Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 96


__ADS_3

Azmi terkesiap dan langsung menekan remnya begitu mendapati gadis remaja itu tiba-tiba di depannya memblokir jalan.


"Astaghfirullah ... Na, kamu bikin aku kaget saja," keluh Azmi mengatur napas.


Gadis berseragam putih abu itu tersenyum imut menatap pria yang masih bertengger di atas motor itu. Ia berjalan mendekat seraya menenteng tas punggungnya.


"Eh, Na, kita nggak boleh berboncengan satu motor!" cegah Azmi tak setuju ketika Nashwa hendak naik ke atas motornya.


"Hish ... pelit amat, Gus!" Nana mencebik kesal. "Sekolahan sama kampus kita 'kan searah, jadi ... nebeng ya ya?" sambung gadis itu memohon.


"Bukan gitu Na." Azmi nampak bingung sendiri menjelaskan pada gadis bar bar itu.


"Ah, lama kamu mah!" hardik gadis itu seraya naik ke atas motornya. Nashwa dengan percaya diri maksimal menempati jok penumpang dengan jarak nyaris tak ada dekat.


"Na, Na, kita nggak boleh gini, nanti bisa jadi fitnah, sesama kaum laki-laki dan perempuan harus ada batasan sebelum halal bagi keduanya."


"Aduh ... Bagus, ceramahnya nanti aja aku tuh udah mau telat, ini tuh sekolah baru, jadi ... aku harus tepat waktu," omel gadis itu panjang lebar.


Azmi jelas tidak nyaman dengan posisi ini. Ia yang kesehariannya menjaga adab pergaulan dan pandangan bagai tercemar dengan keberadaan Nana saat ini.


"Na, turun ya, aku pesenin taksi saja," ujar Azmi penuh solusi.


"Astaga! Ribet kamu Gus, tinggal gas tuh motornya, terus turunkan aku di depan gerbang, lama kalau masih harus nunggu taksi mah," rengek gadis itu menggerutu.

__ADS_1


Duh ... gimana nih, mimpi apa gue semalam pagi-pagi dihadang bidadari barbar kaya gini. Batin Azmi berkeluh.


Plak!


Satu timpukan tak terduga menempel pada pundak tegas pria itu. Membuatnya tergeragap jedad jedug akibat ulahnya yang begitu menempel, tak kunjung menyingkirkan tangan itu, tentu saja itu menguji kesabaran Azmi dan membuat pria itu gemas sendiri.


"Nana, kita nggak boleh berboncengan seperti ini, kita bukan mahrom!" bentak Azmi gemas sendiri.


Seketika Nashwa menangis karena merasa dibentak oleh orang lain. Gadis itu sungguh bar bar sekali, hingga membuat Azmi pusing sendiri.


"Astaghfirullahalazim, Nana, aku nggak maksud, duh ... kok malah nangis sih." Azmi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sepertinya ia akan mudah stress menghadapi bocah satu ini.


"Diem-diem nggak usah nangis, diem Na!"


"Oke, berangkat!" final Azmi mengambil jalan pintas.


Seketika Nashwa menghentikan tangisnya. Ia mendongak dengan binar asa bahagia.


"Kamu duduknya berjarak ya Na, jangan nempel-nemlel bukan mahrom!" peringatnya serius.


"Iya, bawel ih Bagus, aku sekat nih pakai tas punggung aku. Lagian tuh ya, baru kali ini gue nemu makhluk antik kaya lo, Abang gue tinggal di pesantren biasa aja, kalau lagi pulang ya banyak juga teman ceweknya," curhat Nashwa mengoceh sepanjang perjalanan.


Azmi melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sesungguhnya ia merasa sangat tidak nyaman, dalam hati ia berdoa pengampunan atas paginya kali ini. Sebenarnya jarak pesantren dengan sekolahan Nashwa tidak terlalu jauh, pun dengan kampus Azmi hanya bersebrangan jalan saja. Jadi, mereka memang satu arah bahkan bisa dikatakan satu area.

__ADS_1


"Makasih Gus, besok lagi ya?" selorohnya tanpa dosa. Azmi menurunkan gadis itu tepat di depan gerbang Madrasah Aliyah yang akan menjadi tempat Nashwa menimba ilmu.


Pria itu menatap punggung Nashwa yang bergerak menjauh dengan perasaan lega. Bisa-bisanya pagi tadi ia terperangkap remaja bar bar yang sungguh meresahkan.


"Astaghfirullah," gumam pria itu beristighfar banyak-banyak telah melamunkan wajahnya.


Disisi lain, Aka dan Shali sudah tiba di kampus sejak lima belas menit yang lalu. Keduanya masih sama-sama di dalam mobilnya. Shali yang enggan turun, sementara Aka yang tengah membujuk istrinya untuk semangat hari ini.


"Ayo sayang turun, kamu sebentar lagi ada kelas kan?"


Shali bergeming, dia tahu betul aturan dalam dirinya yang telah mereka buat dengan kesepakatan bersama. Walaupun sudah ada beberapa orang yang tahu mereka punya hubungan, tetapi di kampus mereka adalah dosen dan mahasiswa. Jadi sudah pasti setelah keluar dari mobil mereka akan bersikap profesional layaknya pengajar dan mahasiswi.


Perempuan itu menghela napas panjang. "Iya Mas, hati-hati ya, baik-baik di sana, kabari aku jika sudah sampai. Aku pasti kangen banget sama kamu," ucap Shali sembari mengulurkan tangannya.


Aka menerima uluran tangan itu, Shali menciumnya dengan takzim. Seperti biasa pria itu membalas dengan mencium keningnya. Lalu tersenyum dengan teduh.


"Assalamu'alaikum ...." pamitnya.


Saat perempuan itu hendak turun dari mobil, ia terkesiap karena Aka kembali menariknya dan langsung menyerang dengan lembut bibir istrinya. Memagut dengan penuh semangat, hingga keduanya sama-sama merasa harus menyudahinya karena durasi.


"Aku pasti akan sangat merindukanmu, tolong jaga cintai ini, perasaan ini, dan pesan dariku. Aku mencintaimu, tunggu aku kembali. I love you." Aka kembali mengecup pucuk kepalanya yang terbalut hijab.


"Me too," ucapnya seraya beranjak.

__ADS_1


__ADS_2