itu tersenyum.
Shali sibuk menata degub jantung yang jedag jedug karena ulah suaminya ketika vibrasi ponselnya memekik. Tangan perempuan itu terulur, menyambar ponsel di atas nakas, menemukan nomor baru di sana.
Perempuan itu memicing, menatap layar ponselnya dengan tanda tanya, membuat Aka yang melihat raut wajah istrinya ikut bertanya-tanya.
"Siapa, Dek, kok nggak diangkat?" tanya Aka sembari mengambil sikap duduk.
"Nggak tahu, Mas, nomor baru, biarin aja lah, iseng paling, kalau penting juga pasti nanti hubungi lagi," jawab Shali cuek. Kembali menaruh ponselnya di tempat semula.
Benar saja, baru sejenak perempuan itu mengambil napas panjang, terdengar notifikasi pesan menyambangi benda pipih itu, membuat atensi Shali dan Aka bebarengan menatap benda kesayangan sejuta umat itu. Tangan Aka selangkah lebih gesit meraih alat komunikasi berlogo setengah apel digigit itu lalu menemukan nomor berderet mengirim pesan.
Pesan yang masuk membuat mata Aka melebar dan sedikit kesal. Siapa gerangan yang merusuh di pagi hari. Membuat suasana hati tak nyaman saja.
"Siapa, Mas? Kok muka kamu gitu?" tanya Shali yang merasa mendadak tidak enak. Aka menatapnya tajam.
[Hallo sayang, apa tidurmu nyaman setelah pertemuan kita yang cukup berkesan kemarin? Ingatanku bahkan tak bisa berpaling sejenak pun dari wajah ayumu.]~087XXX
"Ini nomor siapa? Maksudnya pertemuan berkesan itu apa, Dek?" tanya Aka posesif.
__ADS_1
Shali langsung merampas ponsel di tangan Aka tak sabaran. Melihat siapa gerangan yang lancang mengirim pesan ke ponselnya hingga membuat Aka begitu curiga.
"Astaghfirullah ... aku nggak tahu nomor siapa, tetapi kemarin aku sempat ketemu sama Morgan," jawab Shali dengan muka bingung.
"Kamu ketemu sama pria lain, terus nggak ada ngomong apapun sama aku?" terdengar nada kesal di sana.
"Nggak sengaja, Mas, kemarin tuh aku mau cerita, namun takut merusak suasana, lagian aku lupa segalanya saat kamu—ah sudahlah." Shali hendak bangkit dari kasur namun Aka menahannya. Pria itu menatapnya lekat penuh intimidasi.
"Ceritain, Dek, aku mau dengar," ucap Aka seraya mengikis jarak.
"I-iya Mas," jawabnya sembari mengatur degub jantung yang mulai rancak. Jujur Shali masih sangat grogi didekati suaminya dengan jarak yang begitu dekat, apalagi tatapan matanya penuh kilatan yang berbeda, membuat sekujur tubuh perempuan itu meremang seketika.
"Lalu apa, Dek? Apa dia menyentuhmu?" tekan Aka tak sabaran. Tersirat aura marah pada dirinya.
"Dia bilang—katanya suatu hari nanti pasti akan berakhir di ranjang yang sama. Aku takut Mas, aku langsung pulang sama Izza kemarin."
Mata Shali mulai berkaca-kaca membuat seketika gemuruh di dada Aka padam dan menarik tubuh istrinya dalam pelukan.
"Tidak akan terjadi apapun jangan takut, dan jangan khawatir, Mas bakalan jagain kamu di sini. Lain kali hal seperti itu dibicarakan, jangan dipendam sendiri. Kamu hati-hati, dia pada level berbahaya. Mulai sekarang jangan pernah pergi sendiri, untung kamu sama teman kamu. Kenapa bisa bareng gitu jenguknya?" tanya Aka penuh selidik. Mengurai pelukan itu dan merangkum bahunya.
__ADS_1
"Dia sepupuan sama Molly, Mas, aku nggak tahu, tetiba kita jenguk tuh orang sudah ada di sana, kita nggak mungkin juga berbelok, orang baru masuk."
Aka tidak boleh tinggal diam, anak filsafat itu sudah cukup meresahkan dan mengganggu ketentraman hati istrinya, dan cukup mengusik ketenangan batin dirinya. Kendati demikian, pria itu tidak bisa mencampur adukan urusan kampus dengan urusan pribadi. Membuat pria itu lebih mawas diri menjaga amanah dari Tuhan yang begitu ia jaga.
"Mas, kamu marah?" tanya Shali bingung, Aka terlihat banyak pikiran.
Aka menggeleng, "Marah itu pasti ketika titipan kita yang paling baik terusik oleh orang lain yang sengaja menyebarkan kebencian dan huru hara. Aku bakalan tangani ini semua, tindakan Morgan itu sudah meresahkan dan cukup mengusik ketenangan orang lain, aku ingin melaporkannya. Chat dari dia jangan dihapus, aku perlu bukti yang banyak untuk menguatkan laporan terkait," ucap Aka yakin.
"Kamu serius? Terima kasih, Mas, kejadian di Gayatri waktu itu sebenarnya Morgan hampir melecehkan aku di kamar hotel, beruntung aku bisa lari dari tangannya dan berakhir terdampar denganmu di kamar hotel yang sama."
"Apa!" Aka terlihat lebih syok mendengar statment istrinya.
"Kenapa keluargamu diam saja, tidak melaporkan ini semua?"
"Aku sudah berusaha, namun tidak punya cukup bukti yang tertinggal. Bahkan vidio kedatangan kami dilenyapkan, atau tidak ketangkap kamera CCTV di sana. Aku pikir ada hikmahnya juga, aku jadi nikah sama kamu, akibat insiden itu."
"Hmm ... sekarang jawabannya udah beda, kemarin nangis-nangis nggak mau nikah sama aku, kayaknya sebel banget lihat muka gantengku," seloroh pria itu.
"Ya itu—aku masih kaget harus menikah secepat itu, dengan pria dewasa sepertimu lagi, sungguh meresahkan!" jawabnya jujur.
__ADS_1
"Meresahkan gimana? Hmm?" Aka mengikis jarak.