
Pria itu tersenyum, perlahan membuka mukena yang masih menutupi tubuh istrinya. Kedua netranya menyorot lembut, jari-jemari tangannya merengkuh ke kedua pipi. Mengusap lembut penuh damba. Tak perlu menunggu lama, kedua pemilik labium itu saling menyapa penuh minat. Kembali menyatukan napas 1mereka. Mengekspresikan cinta dengan tautan yang memabukan.
Hingga tubuh itu terasa rapat, melayang penuh damba. Keduanya hanyut dalam madu asmara pernikahan. Kamar yang terangkai begitu menawan, seakan menjadi saksi malam mereka yang penuh gelora keindahan. Satu persatu kelopak bunga yang berserakan rapih di ranjang, terjun bebas begitu saja seiring aktifitas pergumulan sepasang halal yang tengah mengekspresikan rindu mereka, akhirnya syahwat itu tersalurkan tiba di tempat yang seharusnya.
Indah, damai lagi tenang. Saling menatap dengan senyum bahagia di antara keduanya.
Sejoli halal itu menatap penuh rasa kepuasaan dan syukur. Aka terlihat begitu bahagia, sedang Shali seperti biasa, tersenyum lembut seraya meringis ngilu. Mereka baru saja melewati malam panjang perdana setelah kelahiran anak pertama mereka.
Aka masih membuainya dengan sayang, mencium-cium mahkota indah istrinya yang tergerai cantik dalam pandangannya.
"Capek nggak?" tanyanya seraya merusuh lembut di pipinya.
"Ngilu, perih, pegel-pegel, ada takut-takutnya persis kaya malam pertama, tapi bikin candu," jawab Shali malu-malu. Rona merah jambu menghiasi wajahnya yang terlihat lelah. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Pipinya memanas, sungguh pembicaraan yang begitu menjurus.
Aka senyum-senyum sendiri tidak jelas, pria itu mengelus mahkotanya seraya mencium puncak kepalanya dengan sayang. Shali sendiri masih di posisi yang sama, memeluk posesif tanpa sekat diantara keduanya.
"Mas, gendong aku, aku mau ke kamar mandi, sungguh tidak nyaman untuk berjalan. Kita tidak bisa menginap untuk malam ini, kasihan Tsabi perlu ASI aku malam ini," ucap perempuan dengan manjanya.
Aka mengangguk setuju, pria itu membawa kekasih halalnya ke kamar mandi. Menurunkan perlahan, mengarahkan istrinya untuk mendahului mengguyur tubuhnya. Saling membersihkan diri bersama, setelahnya kembali memakai pakaiannya dengan rapih.
"Bisa jalan sayang?" tanya pria itu sembari berkemas. Mereka berjalan pelan keluar dari kamar hotel.
__ADS_1
"Aman, walaupun tahu sendiri lah ya, kamu memang jagonya bikin aku kepayahan."
"Aku pakai mode yang paling smooth, takut kamu menjerit, tadi aja hampir penuh memenuhi ruangan.
"Apanya?"
"Suara seksimu yang pasti hanya aku yang mendengar."
"Astaghfirullah ... menggelikan sekali. Diem By, kita sedang di tempat umum."
"Hmm, siapa juga yang bilang di kamar. Kalau mau nambah ronde di rumah aja. Alon-alon, masih rapet seasons kedua." Aka terkekeh pelan. Menuju mobilnya dan bersiap pulang.
Cukup malam keduanya sampai di rumah, mungkin hampir di pertukaran hari. Shali langsung menyambangi kamar anaknya yang ada susternya juga yang berjaga. Sementara Aka langsung menuju kamarnya.
"Aman Bu, minum susu sekali terus tidur lagi," jawabnya sayu. Sepertinya suster juga sudah tertidur tadi.
"Ya sudah, terima kasih ya, silahkan kembali istirahat, Tsabi biar tidur sama saya," ujar perempuan itu menggendong putrinya dan memindah ke kamarnya.
Shali langsung membaringkan Tsabi di box yang berada di tak jauh dari ranjangnya. Sementara Aka sendiri terlihat sibuk baru saja mengganti pakaian tidur.
"Umma, mau ke mana lagi?" tanyanya demi melihat istrinya yang belum tenang.
__ADS_1
"Jalan kamu tuh lucu, istirahat sayang besok lagi."
"Haus," jawab perempuan itu lalu.
Aka ikut mengekor istrinya yang keluar dari kamar. Mengambil pompa ASI elektrik lalu kembali ke kamarnya. Sementara Aka sengaja membuatkan teh manis hangat untuk istrinya.
"ASI aku penuh Mas, harus dipompa biar nyaman sebelum tidur, sakit kalau terlalu penuh," curhatnya sembari membuka bagian depannya.
"Perlu bantuan," ujarnya mengerling seraya duduk tepat di sampingnya. "Ini minum dulu, sayang, tadi katanya haus?" Aka sengaja membantu istrinya mendekatkan gelas ke mulut istrinya.
"Manis banget sih By, makin cinta deh aku. Abi tidur duluan aja."
"Tehnya kemanisan? Mau diganti? Belum ngantuk."
"Bukan, perilaku kamu yang manis." Aka tersenyum mendengar ucapan istrinya.
"Kalau dipompa gitu, sakit ya Dek?"
"Sudah mulai bersahabat, Mas. Aman," jawabnya santai.
"Biar aku yang mengemas ini, kamu bersih-bersih saja," ujarnya setelah melihat pergerakan istrinya selesai.
__ADS_1
Shali menurut, membersihkan diri, mengganti pakaiannya lalu menuju peraduannya. Sementara pria itu merapikan alat pemompa ASI, membersihkan, dan menyimpan susu yang baru ditampung dalam botol ke frezzer. Setelahnya menyusul istrinya yang sudah terbuai mimpi.